RSS
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

FIGHTERS - KONAS ARSABAPI 2014 - SOLO



Ahad, 31 Mei 2015

Pagi-pagi dapet remainder dari my besties (Imee) via bbm, “Tau ga sieh, ini tepat 1 tahun kita ke Solo 31 Mei 2014, pas juara umum, kangen ku suasana kayak gitu, perjuangan yang mengesankan.” Hahahahaha... Seketika itu group chat room langsung ber-chit chat ria.

Pikiranku berjalan mundur, flashback 1 tahun yang lalu. Melihat kembali potret-potret perjuangan dalam mengikuti “Kongres Nasional ARSABAPI (Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Paru Indonesia) 2014” yang bertempat di Surakarta – Solo. Banyak perlombaan yang kami ikuti sebagai kontingen dari Duta RS Paru Jember, diantaranya : Lomba Penyuluhan, Lomba Kreasi Tari Cuci Tangan, Lomba Poster, Lomba Senam Asma, dan Lomba Kreasi Seni.

Jauh dari pikiran kami untuk menjadi juara umum dalam acara tersebut, yang notabene diikuti oleh seluruh Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Paru se-Indonesia. Boro-boro berkhayal jadi juara umum, pokoknya mah pas balik ke RS ada sesuatu yang dibawa gitu aja, meskipun cuman thropy juara 3. No more... Hahahaha...

Perjuangan kami tak semulus apa yang Anda bayangkan lhoo... Ada pihak yang tidak mendukung, juga tak sedikit pihak yang mendukung, dimana acara tersebut tak menghabiskan sedikit biaya. Well, tapi itu tak menurunkan semangat juang kami untuk membuktikan bahwa perjuangan dan hasil jerih payah kami tak sebanding dengan nilai rupiah yang harus dikeluarkan. Keep fight guys!!! ;)

“Allah niku mboten sare, kita aja yang ketiduran” Hahahaha... Kata bijak tersebut mungkin sering kita anggap sepele, but it’s really happened to us. Yeah, semangat juang kami berbuah manis. Deru suara MC saat itu masih terngiang di telinga kami “Juara Umum Konas Arsabapi 2014 diraih oleh...RS Paru Jember!!!”

Euforia Champion seketika langsung menyelimuti kami, kontingen RS Paru Jember. Peluk haru, tangis bahagia tumpah ruah jadi satu. Gimana engga? Thropy Juara Umum yang jadi incaran setiap pasang mata peserta kini ada ditangan kami. Persembahan kami untuk Bapak Direktur RS Paru Jember, dr. Arya Sidemen SE., MPH, yang pada waktu itu beliau berhalangan mendampingi dan melihat kami secara langsung, dikarenakan kesehatan beliau yang sedang tidak stabil.

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT., bahagia sekali kami pulang disambut langsung oleh Bapak Direktur dengan kesehatan beliau yang mulai berangsur membaik. Rasa capek di perjalanan pun sirna, melihat senyum bahagia keluarga besar RS Paru Jember menyambut kemenangan yang kami bawa. Good Job Guys!!! b(^_^)d

Okeh, terlepas dari itu semua, bagi owner nih orang-orang yang turut berpartisipasi dalam satu kontingen sangat berpengaruh dalam mengobarkan semangat juang. Oppa & Omma Tedja (dr. Sutedja Wahjudi), tim manajerial dan driver (Nino, Mz Erwin, Mz Anjar), temen-temen duta (Mbak Ita, Mala Mele, Epit, Mak Bowo, Hehehehe), specially sahabat-sahabatkuh (Misskumiss, Xhu Beng, Imee).

Kalian (my besties) mengalahkan egoku, yang notebene paling ga suka sama yang namanya tari-menari. Hahahaha... Robot menari itulah gambarannya. Takkan kupadamkan semangat juangmu dengan egoku. Ceileh... :D *tapiiniserius

Ayoo kita lanjutkan semangat juang ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hidup pasti ada orang yang suka dan tak suka. Tak usah kita hiraukan orang yang tak suka, karena mereka akan menghambat laju kesuksesan diri kita. Jadikan mereka pelecut semangat juang diri dan prestasi, karena hanya dengan itu mulut mereka bisa kita beli.

