RSS

APA URUSANKU DENGAN DUNIA


“Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja.” (Buya Hamka)

K
etidaktenangan jiwa sering kali karena kita tak pernah berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan penghasilan, jabatan, merek HP, kendaraan, rumah, merek tas, pakaian, bahkan popularitas dengan orang lain. Akhirnya, jutaan karunia yang Tuhan hadiahkan untuk kita hanya berlalu begitu saja tanpa rasa syukur.

Padahal, hitunglah anugerah Tuhan, kalkulasikan pemberian Allah setiap saat dalam diri kita, niscaya kita akan menjadi pribadi yang sangat berbahagia. Karena nikmat-Nya bagi kita ternyata tak terhingga.

Dunia yang terus-menerus direguk, bagaikan air laut yang senantiasa diteguk. Makin rakus meminumnya, makin hauslah kita dibuatnya. Makin terbuai kita dalam menikmati dunia, makin tamaklah kita dibuatnya. Ada suatu masa di mana kenikmatan dunia tak terasa. Akan datang hari di mana kesengsaraan dunia dirasakan.

Kelak, pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling senang hidupnya di dunia dari kalangan penghuni neraka. Kemudian ia dicelupkan ke neraka sekali celup, lalu dikatakan padanya, “Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesenangan ketika di dunia dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.” Lalu didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga. Kemudian ia dicelupkan ke surga sekali celup, lalu dikatakan padanya, “Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesusahan atau penderitaan ketika di dunia dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan kesusahan atau penderitaan sedikit pun.” (HR. Muslim)

“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari cara penghormatannya kepada ahli dunia.” (Sufyan ats-Tsauri)

Tiga Hal yang Boleh Dibandingkan
Kalau kita masih suka membandingkan diri dengan orang lain terkait harta, gelar, gaji, kedudukan, maka jangan pernah bermimpi untuk bahagia. Sebab, kebahagiaan hanya hadir saat kita mensyukuri karunia Tuhan, menikmati hidup, tanpa mengukurnya dari persepsi orang lain.

Hanya tiga hal yang boleh dibandingkan dengan orang lain:
  • Tekunnya ibadah
  • Besarnya manfaat
  • Dalamnya ilmu.

Jika ada yang lebih tekun ibadahnya, lebih luas manfaatnya, dan lebih dalam ilmunya, maka berlombalah dengannya. Jika ada orang yang lebih ikhlas pengabdiannya pada Tuhan, lebih hebat kontribusinya pada sesama, dan lebih semangat dalam menimba bermacam pengetahuan, maka putuskan untuk berkompetisi dengannya. Jangan mau ketinggalan dengan orang itu. Saingi mereka. Irilah pada mereka. Karena rasa iri kepada orang baik, adalah sebuah keutamaan.

Selain tihal hal itu, syukuri yang telah kita peroleh. Nikmatilah hidup. Semoga dengan cara ini Allah membahagiakan jiwa kita. Terlalu berambisi mengumpulkan dunia dan terus-menerus membandingkan dengan perolehan orang lain hanyalah akan memperbudak diri dalam keserakahan. Tidak mau kalah dengan orang yang lebih banyak hartanya, lebih tinggi pangkatnya, lebih cemerlang kariernya, lebih tinggi popularitasnya, lebih hebat kekuasaannya, hanyalah akan menyita usia kita dalam ketamakan yang tak berujung. Jangan pernah bercita meraih ketenangan dan kebahagiaan hidup ketika kita masih suka menempatkan kebahagiaan kita di bawah bayang-bayang keberhasilan orang lain.

Yang kita butuhkan bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas. Untuk tetap merasakan kebahagiaan d dunia yang sudah carut marut ini, yang lebih kita butuhkan adalah kedekatan dengan Tuhan. Segala kekurangan yang justru membuatmu lebih dekat dengan Tuhan, hakikatnya adalah anugerah. Segala keberlimpahan yang justru membuatmu jauh dari Tuhan, hakikatnya adalah musibah. Masalah terbesar dalam hidup bukanlah kekurangan harta atau kehilangan kehormatan di hadapan sesama. Masalah terbesar adalah di saat cinta Tuhan tak lagi singgah pada diri kita.

