RSS
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

AGAMA, PENGENDALI EMOSI ANAK

T
antrum merupakan bagian dari proses perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Perilaku ini sebenarnya tergolong normal dan pasti akan berakhir. Namun jika keliru menyikapinya, kita akan kehilangan kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal semisal marah, frustasi, takut, jengkel, secara wajar.
“Emosi sudah menjadi bawaan setiap manusia. Dalam hal ini agama berfungsi mengendalikannya agar tidak salah jalan,” jelas Ustadz Tri Asmoro Kurniawan, Konsultan Keluarga Sakinah dari Solo.
Menurut Ustadz Tri, demikian ia biasa dipanggil, jika setiap keluarga Muslim memahami cara mendidik anak sesuai Al-Qur’an dan Sunnah tentu tidak akan keliru menghadapi anaknya pada fase tersebut.
Pendidikan agama hendaknya dapat mewarnai kegidupan anak, sehingga benar-benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi pengendali dalam hidupnya di kemudian hari.
“Selama ini orangtua hanya fokus pada kecerdasan intelektual anak. Sedang kecerdasan spiritualnya (agamanya) kurang diperhatikan,” sindir Konsultan Keluarga Nasional & Pembina Komunitas Keluarga Syariah Solo.
Menurut Ustadz Tri, kecerdasan spiritual seharusnya mendasari seluruh kecerdasan lainnya. Karena anak cerdas spiritual, tentu akan cerdas intelektual, emosional dan lainnya. Sementara anak yang cerdas intelektual belum tentu cerdas secara spiritual.
“Karena itu anak yang shalih jelas cerdas intelektual lainnya,” tegasnya.

Anak Shalih Pasti Cerdas
Ia menegaskan bahwa dalam hadits disebutkan bahwa orangtua cukup mendidik anaknya menjadi anak shalih. “Sayangnya banyak orang sekarang yang justru salah kaprah,” tegasnya. Ia kemudian mencontohkan adanya sekolah Islam yang tak puas dengan kata sholeh, akhirnya membuat moto “mencetak kader Islam yang sholeh, cerdas, kreatif serta mandiri dalam berkarya”
Padahal, ungkap Ustadz Tri, kalau kita kembali kepada makna shaleh itu sendiri, sudah mencakup anak yang cerdas, kreatif, terampil dan sebagainya, yang membawa kepada kebaikan, akhlakul karimah dan potensi diri.
“Jadi memahami anak shaleh hanya bisa membaca Al-Qur’an dan rajin shalat ke masjid tapi bodoh dalam masalah akademis dan keterampilan, itu adalah hal yang salah,” tukasnya.
Pemahaman terhadap pentingnya agama, menurut penulis buku-buku keluarga ini, harus dimulai pada anak usia 3-6 tahun, bersamaan dengan fase tantrum terjadi. Karena pada saat itu anak yang menghayati konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
Kehidupan pada masa ini anak masih dipengaruhi fantasinya hingga dalam menanggapi agama pun masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongen yang tidak masuk akal.
“Tujuan dari tahap ini untuk mempengaruhi tingkat emosi dan fantasi anak. Sebab ia akan mulai berfikir tetapi masih menggunakan daya halusinasinya,” terang pendiri Griya Keluarga Sakinah, Solo ini.
Menurutnya, peranan pendidikan agama dalam perkembangan anak bertujuan menciptakan pengendali dalam diri anak agar mampu membina pribadinya ke arah kematangan emosionalnya, sehingga menjadi manusia yang berakhlak mulia dan mempunyai daya intelektual yang tinggi.
“Keyakinan pada sang pencipta adalah hal penting yang harus diberikan kepada anak pada fase tantrum,” tandasnya.
Ia menjelaskan, keyakinan akan adanya sang pencipta atau Tuhan sebagai causa prima sangat membantu dalam membentuk pribadi anak yang baik. Jika anak sudah yakin akan adanya Allah, lebih mudah dinasehati dibanging anak yang tidak punya keyakinan adanya Tuhan.
Ketika anak emosinya tinggi misalnya, orangtua bisa mengatakan bahwa Allah tidak suka dengan anak yang suka marah. Allah senang dengan anak yang baik dan bisa mengendalikan emosinya.
“Dengan kata-kata seperti itu anak akan mudah diingatkan. Atau orangtua bisa menyuruh anaknya membaca ta’awudz agar marahnya hilang,” jelasnya.