Sekian celoteh hari ini. Semoga banyak hikmah yang bisa diperoleh. Aamiin. See you, Guys!!!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

KEKAYAAN, KESUKSESAN DAN CINTA

KEKAYAAN, KESUKSESAN, DAN CINTA


Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjangggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata, “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut.”
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?” Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar,” jawabnya, “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali,” kata pria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam, “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,” kata pria itu hampir bersamaan. “Lho, kenapa?” tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan,” sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. “Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu?” Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberi tahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran.
“Oh... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.” Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab, sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan dagang kita.” Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
“Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.” Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka, “Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam, dan malam ini si Cinta menjadi teman santap malam kita.” Wanita itu kembali keluar, dan bertanya kepada 3 pria itu, “Siapa di antara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Oho... ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan, “Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?” Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan, “Kalau Anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka ke mana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Di mana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan, hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat menjalani hidup ini. Ke mana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.”
Di mana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya apa pun yang dikerjakan tanpa hati yang sungguh-sungguh tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Dengan cinta, kita akan dibimbing untuk selalu berjalan di jalan yang benar. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus.

(Budiono Lie || Viruzz Marketing : 28-30)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

CAHAYA DIATAS CAHAYA


"Nduk, Ibu senang kamu akrab dengan Amin. Abahmu juga setuju, karena dia santri. Jika kamu menyukai dia, mintalah dia lebih serius", pesan Bu Rahmah.

Mendengar penuturan ibunya, Sakina hanya bisa diam, membisu. Tak tahu, ia harus berkata apa tentang hubungannya dengan Amin selama ini. Keduanya memang teman karib sejak sama-sama mondok. Kini, mereka pun kuliah di universitas yang sama, hanya beda fakultas.

"Bagaimana caranya aku mengungkapkan rasa di hatiku ini? Tak mungkin kukatakan lebih dulu. Aku ini wanita. Tak punya kuasa untuk memilih. Aku hanya berhak menerima atau menolak. Namun, hingga kapan aku harus menunggu? Oh, Tuhan, tolonglah aku", pikir Sakina yang malam itu masih tidak bisa memejamkan mata.

***

Keesokan harinya, seperti biasa, Amin dan Sakina menikmati makan siang bersama di kafe kampus. Hanya saja, kali ini Sakina ditemani Fariha, teman sekelasnya.

"Kenalkan, ini teman saya, Fariha", ujar Sakina kepada Amin, orang yang sedari tadi mereka tunggu.

Ketiganya asyik menikmati nasi soto sambil mendiskusikan mata kuliah yang mereka pelajari. Fariha tidak seperti Sakina. Ia tipe wanita yang cepat beradaptasi, terbuka, humoris dan lekas akrab. Inilah barangkali yang menjadi alasan mengapa Sakina perlu memperkenalkannya kepada Amin agar ia bisa membantu menyampaikan isi hatinya kepada pria yang telah lama dicintainya.

Tapi ternyata, apa yang diinginkan Sakina, belum juga ia sampaikan, meski kepada Fariha, sahabatnya. Dia masih malu atau mungkin menunggu saat yang tepat.

Tanpa diduga, seminggu kemudian, Amin berkata kepada Sakina, "Entah kenapa, sejak pandangan pertama, aku seakan jatuh cinta kepada Fariha, sahabatmu. Maukah kamu menolongku untuk menyampaikan maksud hatiku ini kepadanya?".

Seperti mendengar petir di siang bolong, Sakina seakan tidak percaya, bahwa pria yang selama ini ia rindukan cintanya, justru berniat mencintai sahabatnya, Fariha.

"Kok diam sih, apa kamu sudah tidak setia kawan lagi ya dengan sahabatmu ini?", goda Amin kepada Sakina.

Sakina yang tadi tertunduk, kini mulai kuat mengangkat kepalanya. Ia berusaha tegar, meski hatinya tercabik-cabik. Amin tidak menyadari bahwa wanita di depannya itu sedang dilanda prahara cinta. Ada sebuah dilema yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

"Please, dong.... Bantu aku ya? Atau, aku tulis surat saja?", rengek Amin.

"Iya, insya Allah", jawab Sakinah, pendek.

"Nah, begitu dong. Ini baru namanya sahabat", kata Amin, kegirangan.

Selepas pertemuan itu, Sakina jarang mau diajak makan bersama di cafe. Ia masih berusaha menenangkan diri. Tiap kali bertemu Amin, ia selalu mendengar pertanyaan, "Gimana, apa sudah disampaikan?". Pertanyaan inilah yang membuat Sakina merana. Ia seakan dihadapkan pada buah simalakama.