Dengan sindiran yang cukup telak, Buya Hamka pernah menasehatkan, “Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.” Dengan perumpaan babi hutan dan kera, Buya Hamka seolah menuturkan, bahwa jika kualitas hidup kita hanya sekadar menjalani hidup mangalir tanpa punya makna, maka apalah beda kita dengan babi hutan yang selama ini kita rendahkan. Jika tiap hari kita bekerja dan bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa ada tujuan yang lebih tinggi, apalah beda kita dengan kera yang tiap hari juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Hidup bukan sekadar untuk makan, dan makan bukan hanya sekadar untuk hidup. Kita tercipta sebagai makhluk sempurna, yang oleh Allah diamanahi tugas mulia sebagai khalifah di muka bumi. Ini adalah tugas besar yang hanya mampu diemban oleh manusia. Jadikan hidup ini sebagai perjalanan panjang untuk menjadi pemakmur bumi. Kita hidup untuk mempersembahkan pangabdian terbaik kita pada-Nya, kita menebar seluas mungkin manfaat bagi sesama, dan menjadikannya sebagai bekal untuk menempuh perjalanan yang lebih hakiki. Yakni perjalanan menuju kehidupan yang abadi.

(Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk || Ahmad Rifa’i Rif’an : 17-21)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

PENGADILAN TUHAN

O
h, betapa malangnya diri, yang ketika di dunia begitu disanjung dan dipuja oleh sesama, padahal di hadapan Allah, dia rusak dan penuh nista. Betapa menyesalnya diri yang ketika di dunia sangat suka menjaga penampilan dan citra, padahal di sisi Allah dia dicerca dan dimurka.

Betapa banyak dari kita yang sangat menjaga image dan citra di hadapan manusia, namun dalam sunyi, tanpa rasa malu bermaksiat di hadapan Tuhan. Betapa seringnya kita menjadi manusia yang sangat menjaga diri di hadapan sesama. Kita tampilkan diri sebagai pribadi yang sangat sempurna, sangat baik, dan penuh wibawa. Namun ketika sendiri, baru terbongkar siapa diri kita sebenarnya. Kita merasa aman, kita merasa tak ada satu pun orang yang tahu bahwa kita tercela. Padahal Allah Mahamelihat. Dan kelak pasti datang satu masa di mana seluruh makhluk akan menyaksikan siapa diri kita yang sebenarnya.

Iyauma nakhtimu ‘alaa afwaahihim watukallimunaa aidiihim wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun. Rasanya, ayat di surah Yasin ini sudah cukup untuk menjadi penasehat abadi. Pada hari itu, mulutmu terkunci, hingga tak akan ada dalih dan kebohongan apa pun yang bisa kau lontarkan. Mulutmu tertutup, sehingga tak bisa lagi mendustai siapa pun sebagaimana yang kau lakukan selama di dunia. Mulutmu tak bisa membicarakan kebaikanmu dan menutupi cacat dan lemahmu sebagaimana yang selama ini kau lakukan di dunia. Pada hari itu, hanya tangan dan kakimu yang akan berbicara, mempersaksikan seluruh tingkah lakumu di dunia, sejak baligh, hingga ajalmu.


 “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. Yasin: 56)

Saat ini kita sangat mudah menjumpai pengadilan yang jauh dari keadilan di negeri ini. Betapa banyak kezaliman yang timbul dari beberapa keputusan hukum yang sangat tajam kepada kaum bawah, sementara sangat tumpul kepada golongan atas. Mencuri beberapa buah semangka atau beberapa kilogram karet mentah bisa langsung diganjar hukuman penjara beberapa tahun. Sementara koruptor yang merampok uang negara miliaran bahkan triliunan rupiah bebas melenggang di negeri ini. Negeri ini memang kehilangan rasa keadilan. Hukum sangat tegas bagi kaum miskin tetapi sangat hati-hati jika menimpa kaum kaya dan berkuasa.

Namun ketahuilah, jika pengadilan manusia kadang bisa dimanipulasi, tetapi pengadilan Allah tak akan bisa. Karena Dialah Zat yang Mahamelihat, Maha Mengetahui segala tingkah  dan perbuatan seluruh umat manusia. Tidak ada yang mampu menyuap malaikat, sang petugas yang kejujurannya tak perlu lagi diragukan. Tak ada yang bisa membohongi pengadilan Mahsyar.

