RSS

TUHAN, MAAF, KAMI SEDANG SIBUK




“Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surge, tapi kami hamper tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surge-Mu.”

Berapa jam sehari Anda sempatkan waktu Anda untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah? Berapa penghasilan yang Anda sisihkan dalam sebulan untuk bersedekah?

Ya, dari dua pertanyaan itu sudah menunjukkan karakter kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan dunia daripada akhirat. Teliti kata-kata yang saya tulis miring (italic) di atas, mari kita ber-istighfar. Kita seolah makhluk yang begitu sibuk, bahkan untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah saja kita harus menyempatkannya. Kita seolah manusia pelit, bahkan untuk akhirat kita justru menyedekahkan harta yang tersisih.

Tak sadar di hadapan Tuhan seolah-olah kita adalah orang tersibuk, padahal seluruh waktu, seluruh jatah usia, bahkan hidup kita seharusnya kita persembahkan dalam pengabdian kepada-Nya. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kita sudah sedemikian berani berbohong kepada Allah. Di setiap iftitah begitu mudah kita ucap, “ínnash shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa ma maati lillaahi rabbil ‘aalamiina.” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam, tetapi kelakuan kita justru mengingkarinya.

Tuhan kita Mahaadil. Tetapi mengapa kita tak adil kepada-Nya? Ketika ada sms masuk, kita begitu bergegas membaca dan membalasnya, tetapi mengapa ketika Tuhan memanggil-manggil untuk menghadap-Nya kita begitu berani menunda-nundanya?

Ketika bos kita memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadapnya, namun ketika panggilan Tuhan berkumandang, betapa berani dan lamanya kita untuk menghadap-Nya. Padahal yang memanggil kita adalah Tuhannya bos, Atasannya atasan.

Saudaraku, dengarlah kalimat-kalimat muadzin yang berkumandang paling tidak lima kali sehari. Kalimatnya tak hanya mengajak kita untuk melaksanakan shalat, tetapi disusul dengan tawaran kesuksesan. Dengarlah panggilan Tuhan yang dikumandangkan oleh muadzin, Hayya ‘alash sholah. Mari menunaikan shalat. Tak cukup hanya itu, tetapi dilanjut dengan balasan yang indah, Hayya ‘alal falah. Mari meraih kemenangan. Seolah Tuhan berkata, wahai manusia, berhentilah dari rutinitas kerjamu, istirahatlah sejenak dari kesibukanmu. Shalatlah, dan sambutlah kemenangan. Shalatlah, dan sambutlah kesuksesan. Shalatlah, dan yakinlah kerjamu akan membuahkan keberhasilan dan lebih berkah.

Tapi tidak, manusia masih begitu pelit kepada Tuhan, bahkan untuk bersedekah pun kita menyisih-nyisihkan harta kita. Kita begitu boros untuk dunia, tetapi untuk bekal kehidupan abadi, malah kita tabung harta yang tersisih. Sedekah kita tak lebih dari harta yang tak begitu kita cintai. Jangankan sedekah, bahkan zakat yang hanya 2,5 persen saja terkadang begitu berat terambil dari dompet.

Betapa kecilnya harga uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Betapa murahnya angka satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya angka seratus ribu ketika kita belikan pulsa. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ketika ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil dengan wajah kusam mengamen dan menadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet? Betapa besarnya nilai uang seratus ribu apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke mal untuk dibelanjakan. Ya Allah, tak sadar kita begitu pelit ketika dihadapkan pada bekal akhirat, tetapi untuk menuruti nafsu dan keinginan-keinginan dunia, betapa ringan kita rogohkan tangan. Padahal seharusnya justru sebaliknya, pelitlah untuk dunia, dan boroskan harta untuk akhirat.

Tapi tidak. Semua orang sudah begitu terjungkal konsep pemikirannya dalam memaknai hidup. Ingatlah ketika shalat, seolah tak kerasan dan betah berkomunikasi dengan Tuhan. Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang sedang dibaca saja tak sempat. Betapa lamanya lima belas menit jika kita gunakan untuk menyembah Allah, tetapi betapa singkatnya jika digunakan untuk melihat film. Betapa nyamannya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu, namun ketika mendengar khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa kita begitu mudahnya untuk mengeluh.

Saudaraku, berapa waktu pagi yang kita habiskan untuk membaca koran? Kemudian bandingkan berapa waktu yang kau habiskan untuk membaca Surat Cinta dari Tuhan. Ah, betapa sulit menyempatkan waktu untuk membaca satu halaman Kitab Suci, tapi betapa mudahnya membaca ratusan halaman novel.

Saudaraku, kita lebih sering menghabiskan sisa usia dengan obrolan-obrolan tanpa makna, tetapi untuk berdoa kepada Allah berapa waktu yang kita sisihkan? Astaghfirullah, betapa sulitnya kita merangkai kata demi kata ketika berdoa kepada Tuhan, namun betapa mudahnya kita menyusun kalimat panjang ketika menggunjing tetangga, bergosip dengan teman, dan mengobrol tanpa makna.