Orangtua Jadi Teladan
Dan yang paling penting, menurut Ustadz Tri, orangtua harus menjadi teladan anaknya dalam bersikap dan bertindak. Keduanya merupakan contoh utama dalam perkembangan watak dan sikap anak. Sementara anak merupakan pengamat dan peniru yang baik.
“Anak akan mengamati dan menirukan apa yang dilihatnya dalam lingkup keluarga. Orangtua adalah role model bagi mereka,” ungkapnya.
Karena itu ia berperan agar sebisa mungkin orangtua selalu berusaha bersikap baik dan sopan di depan anak. Mereka harus sadar bahwa kemarahan anak yang cenderung agresif sebenarnya dapat disebabkan banyak hal, seperti mencari perhatian, janji pada anak yang tidak ditepati, dipaksa untuk disiplin, cemburu pada saudara, dan sebagainya.
“Jika orangtua menyikapi dengan bijak dan lemah lembut, maka anakpun akan menjadi baik hati dan lemah lembut,” pungkasnya.

(Al Falah, Edisi Maret 2017 : 8)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MILIKI FAMILY TIME, JANGAN SIBUK SENDIRI-SENDIRI



D
alam dunia cyber kita sekarang ini, coba perhatikan, satu keluarga yang tengah duduk bersama. Suami, istri dan anak-anak duduk, berkumpul bersama di ruang keluarga. Namun semuanya asyik sendiri-sendiri. Kadang tertawa sendiri-sendiri. Apa yang terjadi pada keluarga ini? Ternyata mereka tengah asyik dengan dunia masing-masing.
Suami asyik dengan Blackberry-nya. Istri dengan Samsung Galaxy-nya. Anak-anak asyik dengan iPad dan gadget-nya. Suami tengah membaca pesan yang masuk di group BBM teman-teman kerja, dan isinya postingan cerita yang lucu serta membuat tertawa sendiri. Istri sedang asyik membuka pesan-pesan di grup WhatsApp. Ada beberapa pesan masuk dari teman-temanya, yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Anak-anak asyik berkomunikasi dengan teman-teman mereka melalui Instagram.
Mereka duduk bersama, namun dunia mereka berbeda. Tampak seperti robot-robot yang tengah bercengkerama. Bertemu secara fisik, tapi hati dan pikiran melayang pergi ke dunia yang berbeda. Suami tengah berada di dunia yang diciptakan Blackberry Messenger. Istri tengah berada di dunia yang diciptakan WhatsApp. Anak-anak berada di dunia Instagram. Mereka tidak saling bicara, tidak saling menyapa, walau duduk berdekatan dalam ruang keluarga.
Bukan seperti itu family time. Waktu keluarga (family time) adalah waktu untuk mengobrol bersama, bercanda bersama, bermain bersama, beribadah bersama, atau berkegiatan bersama. Agendanya sama, hati, pikiran dan perhatian mereka terkonsentrasi bersama. Bukan bersama-sama duduk tapi agendanya sendiri-sendiri. Pikirannya sendiri-sendiri. Hatinya sendiri-sendiri. Asyiknya sendiri-sendiri.