***

Di tengah dinginnya malam, Sakina terduduk di tempat tidurnya. Seorang diri. Sementara itu, di luar jendela tampak rintik hujan mulai mengguyur bumi. Dalam sepi dan senyap, Sakina menengahkan tangannya.

"Ya Allah, bila Amin adalah jodohku yang terbaik, segera satukan aku dengannya dalam cinta. Bila ia bukan jodohku, tolonglah aku. Jodohkan aku dengannya dalam cinta yang suci dan terbaik menurut-Mu. Bukankah Engkau Maha Kuasa atas segalanya? Ampuni aku, bila aku meminta sesuatu yang seharusnya bukan hakku. Sebab, semua ini adalah milik-Mu".

Hanya munajat itu yang tersisa dari dalam sanubari Sakina. Harapannya yang lain mulai lenyap. Seakan ada tembok besar yang tiba-tiba menghadang langkahnya. Sebab, di atas meja komputernya saat ini, sedang tergeletak sebuah amplop berisi surat dari Amin untuk Fariha yang harus ia sampaikan.

Pada bagian luar amplop berwana merah muda itu, tertulis sebuah kalimat, "Untuk rembulanku, Fariha".

Tiap kedua mata Sakina menatap kalimat itu, hatinya seperti tersayat. Ia membayangkan, seharusnya dirinyalah yang menjadi rembulan itu, bukan sahabat karibnya. Tak kuasa menahan kepedihan, akhirnya, Sakina pun tertidur lelap.

Dalam mimpinya, Sakina melihat matahari, bulan dan bintang-bintang bertebaran di langit. Ia tidak tahu lagi, apakah saat itu siang atau malam?. Lalu, sayup-sayup ia mendengar suara, "Selama sang surya masih berputar pada porosnya, tenanglah".

Saat Sakina terbangun, ia tak segera bergegas ke kamar mandi. Gadis cantik itu masih berusaha mengerti maksud mimpinya. Adakah ini sebuah isyarat, atau sekedar bunga tidur yang lantas layu bersamaan dengan terbukanya kedua bola mata?

***

Pagi itu, hari tampak cerah. Sakina pun telah bersiap-siap berangkat ke kampus. Saat kakinya melangkah ke daun pintu, ia melihat di halaman rumahnya, telah berdiriseorang pria tampan yang selama ini ia cintainya.

"Mas Amin, kok tumben, ada apa?", tanya Sakina, sambil membuka pintu rumahnya.

"Iya, saya ingin menjemputmu dan berangkat bareng ke kampus", kata Amin.

"Bukannya saya menolak, Mas. Tapi, sudah biasa sih, berangkat sendiri", kata Sakina yang masih berpura-pura menolak, meski sebenarnya hatinya bersorak ria.

"Baiklah, saya tidak memaksa. Oiya, bagaimana dengan surat itu, apa sudah disampaikan?", tanya Amin.

"Silahkan masuk dulu!", ajak Sakina.

Tatkala Amin telah duduk di kursi teras rumah Sakina, sejurus kemudian, gadis berjilbab itu telah keluar lagi dari dalam rumah sambil membawa surat yang dimaksud.

"Oh, belum diberikan ya? Apa tidak sempat?", tanya Amin setelah mengetahui surat itu masih ada di tangan Sakina.

"Insya Allah, akan saya sampaikan hari ini. Tapi, sebelumnya, izinkan saya bertanya?", kata Sakina, seperti memberanikan diri.

"Mas, saya hanya ingin tahu, mengapa Fariha diserupakan dengan rembulan?"

"Yah..., wanita-wanita lainnya, yang bertebaran di langit, mereka adalah bintang-bintang. Biarkan mereka bersinar di angkasa raya. Akan tetapi, satu-satunya yang terdekat dengan saya, yang kelihatan terbesar, terindah dan paling bisa menerangi di malam hari, hanya satu orang. Dialah wanita pilihan, Fariha", jelas Amin, memaparkan argumennya.

Lalu, sambil menundukkan kepala, Sakina bertanya lagi, "Lalu, siapakah yang menjadi matahari, bila bintang dan rembulan telah ada? Bukankah sinar rembulan yang memancar di gelapnya malam dan juga kelap-kelip bintang, semua itu hanyalah percikan dari matahari yang terang benderang. Hanya saja, di saat malam, sang surya masih tenggelam di bawah kaki".