Betapa semangatnya kita duduk di barisan paling depan ketika menonton pertandingan atau konser musik, tetapi ketika berjamaah mengapa kita lebih memilih shaf terbelakang?

Betapa sulitnya mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci. Betapa sulitnya kita mengimani apa yang dikatakan Allah Swt., dan Rasul saw., tetapi betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran. Ya, tiap pagi koran seolah menjadi sarapan wajib, tetapi hamper tiap hari seolah tak ada jeda untuk mengisi waktu dengan tilawah.

Ibnu Athaillah berkata, “Menunda beramal saleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang termasuk tanda kebodohan diri.” Ya, kebodohan diri. Betapa bodohnya diri yang tak tahu berapa lama Allah menjatah umurnya, tetapi dengan tenang ia lakukan aktivitas dunia dengan menunda-nunda kebaikan. Betapa bodohnya jiwa yang telah tahu bahwa belum tentu esok ia masih bias bernapas lega, tetapi dengan beraninya hidup dalam santai dan lupa bahwa momentum kebaikan takkan terulang untuk yang kesekian kalinya.

Bertahun-tahun begitu mudah kita habiskan usia untuk memuaskan nafsu-nafsu. Bertahun-tahun begitu mudah kita mengumbar semua keinginan. Tetapi mengapa untuk berpuasa beberapa hari saja kita terlalu banyak mengungkap keluh. Mengapa untuk menahan diri beberapa saat saja kau terus mengiba.

Ah, setiap orang begitu takut ketika diancam neraka, tetapi kelakuan-kelakuan mereka seolah-olah sedang memohon untuk dimasukkan ke neraka secepatnya. Betapa setiap orang ingin menginjakkan kaki di pelataran surge, tetapi kelakuan-kelakuannya justru menjauhkannya.

“Semua umatku akan masuk surge kecuali yang enggan memasukinya. Siapa yang menaatiku akan memasuki surge, dan siapa yang mendurhakaiku, maka dialah orang yang enggan masuk surge.” (HR. Bukhari)

Tuhan, Harap Maklumi Kami
Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatur jadwal untuk menghadap-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa Nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, maafkan kami, kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bias menyisihkan sebagian rezeki dari-Mu untuk memperjuangkan agama-Mu.

Tuhan, maafkan kami, kami tak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. Kami tak kunjung puas dengan nikmat-Mu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Bahkan kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami, karena kami masih terlalu sibuk.

Tuhan maaf, kami terlalu sibuk. Padahal Engkau memerintahkan kami berwudhu untuk membasuh wajah kami yang telah penat memikirkan dunia. Padahal Engkau meminta kami bertakbir ketika jiwa kami terasa letih menggapai cita. Padahal Engkau perintahkan kami bersujud untuk meregangkan pundak kami yang telah letih memikul amanah.

Tuhan, maaf, selama ini kami terlalu sibuk. Kami terlalu sombong kepada-Mu, seolah kami tak membutuhkan-Mu. Mohon cahayai hati kami, guyur jiwa kami dengan hidayah-Mu. Agar jiwa ini tawadhu’ di hadapan-Mu. Agar jiwa kami ikhlas menuruti tuntutan-Mu. Agar diri ini tegar saat yang lain terlempar. Agar jiwa ini teguh di saat yang lain runtuh.

Tuhan, maaf, selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkaulah Yang Mahasibuk. Kami sering kali telat menghadap-Mu, padahal Engkau tak pernah sekali pun telat memberi kami makan dan minum setiap hari. Kami sering kali lupa menunaikan kewajibanku pada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mentari di pagi hari. Kami sering kali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak pernah sekali pun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat kepada-Mu, sementara kebaikan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur…” (QS. Al-Baqarah:255)

(Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk || Ahmad Rifa’i Rif’an : 3-10)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

LAHIR KITA ANUGERAH

"Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan mahakarya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati, tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya."

- Ahmad Rifa'i Rif'an -

Hanya ada satu kemungkinan di antara tiga ratus ribu miliar kemungkinan yang ada, bahwa manusia yang akhirnya hadir itu adalah Anda. Dengan kata lain, tiga ratus ribu miliar 'saudara kandung' Anda tak lolos seleksi. Yang lolos hanya satu, yaitu Anda. Begitulah sebuah fakta ilmiah yang diungkap oleh Dale Carnegie dari sebuah buku klasik, You and Heridity.

Lahir sebagai manusia yang unik. Tak ada satu pun manusia lain di seluruh dunia yang menyamai. Anda hanya satu-satunya yang ada di bumi. Sebuah mahakarya spesial. Masterpiece yang tiada duanya. Tak ada satu pun yang lahirnya, pengalaman hidupnya, serta matinya, sama persis dengan Anda.

Tercipta sebagai makhluk yang harganya tak terhingga. Sangat istimewa. Bolehkan kedua mata Anda dibeli satu miliar? Bolehkan kedua pendengaran Anda ditukar dengan mobil termahal di dunia? Bolehkah kepala Anda dibarter dengan rumah mewah?