Marilah kita berhati-hati terhadap pengetahuan Allah yang tiada batasnya. Saat kita sendiri, hakikatnya kita tak sendiri. Karena ada Allah yang maha menyaksikan segala apa yang kita perbuat. Perasaan yang selalu merasa kehadiran Allah dekat dengan kita itulah yang berpotensi menjauhkan kita dari keberanian melanggar larangan-Nya. Kita tidak lagi menakutkan pengadilan manusia yang paling berat – hukuman mati. Yang kita takutkan adalah pengadilan Allah yang dampaknya bisa jadi berbuntut siksaan sepanjang masa dan tak ada hentinya.

Ketika kita memiliki rasa diawasi selalu oleh Allah, kita malu pada-Nya ketika waktu dan usia yang sudah dikaruniakan-Nya bagi kita justru kita isi dengan hal-hal yang sia-sia, bahkan perbuatan yang dilarang-Nya. Kita malu pada-Nya. Kita tak lagi peduli pandangan manusia pada kita. Karena pendapat sesama hanyalah pendapat subjektif yang tidak menentukan baik buruknya kita. Pandangan Allah pada kitalah pandangan objektif. Jika dalam pandangan-Nya kita baik, maka baiklah kita.

Pengadilan Tuhan tidak bisa dimanipulasi dan disogok. Pengadilan Mahsyar tak akan bisa diintervensi dengan kekuasaan apa pun. Dalam pengadilan itu, dipertontonkan dengan sangat detail tentang segala perbuatan baik dan buruk yang sudah kita kerjakan. Bayangkan, seluruh manusia dikumpulkan dalam satu tempat dan di depannya dipersaksikan seluruh perjalanan hidup masing-masing kita dengan sangat detail. Seluruh aib yang selama ini kita tutupi tiba-tiba terbongkar tanpa tedeng aling-aling. Seluruh ke-jaim-an kita pada hari itu tiada gunanya. Karena Allah mempertontonkan di hadapan seluruh manusia tentang siapa dan bagaimana kita sebenarnya.

Oh, betapa malunya diri, yang selama di dunia dengan penuh wibawa tampil di hadapan khalayak, tetapi dalan kesendirian, justru merasa aman dengan dosa-dosanya. Oh, betapa malangnya diri, yang ketika di dunia disanjung dan dipuja oleh sesama, padahal di hadapan Allah, dia rusak dan penuh nista. Betapa menyesalnya diri yang ketika di dunia sangat suka menjaga penampilan dan citra, padahal di sisi Allah dia dicerca dan dimurka.

Pengadilan Tuhan adalah pengadilan yang benar-benar adil. Di sana akan muncul dua golongan, yakni golongan kanan dan kiri. Bagi golongan kiri, maka siksaaan adalah balasan atas segala kelakuan buruk yang sudah dikerjakannya selama di dunia. Sedangkan bagi golongan kanan, maka kenikmatan surga adalah balasan atas segala kebaikannya yang sudah dilakukannya di dunia.

Sahabatku, kini, kita masih diberi kesempatan untuk memilih. Kini, kita masih dipercayai oleh Tuhan untuk memperbaiki diri. Memilih menjadi golongan manusia yang malang, menyesal, dan meratapi hidupnya di dunia, atau justru menjadi golongan manusia yang puas dengan kebaikan yang sudah dikerjakan saat hidup. Kita masih punya kesempatan untuk memilih, menjadi orang yang hanya dipuja oleh sesama namun dimurka oleh Tuhan, atau menjadi orang yang di mata manusia terhormat, dalam pandangan Allah berlimpah rahmat?

Hari ini, sebelum beranjak tidur di malam hari, sejenak tanyakan pada diri:
  • Andaikan ini tidur terakhirku, sudah siapkah aku menghadap Tuhan dengan diri saat ini?
  • Andaikan ini hari terakhirku, dosa apa yang sangat ingin aku mintakan ampun pada-Nya?
  • Andaikan ini hari terakhirku, amalan apa yang aku yakin sanggup menyelamatkanku di alam Barzah?
  • Andaikan ini hari terakhirku, karakter apa dalam diriku yang membuat Tuhan mencurahkan rahmat-Nya padaku?