Tanpa sadar dan tanpa sengaja, bahkan seperti bercanda, Amin menjawab, "Mataharinya ya kamu itu, Sakina!".

Sontak Sakina terkejut. "Benarkah yang ia dengar barusan?" Amin pun demikian. Ia seperti terbawa arus hingga tak sadar menjawab dengan kalimat itu. Ia seperti lepas kendali dan tidak memahami, bahwa lisan yang tidak bertulang itu, bisa saja mengubah segalanya.

"Mas, bisakah diulangi lagi, siapakah matahari itu?", tanya Sakina, memberanikan diri. Tekadnya telah bulat. Rasa malu yang selama ini melilit tubuhnya, sudah lenyap begitu saja. "Nasi telah menjadi bubur", pikir Sakina. "Now or Never?" Cuma sekarang ia memiliki kesempatan untuk bertanya, atau tidak sama sekali dan akan menyesal untuk selama-lamanya.

Dengan suara terbatah, Amin menjawab:

"Bagaimana mungkin aku bisa mengulanginya lagi, bila sang surya berada tepat di depan mataku. Aku seperti orang buta, mataku benar-benar silau sehingga gadis yang pada hakikatnya selama ini terang benderang, justru tak terlihat seperti tertelan bumi".

Sakina menangis. Ia tak kuasa mendengarnya. Lalu, ia berkata:

"Bagaimana mungkin aku yang wanita dan lemah ini bisa menyatakan rasa dalam hati, bila Mas Amin adalah langit yang berada jauh nun di atas sana, di atas matahari dan tata surya lainnya?!".

"Jadi, selama ini, sampeyan juga mencintai saya?", tanya Amin.

Sakina hanya diam seribu bahasa. Di kedua pelupuk matanya, masih terlihat air mata berkaca-kaca.

"Jujur, sudah lama aku mencintaimu, wahai matahariku. Tapi, aku ini santri yang tak pernah sekalipun menyatakan cinta kepada wanita. Apalagi, cinta itu harus kusampaikan kepada sahabat terbaik dalam hidupku. Sehingga, selama ini, aku hanya bisa khawatir, bila cinta itu terucap, justru malah menjauhkan kita. Maafkan aku", kata Amin.

"Aku pun demikian. Maafkan aku", jawab Sakina.

Ada kehangatan dan bahkan kehidupan dari pancaran sinar matahari. Cahayanya begitu putih dan suci, menerangi segalanya. Ia begitu dekat hingga tak jarang dilupakan. Ia sangat menyilaukan hingga sering tak bisa dipandang. Kasih sayangnya cukup besar, memberi tanpa pamrih hingga tak mudah diingat dan sulit dimengerti.

Matahari itu adalah wanita sekaligus sahabat di atas sahabat. “Nurun ‘Alan Nuur”, Cahaya Di Atas Cahaya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

“KAMI INGIN MERINGANKAN TANGGUNGANMU”

R
asulullah Muhammad saw. lahir dalam keadaan yatim. Selang dua tahun beliau ditinggal wafat ibunya. Kemudian beliau diasuh Abdul Muthalib, kakek beliau yang seorang pemimpin Quraisy dan pengurus Ka’bah sekaligus sumur zamzam. Dua tahun kemudian kakek yang sangat menyayangi beliau juga meninggal dunia. Sebelum wafat, sang kakek berwasiat kepada salah satu anaknya, Abdul Manaf alias Abu Thalib untuk mengasuh Muhammad kecil.
Abu Thalib dipilih untuk merawat Rasulullah saw. bukan tanpa alas an. Padahal, ia bukanlah orang paling kaya di antara paman Nabi. Yang paling kaya : Al Abbas. Yang paling tua : Al Harits. Abdul Muthalib menunjuk ayah Ali bin Abu Thalib karena sikap kewibawaan di hadapan orang Quraisy dan rasa sayangnya terhadap Abdullah (ayah Nabi saw.). Ia merasa iba dengan keadaan putra satu-satunya adiknya itu.