Ya, harga Anda bukan miliaran, bukan triliunan. Jauh lebih mahal dari mobil termahal. Jauh lebih istimewa dari rumah yang mewah. Harga Anda tak ternilai.

Makhluk spesial tentu juga dihargai dengan tugas yang spesial. Mahkluk terhormat harus diberi tugas kehormatan. Makhluk berharga harus diberi tanggung jawab berharga. Jika makhluk terhormat diberi tugas dan wewenang yang remeh, tentu hal itu menjadi pelecehan terhadapnya. Makhluk istimewa tapi diberi tugas yang biasa-biasa saja, tentu itu bentuk penghinaan. Orang besar harus diberi tugas besar.

Begitu pun manusia sebagai makhluk yang harganya tak ternilai, tugas yang diberikan oleh Tuhan juga tak ternilai. Apa tugasnya? Yakni menjadi khalifah. Menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Sebuah tugas dan tanggung jawab yang sangat terhormat. Sebuah tugas yang memang sangat berat. Tapi inilah konsekuensi menjadi makhluk mulia. Tanda kemuliaan bukan hanya terjabar dalam bentuk raga yang sempurna. Simbol kehormatan bukan hanya terlihat dari penciptaan akal yang memang istimewa, tapi juga terlihat dari tanggung jawab yang disertakan oleh Tuhan terhadapnya.

Berani menjadi manusia, harus berani memegang tanggung jawab yang disertakan Tuhan atasnya. Berani menjadi manusia harus berani mengemban tugas kehormatan yang diamanatkan oleh Sang Pencipta kepadanya.

Tapi lihatlah perilaku begitu banyak manusia. Mereka melecehkan dirinya dengan tertunduk kepada makhluk yang diciptakan lebih rendah darinya. Mereka menjual martabat demi meraih pangkat. Mereka menukar harga dirinya demi meraih limpahan harta. Mereka mengorbankan kemuliaannya dengan mengisi hidupnya dengan beragam aktivitas yang tak pantas dilakukan oleh sesosok makhluk yang mulia.

Saya begitu terinspirasi dengan pernyataan dari Emha Ainun Nadjib yang mengatakan bahwa sebenarnya diri kita lebih mahal ketimbang uang, maka jangan kejar uang. Jadikan uang yang mengejar kita. "Saya tidak pernah mencari uang," kata Cak Nun, "Saya menulis, mungkin saya bikin puisi, mungkin kadang-kadang saya melakukan apa pun yang diminta masyarakat. Tapi Saya tidak akan pernah melakukan apa pun di dunia ini untuk mencari uang. Artinya, uang harus hanya menjadi efek moral dari sebuah pekerjaan."

Jangan pernah meremehkan hasil karya Tuhan dengan pilihan-pilihan hidup kits yang kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas-aktivitas kits yang kecil.

Sebuah kedurhakaan yang tak tanggung-tanggung jika kita hanya mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak layak dikerjakan oleh sang mahakarya. Tentu sebuah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan karya yang begitu istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati, tanpa meninggalkan warisan berharga. Tanpa menyumbangkan prestasi dan kontrtibusi yang memberi kemanfaatan bagi sekitarnya.

Mari beristighfar dan menyesali segala salah yang selama ini tak kunjung berhenti kita lakukan, "Tuhan, maaf, Kau alirkan nikmat, kami balas dengan maksiat. Sehatnya mata malah dipakai nista. Sehat telinga dipakai dengar dengan sia-sia. Bugarnya raga dipakai berbuat hina. Lisan yang bisa bicara dipakai ngomong tak bermakna. Kaki yang kuat dipakai jalan ke tempat yang sesat. Dikasih amanat malah khianat. Dikasih rezeki sombongnua tak henti-henti. Diberi kehormatan tapi angkuhnya bukan main. Tolong, ampuni kami. Jangan sampai kekufuran kami menjadikan-Mu murka dan mencabut segala nikmat dari diri kami. Jangan sampai kami baru sadar setelah seluruh anugerah terenggut dari diri kami. Mohon maaf, Tuhan. Hanya semenit kucoba tutup mata, tutup telinga, lemaskan kaki, bisukan lisan. Betapa tak enaknya. Tak terbayang jika nikmat mata, telinga, lisan, raga, Engkau renggut."

Hidup terlalu singkat dipakai nyantai. Petuah 'Santai kayak pantai. Slow kayak pulau' bukan kalimat para juara. Hidup adalah kompetisi. Ada yang sukses, ada yang gagal. Ada yang naik, ada yang turun. Ada yang mulia, ada yang hina. Kitab Suci pun mewasiatkan fastabiqul khairaat. Berlombalah dalam kebaikan. Saat kita jalan, di lain tempat orang lain sedang berlari cepat menuju impiannya masing-masing. Segera bangunlah dari tidur panjang. Mumpung jantung masih berdetak, isilah dengan aktivitas produktif. Hidup sekali, berarti, lalu mati.

(Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati || Ahmad Rifa'i Rif'an : 3-6)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

REDESAIN YOUR DREAM

"Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka."
- Eleanor Roosevelt -


Malam itu, di sebuah rumah yang sangat sederhana di sebuah kampung di pelosok Jawa Timur, seorang ibu paruh baya mengatakan kepada kedua anaknya. "Emak ini kan cuma lulusan Madrasah Tsanawiyah. Meski begitu, kalau bisa pendidikan kalian kudu lebih tinggi ketimbang Emak."

Ibu itu memang hanya sekolah sampai Tsanawiyah (setara SMP). Karena dia keburu dinikahkan oleh kedua orangtuanya. Maklum, di kampung, nikah muda bukan sebuah hal yang tabu. Apalagi untuk kaum wanitanya. Usia dua puluh belum nikah, bisa-bisa dianggap gadis nggak laku.

Keluarga ibu itu amat pas-pasan. Suaminya hanya bekerja sebagai buruh di sebuah penggilingan padi di desanya. Silakan prediksi berapa gajinya, jangankan untuk biaya pendidikan kedua anaknya, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja susahnya bukan main. Sedangkan sang ibu di rumah sambil buka sebuah toko kelontong di depan rumahnya. Penghasilannya pun amat pas-pasan. Apalagi di kampung, tetangga yang belanja sudaha biasa ngutang dulu, bayarnya setelah panen tiba, atau nunggu ayam-ayamnya pada bertelur.

Tapi sang ibu yakin bahwa anaknya bisa lebih darinya. Ibu itu terus berdoa setiap malam agar kedua anaknya bisa terus sekolah. Tahap demi tahap dilalui. Mulai SMP, SMA. Para tetangga mulai usil. "Ih, nggak mampu kok masih saja nyekolahin anak. Kenapa nggak disuruh nikah dan kerja saja." Tapi omongan-omongan itu tak digubris oleh sang ibu. Ia tetap yakin kedua anaknya bisa kuliah. Entah dari mana Tuhan memberi jalan.

Bagaimana kedua anaknya saat ini?

Kebetulan saya sangat kenal dengan mereka. Kini saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, kalau anak pertama ibu itu telah lulus menjadi sarjana teknik. Sedangkan anak keduanya menjadi sarjana sains.

Ya. Impian memang menjadi awal dari keberhasilan. Ada begitu banyak manusia besar yang melalui perjuangannya dengan sebuah impian. Impian merupakan sumber energi yang kerap menjadikan manusia berlelah-lelah demi meraih sesuatu yang diimpikan. Tantangan demi tantangan bukan lagi menjadi dinding pembatas antara sang pemimpi dan tujuannya. Dinding itu hanya menjadi membran tipis yang dapat dengan mudah dilaluinya, karena mimpi.

Beberapa saat yang lalu, dalam acara Oprah Winfrey, dihadirkan salah seorang remaja yang bagi saya perjalanan hidupnya sangat inspiratif. Remaja itu bernama Charmaine Clarice Relusio Pempengco. Ia lebih dikenal sebagai Charice.

Charice lahir di Cabuyao, Laguna, Filiphina. Pada usia tiga tahun, ibunya berpisah dengan ayahnya karena kekerasan dalam rumah tangga. Ayah Charice sangat temperamental dan kerap menyiksa sang ibu. Hingga suatu hari Charice yang kala itu masih berusia tiga tahun harus menyaksikan ibunya ditodong pistol oleh sang ayah. Waktu itu Charice tidak bisa melakukan apa-apa karena masih kecil, dan hanya bisa menangis. Sejak saat itu ia dibesarkan sendiri oleh ibunya. Ibunya harus bekerja selama 16 jam per hari sebagai buruh pabrik untuk dapat menghidupi Charice dan adiknya.

Dengan segala keterbatasannya di masa kecil, Charice tidak lantas putus asa. Ia justru memiliki impian yang tinggi di masa depannya. Ia ingin menjadi penyanyi besar kelak.

Untuk mengejar cita-citanya, Charice terus melatih vokalnya setiap hari. Meskipun ia tidak dapat membaca not balok, secara outodidak ia terus belajar menyanyi serta mengikuti perlombaan demi perlombaan. Bahkan saat umurnya masih tujuh tahun, ia sudah mulai ikut kontes menyanyi amatir. Kompetisi demi kompetisi ia ikuti. Mulai pertunjukan di Provinsi Laguna, tempat tinggalnya, sampai ke beberapa kompetisi menyanyi di stasiun televisi pun ia ikuti. Saat itu tujuannya sangat sederhana. Ia hanya ingin membantu keuangan keluarganya. Meski sering kalah hanya karena dibilang tidak cantik.

Ketika dalam kompetisi amatir ia dinyatakan sebagai pemenang, biasanya ia memperoleh hadiah 5 atau 10 dolar. Jumlah yang kecil memang, tetapi baginya itu merupakan suatu anugerah yang sangat disyukuri oleh Charice dan ibunya pada saat itu. Dengan hadiah itu berarti mereka dapat menikmati pizza yang selama ini sangat sulit mereka nikmati.