Mari pejamkan mata sejenak, merenungkannya dalam-dalam. Lalu beristirahatlah. Semoga esok Tuhan masih berkenan memberi kita tambahan umur untuk memperbaiki diri. Jantung yang terus berdetak adalah nasihat bahwa pernjalanan menuju kubur tak kenal libur. Sekolah, kuliah, kerja boleh saja libur, tapi tetaplah ingat bahwa usia kita tak pernah libur. Meski hari libur, hindari bermalas diri.

Tetaplah produktif dalam berkarya dan beribadah. Lalu kapan istirahatnya? Percayalah. Tempat istirahat terbaik adalah surga.

(Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk || Ahmad Rifa’i Rif’an : 11-16)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

TUHAN, MAAF, KAMI SEDANG SIBUK




“Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Kami memang takut neraka, tetapi kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang berharap surge, tapi kami hamper tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surge-Mu.”

Berapa jam sehari Anda sempatkan waktu Anda untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah? Berapa penghasilan yang Anda sisihkan dalam sebulan untuk bersedekah?

Ya, dari dua pertanyaan itu sudah menunjukkan karakter kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk urusan dunia daripada akhirat. Teliti kata-kata yang saya tulis miring (italic) di atas, mari kita ber-istighfar. Kita seolah makhluk yang begitu sibuk, bahkan untuk beribadah dan berkomunikasi dengan Allah saja kita harus menyempatkannya. Kita seolah manusia pelit, bahkan untuk akhirat kita justru menyedekahkan harta yang tersisih.

Tak sadar di hadapan Tuhan seolah-olah kita adalah orang tersibuk, padahal seluruh waktu, seluruh jatah usia, bahkan hidup kita seharusnya kita persembahkan dalam pengabdian kepada-Nya. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kita sudah sedemikian berani berbohong kepada Allah. Di setiap iftitah begitu mudah kita ucap, “ínnash shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa ma maati lillaahi rabbil ‘aalamiina.” Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam, tetapi kelakuan kita justru mengingkarinya.

Tuhan kita Mahaadil. Tetapi mengapa kita tak adil kepada-Nya? Ketika ada sms masuk, kita begitu bergegas membaca dan membalasnya, tetapi mengapa ketika Tuhan memanggil-manggil untuk menghadap-Nya kita begitu berani menunda-nundanya?

Ketika bos kita memanggil, betapa takutnya kita sehingga dengan cepat kita menghadapnya, namun ketika panggilan Tuhan berkumandang, betapa berani dan lamanya kita untuk menghadap-Nya. Padahal yang memanggil kita adalah Tuhannya bos, Atasannya atasan.

Saudaraku, dengarlah kalimat-kalimat muadzin yang berkumandang paling tidak lima kali sehari. Kalimatnya tak hanya mengajak kita untuk melaksanakan shalat, tetapi disusul dengan tawaran kesuksesan. Dengarlah panggilan Tuhan yang dikumandangkan oleh muadzin, Hayya ‘alash sholah. Mari menunaikan shalat. Tak cukup hanya itu, tetapi dilanjut dengan balasan yang indah, Hayya ‘alal falah. Mari meraih kemenangan. Seolah Tuhan berkata, wahai manusia, berhentilah dari rutinitas kerjamu, istirahatlah sejenak dari kesibukanmu. Shalatlah, dan sambutlah kemenangan. Shalatlah, dan sambutlah kesuksesan. Shalatlah, dan yakinlah kerjamu akan membuahkan keberhasilan dan lebih berkah.

Tapi tidak, manusia masih begitu pelit kepada Tuhan, bahkan untuk bersedekah pun kita menyisih-nyisihkan harta kita. Kita begitu boros untuk dunia, tetapi untuk bekal kehidupan abadi, malah kita tabung harta yang tersisih. Sedekah kita tak lebih dari harta yang tak begitu kita cintai. Jangankan sedekah, bahkan zakat yang hanya 2,5 persen saja terkadang begitu berat terambil dari dompet.