Selalu Dilindungi
Kondisi ekonomi Abu Thalib serba kekurangan. Ia memiliki banyak anak, diantaranya Ali bin Abi Thalib rs. Saking cintanya, Abu Thalib terkesan lebih mengutamakan Muhammad saw. dibanding anak-anaknya sendiri. Hal yang sama dilakukan Abdul Muthalib. Agaknya Abu Thalib meneruskan gaya pengasuhan ayahnya ketika menjada Nabi saw. Suatu saat Muhammad saw. yang masih balita hendak naik ke dipan kakeknya di dekat Ka’bah. Seketika itu, para paman Nabi saw. melarang beliau karena dipan itu ibarat singgasana bagi Abdul Muthalib. Abdul Muthalib berkata, “Biarkan saja anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya ia akan memiliki kedudukan yang agung.” Kemudian Abdul Muthalib duduk bersama Muhammad saw. kecil sambil mengelus punggung Nabi saw.
            Demikian pula kasih sayang Abu Thalib. Ketika Nabi saw. masih berdakwah di Mekkah, Abu Thalib tetap melindungi Rasulullah saw. dari gangguan musyrikin Quraisy. Kendati tidak bersedia beriman, Abu Thalib tetap menyayangi Nabi saw.
            Pada tahun ke-10 kenabian, kaum musyrikin bersepakat untuk memboikot keluarga besar Nabi saw. Mereka tidak boleh diajak bicara, berjual beli, dan menikah selama 3 tahun. Orang-orang musyrik juga berusaha membunuh Nabi saw.
            Karena itu Abu Thalib dan keluarga besar Bani Hasyim, yang mukmin maupun tidak – kecuali Abu Lahab- tetap membela Nabi saw. Abu Thalib selalu mengkhawatirkan keadaan Nabi saw. Jika semua orang sudah berbaring di tempat tidurnya, Abu Thalib menyuruh Nabi saw. untuk tidur di tempatnya agar ia bisa tahu jikalau ada orang yang menyerang Nabi saw. Atau kadang ia menyuruh salah saorang anaknya untuk tidur di dekat Nabi saw. sambil tetap siaga.
            Sejatinya Nabi saw. selalu mengajak Abu Thalib untuk masuk Islam. Tapi Abu Thalib tetap menolak dengan alas an taat ajaran leluhur. Namun hingga akhir hayatnya ia tetap musyrik. Terkait ini, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat member petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al Qashash : 56).

Balas Budi
            Suatu saat Nabi saw. bermaksud mengasuh salah satu putra Abu Thalib. Setelah menikah dengan Khadijah dan punya kehidupan yang lebih baik, Nabi saw. ingin meringankan beban Abu Thalib. Ketika hendak mengasuh Ali, Nabi saw. berkata kepada salah satu pamannya yang lain, “Wahai Abbas, sesungguhnya saudaramu Abu Thalib punya banyak tanggungan dan kondisi masyarakat sedang sulit. Mari kita temui dia untuk meringankan bebannya. Aku ambil seorang anaknya dan engkau pun juga demikian.” Abbas menjawab, “Baiklah.”
            Lalu keduanya menemui Abu Thalib. Nabi saw. berkata, “Kami berdua ingin meringankan tanggunganmu.” Kemudian Nabi saw mengutarakan niat untuk mengasuh anak-anak Abu Thalib. “Jika kalian menyisakan Aqil (riwayat lain : dan juga Thalib) untukku, maka laksanakan apa yang kalian berdua inginkan.”
            Maka Nabi saw. memboyong Ali dan Abbas mengasuh Ja’far. Ali hidup bersama hingga masa kenabian. Ali termasuk pertama kali beriman (masuk Islam usia 10 tahun) dan bersama Nabi saw. dalam banyak medan jihad. Ia termasuk khalifah ke-4 Abu Bakar, Umar, Ustman. Pada 40 H, Ali wafat setelah ditikam seorang pemberontak yang menentang kepemimpinannya.
            Sedangkan Ja’far diasuh Abbas, masuk Islam dan kemudian hidup mandiri. Abbas termasuk paman Nabi saw. beriman dan sering mendampingi Nabi saw. dalam beberapa momen penting. Pun Ja’far demikian. Bahkan ia termasuk sahabat Nabi saw. yang ikut berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan juga ke Madinah. Pada 8 H, Ja’far gugur pada Perang Mu’tah melawan pasukan Romawi. Semoga Allah swt. meridhai mereka.

(Al Falah Edisi Mei 2011 : 12)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0