Jalan perjuangan Charice memang panjang. Hingga suatu ketika, perjuangan itu akhirnya membawa Charice ke titik terang. Pada tahun 2007 keajaiban datang. Seorang pria yang menggunakan nama samaran FalseVoice mengunggah video penampilan Charice dalam sebuah kompetisi. Tanpa diduga, video tersebut menjadi pembicaraan di internet. Hingga akhirnya Charice diundang oleh acara Talent Show di Korsel, acara Talk Show Ellen DeGeneres, hingga acara Oprah Winfrey.

Lewat Winfrey, Charice akhirnya bisa berkenalan dengan David Foster yang akhirnya mengajak Charice tampil di konsernya di Mandalay Bay, Las Vegas.

Di usianya yang masih sangat belia, keberhasilan Charice saat ini, tidak lain berkat sebuah cita-cita besar dari seorang Charice kecil. Charice membuktikan bahwa dengan impian, semua manusia dapat meraih kesuksesannya meski awalnya ia hidup dengan kondisi yang penuh dengan keterbatasan. Charice, dengan kesederhanaan dan kecintaannya kepada sang bunda, telah berhasil membuktikan bahwa dirinya memang layak untuk mendapatkan semua itu.

Impian dan cita-cita adalah sebuah jalan mutlak yang harus ada dalam diri calon manusia besar. Impian adalah pemandu utama jalan hidup yang akan mengarahkan perjalanan hidup supaya tidak membelok pada alur yang salah. Akan ada jurwng perbedaan yang cukup lebar pada diri orang yang bermimpi dengan yang tidak. Sang pemimpi selalu melakoni hidup dalam koridor dan alur yang terarah. Mereka menciptakan mimpi agar hidup mereka memiliki tujuan yang jelas. Dan yang membahagiakan adalah fakta sejarah membuktikan bahwa tidak ada 'orang besar' tanpa melalui 'orang kecil'. Orang besar adalah orang kecil yang memiliki impian menjadi orang besar, bekerja keras menggapai apa yang diimpikan, serta pantang menyerah ketika batu-batu terjal hadir di tengah perjalanannya.

(Man Shabara Zhafira || Ahmad Rifa'i Rif'an : 4-7)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments1