Family Gathering
Jika kita datang ke toko mainan anak-anak di Indonesia, sangat banyak ragam mainan yang ditawarkan. Coba perhatikan, sebagian besar yang disediakan berupa mainan yang bisa asyik dijalankan secara sendirian, tanpa mengharuskan kehadiran teman. Robot, boneka, mobil-mobilan, pirstol mainan, binaang satwa tiruan, perlengkapan dokter, perlengkapan pantai, perlengkapan berkebun, perlengkapan dapur, rubik, lego, puzzle dan lain sebagainya. Itu semua jenis permainan tunggal, yang bisa asyik dimainkan secara sendirian tanpa teman.
Sangat sedikit mainan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Paling-paling hanya ular tangga dan halma. Beberapa toko menawarkan paket seperti “8 in 1” yang bisa dimainkan secara bersama oleh seluruh anggota keluarga. Jenis permainan seperti ini cukup langka di Indonesia. Berbeda dengan beberapa negara maju, yang sangat banyak jenis permainan keluarga.
Dampak dari minimnya permainan keluarga ini, akhirnya ketika berkumpul di rumah, masing-masing akan asyik dengan diri sendiri. Memilih berkegiatan atau bermain sendiri, tanpa memperdulikan yang lainnya. Anak-anak kecil bermain sendiri, kakak mereka bermain sendiri, orang tua sibuk dan asyik sendiri. Tidak ada satu permainan yang secara asyik mereka mainkan secara bersama. Tidak ada satu kegiatan yang dilaksanakan secara bersama.
Terlebih ketika semua anggota keluarga memegang gadget. Semakin membuat mereka saling asing dan saling menjauh. Walaupun berkumpul bersama di ruang keluarga, berkumpul bersama di meja makan, berkumpul bersama di teras belakang rumah mereka, namun hanya duduk diam membisu. Tidak ada aktivitas bersama, tidak ada obrolan yang hangat dan penuh canda, tidak ada permainan yang mereka lakukan secara bersamaan. Yang ada hanya keramaian dan kegaduhan dalam alam pikiran masing-masing, yang diciptakan oleh aneka fitur komunikasi dan aneka fitur game dan gadget.
Family gathering atau kegiatan keluarga sangat penting untuk membangun kebersamaan, kehangatan, dan kenyamanan dalam rumah tangga. Suami dan istri bisa semakin dekat, orang tua dengan anak menjadi tidak berjarak, interaksi antar anak juga semakin akrab dan hangat. Mereka bisa berdiskusi, mengobrol, bercerita, bercanda, sembari beraktivitas bersama yang mengasyikkan. Suasana seperti ini sangat berkesan pada anak-anak, dan membuat mereka menjadi semakin menghargai makna keluarga. Kegiatan family gahtering bisa dilakukan di rumah saja, bisa pula di luar rumah. Family adventure menjadi sangat mengasyikkan bagi semua anggota keluarga. Pergi berlibur ke sebuah tempat rekreasi, sembari melakukan kegiatan bersama yang melibatkan semua anggota keluarga. Bisa melakukan rafting, camping, mendaki gunung, berjalan santai di taman, bermain bola di pantai, atau sekadar berjalan-jalan saja mengelilingi alun-alun kota. Kebersamaan seperti itu sangat memberikan makna yang mendalam pada semua anggota keluarga, sehingga ikatan di antara mereka semakin kuat.
Aturan Family Time ketika sudah memiliki waktu bersama anggota keluarga, hendaknya benar-benar dimanfaatkan untuk family time. Dioptimalkan untuk membangun kebersamaan bersama seluruh anggota keluarga. Oleh karena itu, ada beberapa “aturan” yang harus dipenuhi, agar tujuan family time ini tercapai.

Luangkan Waktu Bersama
Hal pertama yang harus dilakukan oleh semua anggota keluarga adalah, luangkan waktu bersama. Di tengah kesibukan kerja orang tua, pada saat anak-anak tengah libur sekolah dan kuliah, pilih waktu luang yang bisa menyatukan semua anggota keluarga. Jika sangat sulit untuk memiliki keluangan waktu yang sama, harus ada yang rela berkorban izin kerja atau izin dari kegiatan, demi bisa bersama-sama dengan keluarga. Jadi memang harus meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang.

Jauhkan Gadget
Pada saat sudah memiliki waktu bersama, berkumpullah bersama seluruh anggota keluarga. Aturan yang sangat penting untuk menciptakan family time adalah jauhkan gadget dari semua naggota keluarga. Gadget telah merenggut perhatian yang membuat orang tua dan anak-anak memilih asyik sendiri-sendiri. Gadget telah memubat semua bersifat egois dan individualis. Tidak peduli dengan orang lain, cenderung asyik dengan dunia masing-masing yang diciptakan oleh berbagai fitur ajaib dalam gadget. Ini yang membuat tidak tercapainya tujuan family time, membuat tidak ada kebersamaan walaupun secara fisik mereka berada dalam satu tempat yang sama.

Putuskan Komunikasi dengan Pihak Luar
Aturan ketiga adalah putuskan komunikasi dengan pihak luar. Ketika sudah menyepakati family time, fokuskan untuk berkegiatan bersama keluarga. Matikan handphone dan smartphone untuk waktu tertentu. Dengan cara ini, semua anggota keluarga fokus berkegiatan, bermain, berbicara, bercanda secara bersama. Tidak terganggu oleh banyaknya lalu lintas panggilan telepon yang kadang memakan waktu lama. Panggilan telepon, menjawab pesan di WhatsApp, membalas SMS, melihat email dan lain-lain, bisa merusak suasana family time.

Lakukan Aktivitas Bersama
Optimalkan kesempatan bersama keluarga ketika sudah bisa meluangkan waktu bersama. Jangan sia-siakan situasi emas dan mahal ini. Segera lakukan aktivitas bersama, baik yang sudah dirancang masak-masak sebelumnya, ataupun aktivitas spontan yang tercipta setelah berada di lokasi kegiatan. Pilih aktivitas yang bisa dilakukan oleh seluruh anggota keluarga, sehingga semua ikut terlibat di dalamnya. Jangan ada anggota keluarga yang ngambek dan memilih duduk sendirian, tanpa mau terlibat dalam kegiatan bersama anggota keluarga yang lain. Semua harus terlibat.

Ciptakan Keasyikan
Salah satu yang membuat semua anggota keluarga bisa terlibat adalah terciptanya suasana keasyikan. Tertawa bersama, bercanda dengan leluasa, mengekspresikan keceriaan dengan tanpa beban, menjadi kunci keberhasilan kegiatan family time. Jika suasana terbangun dengan asyik, maka akan membuat semua anggota keluarga senang terlibat dengan sukarela. Namun jika pilihan kegiatannya menegangkan, menakutkan atau membuat ngeri, maka tidak semua bisa menikmati situasinya. Hal ini menyebabkan tidak semua anggota keluarga bisa terlibat.

Jauhi Pertengkaran dan Konflik
Pada saat telah berkumpul bersama keluarga, jauhi hal-hal kecil yang bisa merusak kehangatan dan keceriaannya. Misalnya soal makan siang di mana, kegiatan permainannya apa, pilihan tempat rekreasinya di mana, maupun kejadian kecil saat dalam perjalanan maupun sesampai di lokasi kegiatan, jangan membiarkannya menjadi pemicu keributan dan pertengkaran. Kadang suasana family time rusak hanya karena hal-hal kecil yang sangat tidak esensial. Sejak dalam perjalanan di kendaraan sudah muncul keributan, akhirnya terbawa hingga lokasi kegiatan. Ada anak yang ngambek karena marah atau tersinggung, jadinya rusaklah suasana kebersamaan.
Demikianlah enam aturan dalam membangun family time bersama seluruh anggota keluarga. Berapa lama durasi family time tergantung situasi dan kondisi. Ada family time yang sifatnya harian, ada family time yang sifatnya insidental. Family time yang bersifat harian harus sengaja diciptakan agar selalu ada waktu bersama walau hanya sebentar saja. Family time yang insidental bisa ditepatkan dengan momentum liburan bersama, atau momentum istimewa lainnya yang sengaja diciptakan untuk membangun kebersamaan dalam keluarga.
Semoga keluarga kita semua selalu hepi, dan memiliki kelentingan (resiliensi) yang memadai, karena telah terbiasa mengalokasikan family time.

(Al-Falah || Ust. Cahyadi Takariawan || Edisi April 2016 : 16-17)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MAAFKAN AYAH NAK . . . . .

“Kisah imajiner yang semoga menginspirasi para orang tua terutama para ayah.”


            Saat itu saya datang dari kantor agak malam, banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari itu. Maklumlah hari itu, Senin. Rumah yang biasanya ramai dengan tingkah polah anak kami, Aisyah, dan biasanya mainannya berserakan dimana-mana, sekarang begitu sepi dan sudah bersih. Istri tercinta sudah tidur pulas. Mungkin dia capek mengurus rumah, juga capek mengurus anak kami.
            Untuk lebih menyegarkan badan, saya langsung mandi kemudian shalat dan rencana juga langsung mau tidur. Tapi sebelum tidur, saya coba lihat Aisyah yang sudah tertidur pulas. Wajah polos tanpa dosa. Ketika saya lihat Aisyah, betapa kaget saya ketika ada bekas cubitan yang agak membiru di tangan kanannya. Saya teringat ketika tadi pagi Aisyah yang baru berumur 7 tahun main di teras rumah dan tiba-tiba berusaha menyeberang jalan. Kebetulan rumah kami dipinggir jalan raya. Takut terjadi sesuatu, saya reflek berlari dari ruang tamu untuk mencegahnya menyeberang. Saya langsung mencubitnya dengan harapan agar dia tidak mengulanginya lagi. Saya juga teringat ketika dia menangis dan langsung berlari kearah ibunya.
            Waktu saya mau berangkat ke kantor, Aisyah tidak mau saya peluk dan cium. Dia terus saja menempel dengan ibunya. Ya Allah, Saya tahu bahwa itu tindakan bodoh yang saya lakukan. Saya tahu, bahwa luka dibadannya suatu saat pasti akan hilang, tapi tidak dengan luka hatinya. Meskipun saya waktu itu berdalih bahwa itu sebagai rasa sayang saya kepada anak kami. Maafkan ayah ya nak, ayah khilaf. Mestinya ayah tidak menggunakan tangan ini untuk mencubitmu atau memukulmu nak.
            Malam itu entah kenapa mata ini sulit sekali dipejamkan. Satu persatu kejadian bersama anak kami melintas didepan mata. “Ayah nanti kalau pulang gak capek ya?”, begitu dia selalu bertanya kepada saya sebelum melanjutkan permintaannya. Dan saya pasti menjawab, “Tidak sayang, memang nanti kalau ayah pulang mau ngapain?” Lalu ia berkata “Nanti ajak Aisyah jalan-jalan ke taman bunga ya yah, khan sudah lama nggak kesana?” Saya langsung jawab : “Oke, tunggu ayah ya.”
            Saat itu saya lupa kalau hari itu ada meeting dikantor. Waktu saya pulang, Aisyah sudah tidur. Istri saya memberitahukan bahwa dari tadi Aisyah tidak mau tidur, malah minta dibikinin kopi, nunggu saya katanya. Duh ya Allah, pembelajaran buruk sudah saya lakukan buat Aisyah. Saya tidak menepati janji padanya. Saya juga tidak memberitahukan dia kalau saya berhalangan. Saya telah mengajarkan untuk mengingkari janji itu tidak apa-apa, saya mengajari juga untuk tidak komitmen.
            Suatu saat saya baru datang dari luar kota, saya mau istirahat dan tidak mau diganggu, saya bilang istri kalau ada tamu tolong bilang saya nggak ada, atau saya lagi keluar atau kemanalah yang penting saya tidak terganggu hari itu. Kebetulan anak kami, Aisyah, mendengar percakapan kami. Dengan gayanya yang khas dia bertanya, “Bu, katanya tidak boleh bohong, koq ayah bohong?” Saya seperti disambar petir waktu itu. Kesalahan fatal yang saya buat kembali. Mengajarkan berbohong.
            Bulan lalu kantor memberikan fasilitas blackberry buat saya. Agar komunikasi dan keputusan penting bisa langsung diputuskan saat itu. Tapi lagi-lagi barang membuat saya semakin jauh dengan keluarga. Pada saat dirumah ketika anak kami sibuk dengan mainannya, saya sibuk dengan memberikan komentar bbm teman dan kolega yang tidak sangat penting sekali. Pada saat istri butuh untuk bicara mengenai suatu hal, saya hanya menjawab sekenanya. Badan saya dirumah, tapi hati dan pikiran saya entah berada dimana.
            Malam sudah larut. Saya pandangi wajah anak saya, rasa bersalah semakin besar. Maafkan ayah nak, ayah berjanji mulai mala mini akan selalu menepati janji ayah dan kalau ayah tidak bisa, ayah akan memberitahumu nak. Mulai malam ini juga ayah akan menjadi teladanmu nak. Ayah tahu bahwa satu kali perbuatan itu lebih baik daripada seribu kali kata-kata. Mala mini juga ayah akan matikan BB ayah apabila ayah dirumah. Engkau adalah amanah yang Allah titipkan kepada kami.
            Mulai malam ini Ayah berjanji untuk berubah. Semoga besok pagi engkau bisa memaafkan ayah. Semoga besok pagi engkau mau ayah gendong lagi, semoga besok pagi engkau mau ayah cium lagi. Semoga besok pagi awal dari semua perubahan itu. Maafkan ayah, Aisyah.

(Yatim Edisi Juni 2012 : 14)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

PERILAKU ANAKKU ANEH




(Oleh : Prof. Dr. Asip F. Hadipranata, Psi)

“Usianya baru 11 tahun. Sangat lincah dan senang bersenda gurau dengan sebayanya, ia memiliki keceriaan khas anak kelas V SD. Dia biasa dipanggil Cantiko. Tapi sayang, Cantiko selalu membuat resah dan membuat malu kedua orangtuanya yang menjadi pejabat terpandang.”

Si Cantiko punya kebiasaan buruk, gemar menggoda para tamu yang bertandang ke rumahnya. Bila tamunya pria berkumis, akan ‘dihadiahi’ sekapan kedua jari tengahnya dari belakang, yang sebelumnya dioleskan ke (maaf, red) anusnya. Bila yang bertamu wanita, Cantiko akan memintanya untuk melepas celana dalamnya saat itu juga. Jika sampai tidak dipenuhi permintaan, Si kecil Cantiko akan menangis meraung-raung.
            Betapa sedihnya orangtua Cantiko melihat perilaku anaknya. Maka dengan segala upaya, dicarinya pakar berbagai ilmu, untuk bisa mengatasi kebiasaan jelek putrinya itu. Mereka mendatangkan berbagai orang yang ahli di bidangnya. Tak terhitung jumlahnya. Ada pendidik, psikolog, ahli budi pekerti, penyuluh agama, bahkan para ahli supranatural. Namun, sampai sejauh itu tak menemukan hasil. Bahkan nyaris tidak terjadi perubahan apapun untuk memperbaiki perilaku buah hatinya.
            Seorang teman, Syahdan namanya, secara kebetulan berhubungan bisnis dengan asisten orangtua Cantiko. Teman ini berharap saya ikut membantu memecahkan masalah yang pelik ini. Maka dengan doa yang ikhlas memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, saya menyanggupi tapi dengan catatan, Cantiko harus menyambut kedatangan saya bersama kedua orangtuanya. Karena saya pria berkumis, agar tidak dihadiahi ‘petis’ anus tadi.
            Saya bersyukur dapat mendiagnosis Cantiko. Tidak ada reaksi yang aneh selama berdekatan dengannya. Dari diagnosis itu dapat disimpulkan bahwa Cantiko adalah anak adopsi, bukan anak kandung dari kedua orang yang selama ini mengasuhnya.
            Mendengar kesimpulan itu, orangtua Cantiko kaget dan berusaha keras menyangkalnya. Tapi saya tetap yakin hasil pengamatan dari berbagai sudut pandang psikologi. Diantaranya, saya tidak melihat kesamaan goresan grafis antara anak tersebut dengan ayahnya, bahkan ibunya. Setelah saya desak, akhirnya mereka mengakuinya. Mereka sadar dan mau membuka diri demi kesembuhan putrid tercintanya. Tanpa diminta sekalipun, kedua orangtua tersebut menunjukkan bukti surat adopsi. Dalam salah satu klausul di surat itu disebutkan bahwa Cantiko adalah anak di luar nikah.
            Maka saya pun menemukan kesimpulan susulan. Yaitu, Cantiko adalah anak ‘pelari jauh’. Artinya, hasil tabrak lari dan ditinggal pergi jauh oleh bapaknya entah kemana. Setelah saya telusuri lebih jauh riwayat hidup Cantiko, ternyata ibu kandungnya tinggal di Kalimantan Barat dan dapat dihubungi via telepon.
            Beberapa waktu kemudian saya mencoba mengkonfirmasi lebih jauh. Dan terkuaklah sebuah rahasia kekerasan seksual. Ibu si Cantiko ternyata pernah diperkosa dengan disobek celana dalamnya oleh seorang lelaki berkumis.
            Data tambahan yang menyedihkan berikutnya adalah, Cantiko disayang ibunya dalam rahim hanya sekitar 2 sampai 3 bulan. Selebihnya ingin digugurkan tetapi tidak pernah berhasil. Begitulah hingga akhirnya dia hadir ke dunia dengan membawa beban psikologi yang sangat berat. Pengalaman pahit sejak awal pembuahan, dan selama di dalam rahim ibunya, menjadi latar belakang munculnya kebiasaan aneh yang kelewat batas.
            Setelah penyebab utama perilaku aneh itu terungkap, maka saya menyodorkan beberapa solusi yang harus dilakukan kedua orangtua angkatnya secara simultan. Pertama, sebelum tidur, Cantiko harus ditenangkan hatinya. Kedua, setelah tertidur lelap dengan indikasi kedua bola matanya tenang tidak bergerak-gerak, kedua orangtua angkatnya harus mengapitnya dalam satu tempat tidur supaya Cantiko merasa terlindungi. Kemudian, sambil berdampingan, mereka harus membisikkan beberapa kata permintaan maaf, meski dia tertidur pulas. Karena ‘ruhnya’ tetap bisa mendengar.
            Permintaan maaf itu misalnya, bapak angkat memintakan maaf ayah kandung Cantiko, dan sanggup menyayangi Cantiko seperti anak kandungnya sendiri. Begitu pun ibu angkat memintakan maaf ibu kandung Cantiko yang dulu pernah berniat menggugurkan dirinya.
            Ketiga, semua itu harus dilakukan secara kontinyu selama 7 bulan. Mengapa 7 bulan? Karena selama waktu dalam kandungan, Cantiko tidak mendapat kasih sayang dalam buaian ibu kandungnya. Saya ingin mengganti masa yang hilang itu terpenuhi kembali, agar jiwa Cantiko pulih sebagaimana manusia normal. Disayang sejak di dalam kandungan, dan dilahirkan kembali, suci, bersih perangainya.
            Keajaiban terjadi setelah 7 bulan berjalan, Cantiko berubah. Tabiat anehnya berangsur-angsur hilang. Suatu ketika, tanpa sengaja, saya bertemu ibu angkat Cantiko dalam penerbangan dari Jakarta menuju Yogyakarta. Sang ibu duduk di bangku bisnis. Tiba-tiba dia berjalan ke belakang mendekati saya. Tahu-tahu dia mencium lutut saya, sebelum sempat saya menolaknya. Sang ibu bercerita bahwa sekarang Cantiko sudah kuliah dan punya prestasi yang bagus karena rajin belajar. Selain itu, dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan lincah. Dan, ia selalu dikelilingi kawan-kawan karena keceriaannya.
Selamat dan sukses untuk Cantiko.

(Parahita News Edisi Mei – Juni 2012 : 24 - 25)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0