Betapa kecilnya harga uang ketika kita sedang berhadapan dengan penjual baju. Betapa murahnya angka satu juta ketika kita sedang shopping. Betapa kecilnya angka seratus ribu ketika kita belikan pulsa. Tetapi ketika ada kotak amal berjalan, ketika ada pengemis mengiba pinta, ketika ada anak kecil dengan wajah kusam mengamen dan menadahkan tangannya yang masih suci, berapa jumlah uang yang kita ambil dari dompet? Betapa besarnya nilai uang seratus ribu apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan, tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke mal untuk dibelanjakan. Ya Allah, tak sadar kita begitu pelit ketika dihadapkan pada bekal akhirat, tetapi untuk menuruti nafsu dan keinginan-keinginan dunia, betapa ringan kita rogohkan tangan. Padahal seharusnya justru sebaliknya, pelitlah untuk dunia, dan boroskan harta untuk akhirat.

Tapi tidak. Semua orang sudah begitu terjungkal konsep pemikirannya dalam memaknai hidup. Ingatlah ketika shalat, seolah tak kerasan dan betah berkomunikasi dengan Tuhan. Jangankan khusyuk, bahkan menyadari apa yang sedang dibaca saja tak sempat. Betapa lamanya lima belas menit jika kita gunakan untuk menyembah Allah, tetapi betapa singkatnya jika digunakan untuk melihat film. Betapa nyamannya apabila pertandingan bola ada perpanjangan waktu, namun ketika mendengar khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa kita begitu mudahnya untuk mengeluh.

Saudaraku, berapa waktu pagi yang kita habiskan untuk membaca koran? Kemudian bandingkan berapa waktu yang kau habiskan untuk membaca Surat Cinta dari Tuhan. Ah, betapa sulit menyempatkan waktu untuk membaca satu halaman Kitab Suci, tapi betapa mudahnya membaca ratusan halaman novel.

Saudaraku, kita lebih sering menghabiskan sisa usia dengan obrolan-obrolan tanpa makna, tetapi untuk berdoa kepada Allah berapa waktu yang kita sisihkan? Astaghfirullah, betapa sulitnya kita merangkai kata demi kata ketika berdoa kepada Tuhan, namun betapa mudahnya kita menyusun kalimat panjang ketika menggunjing tetangga, bergosip dengan teman, dan mengobrol tanpa makna.

Betapa semangatnya kita duduk di barisan paling depan ketika menonton pertandingan atau konser musik, tetapi ketika berjamaah mengapa kita lebih memilih shaf terbelakang?

Betapa sulitnya mempelajari arti yang terkandung di dalam Kitab Suci. Betapa sulitnya kita mengimani apa yang dikatakan Allah Swt., dan Rasul saw., tetapi betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran. Ya, tiap pagi koran seolah menjadi sarapan wajib, tetapi hamper tiap hari seolah tak ada jeda untuk mengisi waktu dengan tilawah.

Ibnu Athaillah berkata, “Menunda beramal saleh guna menantikan kesempatan yang lebih luang termasuk tanda kebodohan diri.” Ya, kebodohan diri. Betapa bodohnya diri yang tak tahu berapa lama Allah menjatah umurnya, tetapi dengan tenang ia lakukan aktivitas dunia dengan menunda-nunda kebaikan. Betapa bodohnya jiwa yang telah tahu bahwa belum tentu esok ia masih bias bernapas lega, tetapi dengan beraninya hidup dalam santai dan lupa bahwa momentum kebaikan takkan terulang untuk yang kesekian kalinya.

Bertahun-tahun begitu mudah kita habiskan usia untuk memuaskan nafsu-nafsu. Bertahun-tahun begitu mudah kita mengumbar semua keinginan. Tetapi mengapa untuk berpuasa beberapa hari saja kita terlalu banyak mengungkap keluh. Mengapa untuk menahan diri beberapa saat saja kau terus mengiba.

Ah, setiap orang begitu takut ketika diancam neraka, tetapi kelakuan-kelakuan mereka seolah-olah sedang memohon untuk dimasukkan ke neraka secepatnya. Betapa setiap orang ingin menginjakkan kaki di pelataran surge, tetapi kelakuan-kelakuannya justru menjauhkannya.

“Semua umatku akan masuk surge kecuali yang enggan memasukinya. Siapa yang menaatiku akan memasuki surge, dan siapa yang mendurhakaiku, maka dialah orang yang enggan masuk surge.” (HR. Bukhari)

Tuhan, Harap Maklumi Kami
Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatur jadwal untuk menghadap-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa Nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, maafkan kami, kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bias menyisihkan sebagian rezeki dari-Mu untuk memperjuangkan agama-Mu.

Tuhan, maafkan kami, kami tak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. Kami tak kunjung puas dengan nikmat-Mu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Bahkan kami kesulitan mencari waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail untuk mengambil nyawa kami, karena kami masih terlalu sibuk.

Tuhan maaf, kami terlalu sibuk. Padahal Engkau memerintahkan kami berwudhu untuk membasuh wajah kami yang telah penat memikirkan dunia. Padahal Engkau meminta kami bertakbir ketika jiwa kami terasa letih menggapai cita. Padahal Engkau perintahkan kami bersujud untuk meregangkan pundak kami yang telah letih memikul amanah.

Tuhan, maaf, selama ini kami terlalu sibuk. Kami terlalu sombong kepada-Mu, seolah kami tak membutuhkan-Mu. Mohon cahayai hati kami, guyur jiwa kami dengan hidayah-Mu. Agar jiwa ini tawadhu’ di hadapan-Mu. Agar jiwa kami ikhlas menuruti tuntutan-Mu. Agar diri ini tegar saat yang lain terlempar. Agar jiwa ini teguh di saat yang lain runtuh.

Tuhan, maaf, selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkaulah Yang Mahasibuk. Kami sering kali telat menghadap-Mu, padahal Engkau tak pernah sekali pun telat memberi kami makan dan minum setiap hari. Kami sering kali lupa menunaikan kewajibanku pada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mentari di pagi hari. Kami sering kali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak pernah sekali pun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat kepada-Mu, sementara kebaikan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur…” (QS. Al-Baqarah:255)

(Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk || Ahmad Rifa’i Rif’an : 3-10)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

LAHIR KITA ANUGERAH

"Bukankah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan mahakarya yang istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati, tanpa meninggalkan warisan berharga bagi generasi selanjutnya."

- Ahmad Rifa'i Rif'an -

Hanya ada satu kemungkinan di antara tiga ratus ribu miliar kemungkinan yang ada, bahwa manusia yang akhirnya hadir itu adalah Anda. Dengan kata lain, tiga ratus ribu miliar 'saudara kandung' Anda tak lolos seleksi. Yang lolos hanya satu, yaitu Anda. Begitulah sebuah fakta ilmiah yang diungkap oleh Dale Carnegie dari sebuah buku klasik, You and Heridity.

Lahir sebagai manusia yang unik. Tak ada satu pun manusia lain di seluruh dunia yang menyamai. Anda hanya satu-satunya yang ada di bumi. Sebuah mahakarya spesial. Masterpiece yang tiada duanya. Tak ada satu pun yang lahirnya, pengalaman hidupnya, serta matinya, sama persis dengan Anda.

Tercipta sebagai makhluk yang harganya tak terhingga. Sangat istimewa. Bolehkan kedua mata Anda dibeli satu miliar? Bolehkan kedua pendengaran Anda ditukar dengan mobil termahal di dunia? Bolehkah kepala Anda dibarter dengan rumah mewah?

Ya, harga Anda bukan miliaran, bukan triliunan. Jauh lebih mahal dari mobil termahal. Jauh lebih istimewa dari rumah yang mewah. Harga Anda tak ternilai.

Makhluk spesial tentu juga dihargai dengan tugas yang spesial. Mahkluk terhormat harus diberi tugas kehormatan. Makhluk berharga harus diberi tanggung jawab berharga. Jika makhluk terhormat diberi tugas dan wewenang yang remeh, tentu hal itu menjadi pelecehan terhadapnya. Makhluk istimewa tapi diberi tugas yang biasa-biasa saja, tentu itu bentuk penghinaan. Orang besar harus diberi tugas besar.

Begitu pun manusia sebagai makhluk yang harganya tak ternilai, tugas yang diberikan oleh Tuhan juga tak ternilai. Apa tugasnya? Yakni menjadi khalifah. Menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Sebuah tugas dan tanggung jawab yang sangat terhormat. Sebuah tugas yang memang sangat berat. Tapi inilah konsekuensi menjadi makhluk mulia. Tanda kemuliaan bukan hanya terjabar dalam bentuk raga yang sempurna. Simbol kehormatan bukan hanya terlihat dari penciptaan akal yang memang istimewa, tapi juga terlihat dari tanggung jawab yang disertakan oleh Tuhan terhadapnya.

Berani menjadi manusia, harus berani memegang tanggung jawab yang disertakan Tuhan atasnya. Berani menjadi manusia harus berani mengemban tugas kehormatan yang diamanatkan oleh Sang Pencipta kepadanya.

Tapi lihatlah perilaku begitu banyak manusia. Mereka melecehkan dirinya dengan tertunduk kepada makhluk yang diciptakan lebih rendah darinya. Mereka menjual martabat demi meraih pangkat. Mereka menukar harga dirinya demi meraih limpahan harta. Mereka mengorbankan kemuliaannya dengan mengisi hidupnya dengan beragam aktivitas yang tak pantas dilakukan oleh sesosok makhluk yang mulia.

Saya begitu terinspirasi dengan pernyataan dari Emha Ainun Nadjib yang mengatakan bahwa sebenarnya diri kita lebih mahal ketimbang uang, maka jangan kejar uang. Jadikan uang yang mengejar kita. "Saya tidak pernah mencari uang," kata Cak Nun, "Saya menulis, mungkin saya bikin puisi, mungkin kadang-kadang saya melakukan apa pun yang diminta masyarakat. Tapi Saya tidak akan pernah melakukan apa pun di dunia ini untuk mencari uang. Artinya, uang harus hanya menjadi efek moral dari sebuah pekerjaan."

Jangan pernah meremehkan hasil karya Tuhan dengan pilihan-pilihan hidup kits yang kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas-aktivitas kits yang kecil.

Sebuah kedurhakaan yang tak tanggung-tanggung jika kita hanya mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak layak dikerjakan oleh sang mahakarya. Tentu sebuah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan karya yang begitu istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati, tanpa meninggalkan warisan berharga. Tanpa menyumbangkan prestasi dan kontrtibusi yang memberi kemanfaatan bagi sekitarnya.

Mari beristighfar dan menyesali segala salah yang selama ini tak kunjung berhenti kita lakukan, "Tuhan, maaf, Kau alirkan nikmat, kami balas dengan maksiat. Sehatnya mata malah dipakai nista. Sehat telinga dipakai dengar dengan sia-sia. Bugarnya raga dipakai berbuat hina. Lisan yang bisa bicara dipakai ngomong tak bermakna. Kaki yang kuat dipakai jalan ke tempat yang sesat. Dikasih amanat malah khianat. Dikasih rezeki sombongnua tak henti-henti. Diberi kehormatan tapi angkuhnya bukan main. Tolong, ampuni kami. Jangan sampai kekufuran kami menjadikan-Mu murka dan mencabut segala nikmat dari diri kami. Jangan sampai kami baru sadar setelah seluruh anugerah terenggut dari diri kami. Mohon maaf, Tuhan. Hanya semenit kucoba tutup mata, tutup telinga, lemaskan kaki, bisukan lisan. Betapa tak enaknya. Tak terbayang jika nikmat mata, telinga, lisan, raga, Engkau renggut."

Hidup terlalu singkat dipakai nyantai. Petuah 'Santai kayak pantai. Slow kayak pulau' bukan kalimat para juara. Hidup adalah kompetisi. Ada yang sukses, ada yang gagal. Ada yang naik, ada yang turun. Ada yang mulia, ada yang hina. Kitab Suci pun mewasiatkan fastabiqul khairaat. Berlombalah dalam kebaikan. Saat kita jalan, di lain tempat orang lain sedang berlari cepat menuju impiannya masing-masing. Segera bangunlah dari tidur panjang. Mumpung jantung masih berdetak, isilah dengan aktivitas produktif. Hidup sekali, berarti, lalu mati.

(Hidup Sekali, Berarti, Lalu Mati || Ahmad Rifa'i Rif'an : 3-6)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0