KITA BUTUH PEMIMPIN SABAR

Memegang tampuk kepemimpinan tidak seindah apa yang tampak. Sebab segala kemudahan dan fasilitas yang tersedia merupakan ujian kesabaran yang harus dilalui oleh seorang pemimpin. Ia harus memiliki kesabaran saat berkuasa. Artinya ia harus pandai-pandai menahan diri agar terhindar dari keserakahan ketika berkuasa. Ia harus menyiapkan system yang tepat untuk menjalankan kepemimpinan agar berjalan secara baik dan benar. Sehingga, jika saatnya tiba untuk lengser, ia tidak akan merasa berat untuk meninggalkan kursi kekuasaannya.
Seorang pemimpin yang amanah akan sangat dicintai oleh rakyatnya karena ia mampu memberikan manfaat dalam membangun dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu dia telah menyiapkan proses regenerasi dengan baik. Seorang pemimpin, baik pemimpin negara, sekolah, bahkan pemimpin keluarga sekalipun, harus mempunyai keberanian untuk meminta nasihat dari orang lain dan siap menerima koreksi. Ia juga harus sabar untuk tidak ingin berkuasa terus-menerus. Sebaliknya, ia memberikan kesempatan pada yang lainnya untuk dapat berkarya dan mengembangkan kemampuan.
Fenomena saat ini memberikan indikasi bahwa banyak pemimpin yang merasa keberatan jika kursinya diambil-alih orang lain, sebab kursi tersebut telah dijadikan sebagai sandaran hidup oleh mereka. Jika kursi itu diambil, maka ia akan kelabakan layaknya seseorang yang kebakaran jenggot sambil mencari sandaran lain. Oleh karena itu, penting bagi kita saat ini untuk menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan dengan menanamkan rasa cinta pada kemuliaan, bukan pada kedudukan.
Banyak sekali orang yang ambisius membabi-buta ingin mendapatkan kekuasaan. Seseorang yang akhlaknya buruk merasa dirinya siap menjadi pemimpin. Tapi sebaliknya, seseorang yang berakhlak mulia dan dikenal pandai memimpin, malah menolak kekuasaan yang disodorkan padanya dengan alas an takut tidak bisa berbuat amanah.
Menjadi pemimpin bukanlah suatu dosa. Suatu saat, seseorang harus maju menjadi pemimpin, terutama ketika tidak ada lagi orang lain yang pantas memimpin. Menjadi pemimpin adalah karunia Allah yang harus disyukuri. Alasan menerima tampuk kepemimpinan adalah bukan karena cinta kekuasaan, tapi menolak kezaliman dan orang-orang zalim yang dapat menyengsarakan rakyatnya.
Ujian paling berat bagi seorang pemimpin adalah dalam menggunakan kekuasaannya. Dan, senjata yang paling tepat adalah dengan menggunakan hatinya. Semakin sering ia menyebut dirinya sebagai pemimpin, maka jelas-jelas ia telah menurunkan kualitas pribadinya. Jika pemimpin itu menggunakan hatinya, maka ia akan meningkatkan kearifan dan kedewasaannya sehingga kemudian ia akan dicintai rakyatnya. Seperti itulah tipe pemimpin yang dirindukan umat manusia.
Kita berharap suatu saat nanti lahir seorang pemimpin yang begitu dicintai, sehingga masyarakat dapat bekerja dengan keikhlasan dan tidak merasa dipaksa. Rasa cinta mereka adalah rasa cinta rasional yang tidak akan memperdaya mereka dan pemimpinnya. Perlu adanya keseimbangan dalam mencintai seorang pemimpin.
Cinta terhadap seorang pemimpin tidak berarti harus selalu mengamini segala hal yang dilakukan olehnya. Mencintai seorang pemimpin harus disertai oleh kemampuan untuk membantu dan mengoreksinya.
Dan sebaliknya, pemimpin yang dicintai harus bijak dalam memimpin rakyatnya. Ia tidak membodoh-bodohi orang lain untuk taat padanya. Kuncinya adalah ia harus mempunyai kemampuan untuk menjelajahi hati orang-orang yang dipimpinnya. Kemampuan berempati seperti itu memang tidak mudah, tetapi ia harus melatih diri agar hatinya peka terhadap segala kondisi.
Kepemimpinan itu adalah suatu keterampilan. Keterampilan itu membutuhkan bakat yang perlu dilatih sejak dini. Orang yang mahir berbicara belum tentu bisa jadi pemimpin, jika bakat tersebut tidak diringi dengan ilmu. Bakat bicara tanpa ilmu, maka bicaranya akan ngawur, ngalor-ngidul, tanpa arah dan tujuan.
Saat ini, bangsa Indonesia sedang mengalami krisis kepemimpinan. Stock pemimpin yang memiliki tingkat kematangan pribadi bernutu tinggi, tingkat kearifan, kecerdasan, kesabaran, dan tingkat kebersahajaan yang mumpuni sangat kurang.
Pemimpin masa depan harus dipersiapkan dari awal. Jangan ujug-ujug, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba muncul seseorang menjadi pemimpin padahal sebelumnya ia dikenal buruk akhlaknya. Bisa jadi ia hanya mengandalkan keberanian saja untuk mendapat kursi empuk sehingga ia petantang-petenteng menampilkan gaya terbaiknya untuk menjadi seorang pemimpin, padahal tukang mebel yang kursi empuknya lebih bagus dari itu, tidak banyak gaya!
Pemimpin yang baik itu dinilai dari kematangan pribadi dan karyanya. Ia harus memiliki visi ke depan dan strategi mengatur apa yang dia pimpin. Ia juga harus mempunyai kemampuan untuk mensinergikan potensi masyarakat dan memotivasi mereka untuk berbuat terbaik untuk diri, keluarga, bangsa, dan negara.
Semuanya membutuhkan latihan yang prosesnya cukup panjang. Tidak seperti tukang sulap yang hanya menyerukan kata-kata simsalabim, lalu muncul seekor kerbau dari sebuah topi.
Babak-belurnya suatu system tergantung pada kualitas pemimpin. Maka percayalah, akan datang suatu masa nanti, di mana masyarakat Indonesia tidak mau memilih para pemimpin yang buruk akhlaknya. Pemimpin yang diidam-idamkan adalah pemimpin yang jujur, bersih, dapat dipercaya, dan tidak mengobral janji. Ia adalah orang yang cakap, kerjanya profesional, kreatif, inovatif, dan mampu mengelola sumber daya bangsa ini yang begitu dahsyat alamnya. Akhlaknya pun mulia, terampil, dan bersahaja, serta tidak banyak gaya.
Sebuah prestasi kepemimpinan tidak dinilai dari seberapa banyak penghargaan yang telah ia terima. Tapi sebuah prestasi dinilai dari usahanya untuk menyejahterakan rakyat dan membimbing mereka ke jalan kebaikan bukan kemungkaran. Dalam hal ini dibutuhkan kesabaran dari para pemimpin. Bukankah Allah selalu beserta orang-orang yang sabar?
Anak, keluarga, dan kedudukan bisa menjadi fitnah jika kita tidak mampu menyukurinya dengan benar. Kita bisa terhindar dari kezaliman dan kehinaan akibat kekuasaan yang sewenang-wenang dengan selalu menumbuhkan kesabaran dalam diri kita. Kita harus mencintai pemimpin yang mencintai Allah dan rasul-Nya. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan kepada kita kesabaran di kala kita diberi amanah, kelapangan, dan kekuasaan.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar : Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 132 - 135)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MENGGANTI DENDAM MENJADI IHSAN

Banyak film yang bercerita tentang aksi balas dendam seseorang akibat pembantaian keji yang dilakukan penjahat terhadap anak, istri, keluarga, atau sahabatnya. Dalam cerita seperti itu, biasanya orang yang melakukan balasa dendam tersebut menjadi satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian. Selanjutnya dapat ditebak, pada ujung cerita penonton biasanya akan disuguhi adegan balas dendam yang sangat keras dan berdarah-darah.
Dendam merupakan buah dari hati yang terluka, tersakiti, teraniaya, atau yang merasa terambil haknya. Wujud dendam yang paling konkret adalah kemarahan. Seseorang meluapkan amarahnya karena tidak suka melihat orang yang dia benci mendapat kesenangan. Dia lebih suka melihat orang itu sengsara, melebihi dirinya. Makin membara dendam seseorang, dia akan sekuat tenaga mencari jalan untuk mencemarkan, mencoreng, bahkan kalau perlu mencelakakan “musuh” sampai binasa.
Berbagai alas an memang tak jarang membuat seseorang tega melakukan balas dendam dengan keji. Ada yang balas dendam karena merasa telah ditipu atau karena takut disaingi. Perasaan iri, dengki, dan disisihkan juga dapat membuat seseorang tiba-tiba ringan tangan dan tidak punya belas kasihan. Hatinya mendadak beku dan sedikit pun tidak kenal ampun. Yang terbesit dalam benaknya hanya satu : balas dendam!
Seperti itulah ketika hati seseorang diliputi rasa dendam yang membara. Ia belum merasa puas kalau dendamnya belum tumpah terbalaskan. Tidur tak terasa nyenyak, setiap hari hatinya diliputi perasaan gelisah. Di pelupuk matanya selalu terbayang seorang “musuh” yang sedang menari-nari menantang dirinya. Itulah keadaan diri seorang pendendam. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan orang pendendam di sisi Allah?
Mungkin sudah merupakan sifat lumrah manusia, manakala hatinya disakiti orang lain, dia akan menyimpan rasa sakit hati yang bisa berujung pada rasa dendam. Akan tetapi, bukan berarti kita harus dendam setiap kali disakiti atau didzalimi. Malah sebaliknya, jika didzalimi maka doakan orang-orang yang mendzalimi itu agar bertobat dan menjadi orang saleh. Apalagi doa orang yang teraniaya itu mustajab, sehingga ketika kita didzalimi, saat itu terbuka peluang doa-doa kita akan dikabulkan. Jika kita meminta sesuatu, Allah akan mengabulkan. Nah, mengapa kita tidak minta agar orang-orang yang dzalim itu, Allah ubah menjadi saleh?
Memang pahit rasanya, kita mendoakan kebaikan untuk orang-orang yang telah menyakiti diri kita. Tapi akan lebih pahit lagi jika orang itu tidak berubah lebih baik. Bisa jadi dia akan lebih memperpanjang lagi daftar kedzalimannya. Di sinilah tampaknya  kita harus mulai belajar menerima sikap buruk orang lain lalu membalasnya dengan balasan sikap yang terbaik. Hal ini tidak merugikan, justru akan menjadi sarana untuk menuju kemuliaan.
Ada sebuah formula kemuliaan yang telah dituntunkan oleh Allah “Idfa’ billatii hiya ahsan.” (Balaslah sikap buruk orang lain dengan sikap yang lebih baik [ahsan]). Dan ternyata, sikap ahsan itu dapat mengubah permusuhan menjadi persahabatan. Bagaimana orang lain akan menerima kita, jika dia hanya disuguhi kemarahan dan kebencian kita? Kita jangan memimpikan orang lain akan berbuat baik terhadap kita. Namun justru, kitalah yang harus memulainya.
Untuk mencapai derajat ahsan memang tidak mudah. Tapi, kita bisa belajar sejak sekarang dengan cara selalu bersikap baik, tanpa menghitung untung-rugi dari setiap kebaikan yang kita perbuat. Syaratnya, kita harus mempunyai kesabaran dan tetap mengharap karunia dari Allah swt.. Biarlah Allah yang akan membalas segala amalan baik yang telah kita lakukan. Adapun tentang amalan buruk orang lain, marilah semua itu kita sikapi dengan hati yang bening dan lapang.
Allah memelihara Rasulullah saw. dari  sifat pendendam. Betapa pun beliau telah dihina, dicaci, bahkan berulang kali hendak dimusnahkan jiwanya. Tapi jiwa Rasul adalah jiwa yang lapang. Atas semua itu beliau memaafkan, melupakan, juga berdoa baik. Rasa maaf beliau begitu melimpah. Tidak sedikit orang menyakiti beliau, namun melihat keluhuran akhlaknya, hati-hati mereka melunak lalu memeluk Islam.
Sadarilah bahwa dendam adalah sifat yang amat buruk. Selain bisa menghancurkan kebahagiaan, pikiran, dan akhlak, dendam juga bisa menjerumuskan orang ke dalam kerugian dunia-akhirat. Oleh karena itu, berangsiapa yang dibelit rasa dendam, maka segeralah mengubah rasa dendam tersebut dengan kebaikan. Kita tidak bisa memaksa orang lain bersikap baik kepada kita. Tapi, kita bisa memaksa diri kita untuk berbuat baik pada orang lain.
Dalam Al-Quran surah al-Hujuraah ayat 11, Allah swt. berfirman, “Bahwasanya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” Jika kita menganggap orang lain adalah saudara, maka segala perselisihan dan pertikaian akan diselesaikan secara kekeluargaan layaknya perselisihan antara adik dan kakak. Karena suatu sebab, seorang kakak bisa saja memusuhi adiknya, begitu pun sebaliknya. Akan tetapi, pertengkaran mereka biasanya tidak berlangsung lama. Jika tidak diselesaikan sendiri, orang tua akan berperan mendamaikan. Mungkin saja mereka akan disuruh pacantel (Sunda : saling mengaitkan jari kelingking sebagai tanda perdamaian). Solusi ini tampaknya sederhana, tapi realistis.
Permasalahan kadang berubah menjadi rumit, manakala sifat egois lebih menonjol mengalahkan hubungan darah dan hati (persaudaraan). Apalagi jika tidak ada orang tua yang dapat mendamaikan. Untuk itu, kita butuh kunci-kunci untuk membuka pintu yang menghalang terciptanya persaudaraan antarsesama.
Kunci pertama adalah latihan. Makin banyak kita merasa bersaudara, makin ringan beban yang harus dipikul. “Seribu saudara akan terasa kurang, namun satu mush terasa sangat banyak.” Sayangnya, kebanyakan kita lebih mudah menciptakan permusuhan disbanding menjalin persaudaraan. Baru tersenggol atau berbeda pendapat sedikit saja langsung tersinggung. Orang tua pun sampai tega menganggap anaknya sendiri sebagai musuh. Begitu pun dengan istri, orang tua, mertua, dan lain-lain. Lalu kenapa kita akan merasakan bahagia di dunia, jika hati selalu diliputi perasaan dendam?
Walau kita berbeda secara fisik, tapi tetap saja nenek-buyut kita semua adalah Adam a.s. dan Bunda Hawa. Artinya, factor tempat mungkin memisahkan kita, tapi secara hakiki kita saling bersaudara sebab kita adalah sama-sama keturunan Adam a.s.. Tidak ada salahnya kalau kita berlatih menjalin persaudaraan dari sekarang, toh perbedaan itu indah.
Kunci kedua, jangan mempersulit diri. Pikiran kita jangan digunakan untuk memperumit masalah, tapi gunakan untuk mencari solusi masalah. Pernah ada yang bercerita tentang seseorang yang membeli tiga kilo jeruk. Kemudian di mengetes rasa jeruk itu satu per satu, ternyata rasanya asem semua. Maka dia pun protes pada penjualnya. Dia merasa dirugikan karena tiga kilo jeruk yang dibeli asem semua. Tapi sesudah itu, dia baru tahu bahwa penjual jeruk itu jauh lebih rugi. Tiga kuintal jeruk dagangannya asem juga. Seharusnya, orang itu merasa bahagia karena telah ikut meringankan beban penjual jeruk dengan membeli jeruk darinya. Walau hanya tiga kilo, setidaknya cukup mengurangi kerugian.
Kunci ketiga, adalah memiliki semangat berbuat demi kemaslahatan bersama. Jangan sampai kita untung sendiri, sedang orang lain merugi. Makin banyak orang yang merasa senang, makin tenteram hidup kita. Makin banyak orang yang tersakiti, justru mereka akan mencari-cari kesempatan untuk mencelakakan kita.
Untuk menghilangkan rasa dendam yang membara dalam hati, kita harus melatih hati kita agar tidak terlalu sensitif. Sekejam apa pun sikap orang lain, kita siap menghadapinya sebab hati kita telah terlatih. Hati yang terlatih dan kuat akan terpelihara dari dendam kesumat. Kalau kita disakiti seseorang, jangan melihatnya sebagai orang yang telah menyakiti kita, tapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan lading amal dari Allah. Kalau kita selalu melihat orangnya, maka hati akan sakit.
Kalau kita dikritik, dibenci, atau dikoreksi orang, maka kita harus evaluasi diri. Kita tidak akan pernah rugi dengan langkah ini. Kita harus meneliti kalau-kalau perilaku kita selama ini cukup membuat orang lain kesal. Jangan pernah merasa sombong dengan kesalehan diri sendiri. Selalulah merasa kurang dan kurang dalam berbuat kebaikan.
Langkah berikutnya, kita harus selalu memperbaiki diri. Jawaban kita atas segala permasalahan adalah akhlak yang baik. Biarlah orang akan mencemooh atau menghina. Pada akhirnya, orang akan melihat siapa yang buruk dan siapa yang baik. Kalau kita berakhlak luhur, Allah akan memuliakan kita. Jika Allah telah menganugerahkan kemuliaan, penghinaan orang sekejam apa pun tidak aka nada artinya.
Maka sekali lagi, “Idfa’ billatii hiya ahsan!” Balaslah sikap buruk orang lain dengan sikap yang lebih baik. Apalagi jika orang lain telah bersusah payah berbuat baik pada kita, maka tiada pilihan lain selain membalas semua itu dengan kebaikan yang lebih tinggi. Semoga Allah menolong kita menjadi pribadi-pribadi yang ihsan. Amin.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 120 - 125)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments1