RSS

FIGHTERS - KONAS ARSABAPI 2014 - SOLO



Ahad, 31 Mei 2015

Pagi-pagi dapet remainder dari my besties (Imee) via bbm, “Tau ga sieh, ini tepat 1 tahun kita ke Solo 31 Mei 2014, pas juara umum, kangen ku suasana kayak gitu, perjuangan yang mengesankan.” Hahahahaha... Seketika itu group chat room langsung ber-chit chat ria.

Pikiranku berjalan mundur, flashback 1 tahun yang lalu. Melihat kembali potret-potret perjuangan dalam mengikuti “Kongres Nasional ARSABAPI (Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Paru Indonesia) 2014” yang bertempat di Surakarta – Solo. Banyak perlombaan yang kami ikuti sebagai kontingen dari Duta RS Paru Jember, diantaranya : Lomba Penyuluhan, Lomba Kreasi Tari Cuci Tangan, Lomba Poster, Lomba Senam Asma, dan Lomba Kreasi Seni.

Jauh dari pikiran kami untuk menjadi juara umum dalam acara tersebut, yang notabene diikuti oleh seluruh Rumah Sakit dan Balai Pengobatan Paru se-Indonesia. Boro-boro berkhayal jadi juara umum, pokoknya mah pas balik ke RS ada sesuatu yang dibawa gitu aja, meskipun cuman thropy juara 3. No more... Hahahaha...

Perjuangan kami tak semulus apa yang Anda bayangkan lhoo... Ada pihak yang tidak mendukung, juga tak sedikit pihak yang mendukung, dimana acara tersebut tak menghabiskan sedikit biaya. Well, tapi itu tak menurunkan semangat juang kami untuk membuktikan bahwa perjuangan dan hasil jerih payah kami tak sebanding dengan nilai rupiah yang harus dikeluarkan. Keep fight guys!!! ;)

“Allah niku mboten sare, kita aja yang ketiduran” Hahahaha... Kata bijak tersebut mungkin sering kita anggap sepele, but it’s really happened to us. Yeah, semangat juang kami berbuah manis. Deru suara MC saat itu masih terngiang di telinga kami “Juara Umum Konas Arsabapi 2014 diraih oleh...RS Paru Jember!!!”

Euforia Champion seketika langsung menyelimuti kami, kontingen RS Paru Jember. Peluk haru, tangis bahagia tumpah ruah jadi satu. Gimana engga? Thropy Juara Umum yang jadi incaran setiap pasang mata peserta kini ada ditangan kami. Persembahan kami untuk Bapak Direktur RS Paru Jember, dr. Arya Sidemen SE., MPH, yang pada waktu itu beliau berhalangan mendampingi dan melihat kami secara langsung, dikarenakan kesehatan beliau yang sedang tidak stabil.

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah SWT., bahagia sekali kami pulang disambut langsung oleh Bapak Direktur dengan kesehatan beliau yang mulai berangsur membaik. Rasa capek di perjalanan pun sirna, melihat senyum bahagia keluarga besar RS Paru Jember menyambut kemenangan yang kami bawa. Good Job Guys!!! b(^_^)d

Okeh, terlepas dari itu semua, bagi owner nih orang-orang yang turut berpartisipasi dalam satu kontingen sangat berpengaruh dalam mengobarkan semangat juang. Oppa & Omma Tedja (dr. Sutedja Wahjudi), tim manajerial dan driver (Nino, Mz Erwin, Mz Anjar), temen-temen duta (Mbak Ita, Mala Mele, Epit, Mak Bowo, Hehehehe), specially sahabat-sahabatkuh (Misskumiss, Xhu Beng, Imee).

Kalian (my besties) mengalahkan egoku, yang notebene paling ga suka sama yang namanya tari-menari. Hahahaha... Robot menari itulah gambarannya. Takkan kupadamkan semangat juangmu dengan egoku. Ceileh... :D *tapiiniserius

Ayoo kita lanjutkan semangat juang ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hidup pasti ada orang yang suka dan tak suka. Tak usah kita hiraukan orang yang tak suka, karena mereka akan menghambat laju kesuksesan diri kita. Jadikan mereka pelecut semangat juang diri dan prestasi, karena hanya dengan itu mulut mereka bisa kita beli.

Sekian celoteh hari ini. Semoga banyak hikmah yang bisa diperoleh. Aamiin. See you, Guys!!!


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

KEKAYAAN, KESUKSESAN DAN CINTA

KEKAYAAN, KESUKSESAN, DAN CINTA


Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjangggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata, “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut.”
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?” Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar,” jawabnya, “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali,” kata pria itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang istri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.”
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam, “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,” kata pria itu hampir bersamaan. “Lho, kenapa?” tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan,” sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. “Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu?” Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberi tahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran.
“Oh... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.” Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab, sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan dagang kita.” Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah.
“Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.” Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka, “Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam, dan malam ini si Cinta menjadi teman santap malam kita.” Wanita itu kembali keluar, dan bertanya kepada 3 pria itu, “Siapa di antara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Oho... ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan, “Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?” Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan, “Kalau Anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka ke mana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Di mana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan, hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat menjalani hidup ini. Ke mana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya.”
Di mana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya apa pun yang dikerjakan tanpa hati yang sungguh-sungguh tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Dengan cinta, kita akan dibimbing untuk selalu berjalan di jalan yang benar. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus.

(Budiono Lie || Viruzz Marketing : 28-30)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

BELAJAR “GOBLOK” BERSAMA BOB SADINO


B
ob Sadino, sebuah nama yang pastinya tidak asing lagi di telinga kita. Seorang ikon, maestro, dan begawan entrepreneurship di Indonesia. He is living legend. Seorang pekerja keras yang memulai usaha sebagai pedagang keliling dan akhirnya sukses menjadi salah satu pengusaha nasional yang disegani dan dihormati.

Banyak orang yang bilang dia ‘goblok’, tapi menurut saya dia itu jenius. Beliau dianggap sebagai sosok ‘goblok’ oleh kebanyakan orang karena memang Bob Sadino adalah sosok yang berbeda. Kalau boleh dibilang, he is one in a million. Kesuksesan dan pencapaian yang telah diraihnya adalah bukti nyata kalau ilmu ‘goblok’-nya itu sangat manjur. Makanya dari kecil saya kepengen banget ketemu Bob Sadino dan mau belajar biar jadi ‘goblok’ juga hehehe...

Sejak SD saya sudah sering sekali mendengar dan membaca tentang Bob Sadino, hingga pada saat kuliah S1, keinginan saya untuk bertemu beliau sangat besar. Bak gayung bersambut, kesempatan itu pun datang. Ada info dari seorang teman bahwa Bob Sadino akan mengisi seminar di Malang. Kebetulan teman saya itu panitia EO yang mendatangkan Bob Sadino. Saya langsung menawarkan diri untuk menjadi moderator di acara tersebut. Dia bilang besok akan dikabari lagi karena harus laporan dulu ke ketua panitia.

Keesokan harinya teman saya itu mengabarkan bahwa ketua panitia sangat senang jika saya bisa menjadi moderator di seminar Bob Sadino. Namun mereka bilang budget fee tidak cukup untuk mengundang saya. Langsung saya jawab,”Ga usah dibayar juga ga papa, sediain tiket pesawat dan akomodasi aja cukup.” Mendengar hal itu panitia langsung sepakat.

Seumur hidup saya tidak pernah menawarkan diri untuk menjadi moderator di satu acara, dan baru kali ini saya melakukannya, bahkan tanpa dibayar pun tidak masalah. Hal ini karena saya sangat yakin bahwa nilai manfaat yang akan didapat dengan bertemu Bob Sadino akan jauh lebih tinggi dibanding sekadar materi. Apalagi, sangat sulit untuk bertemu dengan seorang tokoh nasional seperti Bob Sadino. Jadi ini sebuah kesempatan baik yang tidak boleh disia-siakan.

Lalu mengapa saya repot-repot menawarkan diri menjadi moderator? Dan bukan ikut sebagai peserta? Jawabannya, karena dengan menjadi moderator, saya akan mempunyai banyak kesempatan untuk berinteraksi dan belajar dari seorang Bob Sadino, di mana hal itu tidak akan mungkin saya lakukan jika hanya menjadi seorang peserta biasa.

Dalam sebuah acara, seorang moderator mempunyai waktu yang lebih banyak dan akses yang lebih besar untuk ngobrol dan berdiskusi dengan narasumber, yang dalam hal ini adalah Bob Sadino. Kalau jadi peserta seminar paling cuma ketemu pas hari H dan selesai. Padahal, belajar itu lebih mudah jika kita bisa berinteraksi langsung dengan sang guru, dan bukan sekadar mengikuti seminar yang hanya beberapa jam saja.

Hal lain yang membuat saya takjub lahi, dan saya memang yakin ini semua sudah diatur oleh-Nya adalah sebetulnya pada tanggal yang sama saya harusnya berangkat ke Amerika Serikat untuk sebuah acara, tapi ternyata batal dan waktu itu saya kecewa sekali. Dan ternyata saya baru tahu hikmahnya, bahwa Allah menggantinya dengan kesempatan bertemu dangan Bob Sadino. Saya sangat bersyukur dan lebih memilih bertemu dengan sang maestro dibanding ke negeri Paman Sam.

Hari H pun tiba, kami terbang menuju Malang pada tanggal 4 Juni. Saat masuk pesawat, ternyata di kursi dekat jendela sudah duduk seseorang yang sangat familiar, siapa lagi kalau bukan Bob Sadino. Bener-bener persis dengan apa yang selalu saya lihat di tv atau koran, mengenakan kemeja putih dan tentunya celana pendek blue jeans yang ketat dan melegenda itu hahaha...

Saya langsung menyapanya dengan panggilan Om Bob, seperti orang-orang lain memanggilnya. “Assalamu’alaikum Om Bob, saya Assad yang nanti akan jadi moderator acara seminar di Malang.” Beliau menjawab, “Wa’alaikumsalam. Hi Assad, oke good. Nanti kita ngobrol lagi ya, saya baca koran dulu.”

Seperti mimpi bisa melihat langsung sosok seorang Bob Sadino di depan mata. Saya duduk di sebelah Om Bob dan ga tau mau ngapain selain pura-pura ikutan baca koran juga, bener-bener udah mati gaya hahaha...

Setelah beliau selesai baca koran, obrolan pun terasa mengalir. Saya lalu memberikan buku Notes From Qatar sebagai tanda perkenalan dan beliau sangat antusias menerimanya. Dia langsung membaca dengan serius, dan setelah 15 menit, komentar pertama yang meluncur dari Om Bob, “Buku ini bagus, dan kamu masih muda tapi sudah punya network yang baik. Tapi kamu juga ‘goblok’ keliatannya ya.”

Saya senyum-senyum aja dibilang ‘goblok’, meskipun agak nyesek juga. Selanjutnya obrolan pun berlanjut dan kita ngobrol banyak hal. Saya pun tidak henti-hentinya bertanya kepada Om Bob dan berulang kali pula tidak henti-hentinya saya dibilang ‘goblok’ oleh beliau hahaha...

Tapi setelah saya pikir-pikir, iya bener juga ya mungkin saya ini memang ‘goblok’ karena banyak hal yang tidak terpikirkan oleh saya tapi bisa dipikirkan oleh dirinya.

Tidak terasa perjalanan Jakarta-Malang yang ditempuh selama 1 jam 20 menit terasa sangat singkat. Setibanya di airport Malang, kita langsung dijemput oleh panitia acara. Kita kemudian makan siang di restoran lalu menuju hotel untuk beristirahat, karena acara akan dimulai pada malam hari.

It’s a show time! Waktu menunjukkan jam 7 kurang, tapi peserta seminar sudah sangat ramai sekali. Ratusan orang sudah berkumpul dan riuh rendah suara bisa terdengar dengan jelas dari belakang panggung. Om Bob pun naik ke atas panggung dan tepuk tangan pun memenuhi gedung Sasana Budaya Universitas Malang tersebut. Di awal pembukaan, Om Bob langsung bilang. “Coba kalian tanya ke saya, apa yang kalian ingin ketahui tentang saya?”

Pertanyaan pertama pun meluncur, “Apa rahasia sukses Om Bob?” langsung dijawab, “Setiap kali saya seminar pasti ditanya seperti ini. Rahasia sukses saya adalah tanpa rahasia. Ya, karena memang tidak ada yang dirahasiakan. Terus melangkah saja. Gagal, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi. Sukses itu sangat mudah dan sederhana asalkan kita mau bekerja keras.”

Selanjutnya ada yang bertanya, “Om Bob pernah gagal ga?” Dengan mudah Om Bob menjawab. “Saya ini ga pernah gagal, lha wong saya dulu mulai usaha dari 0, ya kalaupun rugi sampai harta saya habis ya itu namanya impas, bukan rugi. Tapi yang pasti saya ini susah miskin, karena kemiskinan takut dateng ke saya.” Hahaha...

Setelah itu, pertanyaan demi pertanyaan deras mengalir, dan Om Bob dengan sangat mudah menjawab semua pertanyaan tersebut, karena memang pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan sengat standar dan tidak ada yang istimewa. Om Bob lalu menantang para hadirin untuk menyerang dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih berkualitas, “Ayo kalian ‘serang’ saya gitu loh, jangan yang goblok-goblok aja nanyanya.” Hahaha...

Acara benar-benar cair dan saya sangat menikmatinya. Beberapa kali saya juga sempat kena semprot Om Bob dan dibilang ‘goblok’ hahaha... Well, I really enjoyed that show!

Om Bob juga memberikan perbedaan antara orang pintar dan ‘goblok’. Inilah versi pintar vs ‘goblok’ ala Bob Sadino:

“Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya 1 ide yang dikerjakannya dan itu jadi kenyataan.”

“Orang pintar banyak mikir, akhirnya tidak pernah melangkah. Orang goblok ga banyak mikir, makanya terus melangkah.”

“Orang pintar maunya cepat berhasil, padahal semua orang tahu itu mustahil. Orang goblok cuma punya 1 harapan: hari ini bisa makan, dan dia berhasil setiap harinya.”

“Orang pintar itu aneh. Bisnis kok cari untung. Apa iya akan untung terus? Kan tidak. Akhirnya kalau mereka rugi langsung patah semangat karena niatnya cari untung. Orang goblok itu bisnis malah cari rugi. Apa iya bakal rugi terus? Kan tidak. Akhirnya kalau rugi justru makin semangat karena memang itu yang dicari, dan kalau untung malah bertambahlah syukurnya. Ya jelas aja, nyari rugi malah dikasih untung!”

“Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saar bisnisnya maju, orang goblok mempekerjakan orang pintar”

Di akhir kalimatnya tentang pintar vs ‘goblok’, Om Bob memberikan wejangannya, “Semakin goblok seseorang, maka semakin besar kesempatan orang tersebut untuk memperoleh ilmu dari orang lain. Makanya setiap bertemu orang baru, selalu kosongkan gelas kalian terlebih dahulu.”

Gimana, jadi ngerasa ‘goblok’ ga? Hehe bagus, nikmatin aja.

Acara seminar yang berlangsung selama 2 jam itu terasa sangat cepat dan semua peserta yang hadir sangat puas dan menikmati malam itu.

Keesokan harinya kita sarapan bareng di hotel dan kembali saya mendapatkan banyak sekali pelajaran di sana. Dari mulai filosofi hidup, perjuangan dan berbagai hal lainnya. Kemudian kita menuju airport. Saya pun banyak sekali mendapat pelajaran yang berharga selama berinteraksi dengan beliau.

Saya semakin mengenal Om Bob dan merasakan betul semangatnya meskipun di umurnya yang sudah di atas 80 tahun. Saya jadi sadar bahwa kata-kata ‘goblok’ yang sering dia gunakan itu adalah untuk membuat kita ini sadar dan tidak terlena dengan kenikmatan yang ada.

Om Bob seperti ingin mengatakan kepada kita. “Hey abak muda, bangun! Jangan bermalas-malasan. Kesuksesan itu tidak akan datang hanya dengan menunggu dan bersantai-santai.” Itulah makna Om Bob sering mengatakan ‘goblok’ kepada orang-orang.

Saat perjalan pulang di pesawat, saya bertanya kepada beliau, “Om, percaya gak dengan kekuatan sedekah?” Beliau sempat terdiam mendengar pertanyaan saya, lalu tidak lama menjawab, “Saya sangat percaya dengan kekuatan sedekah, dan saya lebih senang jika bersedekah bukan dengan uang atau materi karena itu akan habis dan tidak abadi. Kalau saya kasih orang beras 10 kilo, mungkin akan habis dalam satu minggu. Tapi kalau saya sedekah doa dan ilmu untuk orang itu, dia akan bisa makan selama 10 tahun bahkan lebih.”

Sungguh sebuah jawaban yang sangat mendalam, bahwa memang sebuah pemberian itu harus bisa memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi si penerimanya. Itulah yang disebut sebagai sedekah jariyah dalam islam, yang pahalanya akan terus mengalir meskipun nanti sang pemberi sedekah sudah meninggal dunia.

Seorang Bob Sadino yang selama ini kita kenal mungkin terlihat cuek dan tidak peduli dengan sekitar, ternyata memiliki pemahaman spiritual yang baik dalam memaknai hidup ini. Bahwa hidup adalah untuk menolong orang lain di sekitar. Bahwa hidup adalah untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi mereka yang membutuhkan. Dan bagi seorang Bob Sadino, menolong yang paling bermanfaat bukan hanya sekedar dengan uang dan materi, namun berupa ilmu dan doa yang bisa dinikmati si penerimanya sampai akhir hidupnya.

Tidak terasa perjalanan kembali ke Jakarta sangat cepat, dan kami pun tiba di Soekarno-Hatta. Setelah turun dari pesawat dan sebelum berpisah Om Bob bilang, “Sampai jumpa Assad, sukses terus, minggu depan kita bertemu lagi ya saya undang makan siang di Kem Chicks.”

Dan sampai sekarang hubungan saya dengan Om Bob masih sangat baik dan kami sering bertemu hanya untuk sekadar ngobrol ataupun berdiskusi tentang bisnis dan hal-hal lainnya.

Thank you Om Bob, you are such a big inspiration for me!

(Muhammad Assad || Notes From Qatar 3 : 13-23)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

SYAHADATNYA ORANG KANTORAN

“Syahadat yang terucap di lidahnya memang ‘Asyhadu an laa ilaaha illallah’, tapi persaksian yang muncul dari perilakunya justru ‘Asyhadu an laa ilaaha illa-uang, illa-bos, illa-atasan. Illa-kebijakan perusahaan, illa-pangkat, illa-popularitas.”

S
yahadat, begitu sulitkah mempertahankannya? Jika pengucapannya hanya dilisan, mungkin mudah. Namun permasalahannya adalah seauh mana pemahaman kita mengenai makna kalimat syahadat. Di zaman Rasulullah saw., masayarakat Arab paham betul makna syahadat. Sehingga ketika Rasulullah mengumpulkan pemimpin-pemimpin Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Rasulullah bertanya, “Wahai saudaraku, maukah kalian aku beri kalimat, di mana dengan kalimat itu kalian dapat menguasai seluruh jazirah Arab?” Dengan tegas Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun aku terima.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah Muhammadan Rasulullah.” Bagaimana reaksi Abu Jahal setelah mendengar kalimat itu? “Kalau itu kalimat yang engkau minta, berarti engkau telah mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Ya, Abu Jahal paham betul tentang makna syahadat. Ia paham bahwa ketika ia bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat, konsekuensinya ia harus menerima segala aturan yang ditetapkan dalam Islam. Maka dengan tegas Abu Jahal menolaknya.

Abu Jahal, sang penentang dakwah, bukanlah orang bodoh di zamannya. Bahkan Abu Jahal adalah salah satu di antara sedikit penduduk Mekah yang pandai baca tulis. Ia fasih dalam sastra, banyak harta, hidup elegan, dan berotak cerdas. Namun karena pengingkarannya kepada Allah, semua kelebihannya itu sama sekali tak bermakna. Bahkan ketika ia menyombongkan diri sebagai ‘aziizul kariim, orang perkasa lagi mulia, Allah justru menyerahkan kematiannya kepada dua bocah Anshar ‘ingusan’ dan ‘Abdullah ibn Mas’ud, gembala yang dulu sering dihajarnya. Di akhirat, Allah memberi hidangan zaqqum di Jahannam, seraya memfirmankan ejekan kepadanya seperti yang diabadikan dalam surah Ad-Dukhan ayat 49, “Rasakanlah, sesungguhnya kamu ini orang yang ‘perkasa’ lagi ‘mulia’.”

Syahadatlah yang telah dipertahankan oleh Bilal ibn Rabah, meski kulitnya dibakar teriknya padang pasir, meski tubuhnya disiksa dengan tindihan batu, imannya tak goyah. Tak pernah sudi mengucap Latta Uzza sebagai Tuhan. Ia tetap mempertahankan imannya meski tubuhnya begitu lemah hingga yang keluar dari lisannya hanyalah kata “Ahad... Ahad...”

Syahadatlah yang dipertahankan oleh Khabab ibn Al Arats, pandai besi yang pernah dipanggang hingga cairan tubuhnya keluar memadamkan bara api. Syahadatlah yang membuat Syuhaib dengan ringan meninggalkan usaha yang telah dirintisnya dari nol sebagai imigran di Mekah. Ia dengan ikhlas berhijrah bersama Rasulullah saw.

Laa ilaaha illallah...
Ilah bermakna sesuatu yang dianggap penting atau sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sehingga manusia rela dikuasainya. Jika manusia lebih mementingkan harta meski melanggar aturan-Nya, harta itulah ilah-nya. Ketika manusia lebih mengutamakan kedudukan, kedudukan itulah ilah-nya.

Ilah juga bermakna sesuatu yang dicintai. Ketika manusia lebih mencintai anak istri dan keluarganya di atas kecintaanya kepada Allah, mereka itulah ilah-nya. Ingatlah bagaimana cara Sa’ad ibn Abi Waqqash menghentikan mogok makan yang dilakukan oleh ibundanya. “Bu, seandainya ibu memiliki seratus nyawa, dan ia keluar satu per satu di hadapanku untuk memaksaku meninggalkan keyakinan ini, tidak sekali pun aku akan meninggalkan agama ini selamanya.”

Begitu berat memang membuktikan syahadat yang kita ucapkan. Karena ganjaran yang diberikan kepada manusia yang rela menetapi syahadatnya amatlah agung. Rasulullah bersabda, “Allah akan menghindarkan neraka bagi orang yang mengucapkan kalimat syahadat.”

Asyhadu an laa ilaaha illa... ???
Memang saat ini menjadi hal yang mudah bagi kita untuk mengucapkan syahadat. Tapi tak jarang syahadat itu hanya terlintas di bibir tanpa pernah menggetarkan dinding nurani yang sebenarnya lebih butuh getarannya. Kita mudah sekali berkata, Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi perilaku kita sehari-hari tak jarang bertentangan dengan apa yang kita ucapkan.

Seorang pelajar atau mahasiswa tak segan-segan melakukan kecurangan saat ujian. Seolah tanpa rasa berdisa membawa kertas contekan atau melihat jawaban teman di sebelahnya. Mereka tahu bahwa Tuhan memerintahkan mereka untuk berlaku jujur. Mereka tahu bahwa berbuat curang itu melanggar larangan-Nya. Tapi mereka yang mungkin saja tiap tahiyat selalu melantunkan kalimat syahadat, selalu mengatakan bahwa ia bersaksi bahwa tiada sesembahan yang layak disembah selain Allah, tapi perilakunya menunjukkan mereka tak takut melawan perintah-Nya. Lidahnya bersaksi tiada Tuhan yang layak disembah, dipatuhi, dicintai, diutamakan, tapi kenyataannya mereka dengan berani melanggar apa yang dilarang-Nya. Mereka lebih takut dapat nilai buruk daripada takut kepada Allah. Mereka lebih mengutamakan lulus ujian daripada Allah. Mereka lebih malu kepada guru atau dosen mereka daripada malu kepada Allah. Apa yang terucap dari lisannya tak jarang bertentangan dengan apa yang ‘terucap’ dari perilakunya sehari-hari. Lisannya bisa saja mengucap dengan tegas, Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapu perilakunya seolah berucap, Asyhadu an laa ilaaha illa lulus ujian, nilai A, nilai seratus. Lidahnya bisa saja mengucap tiada Tuhan yang layak disembah, diutamakan, kecuali Allah, tapi dengan jelas sikapnya mengatakan tiada Tuhan yang layak disembah, diutamakan, selain prestasi akademis, ijazah, juara kelas, gelar sarjana.

Seorang karyawan lebih takut kepada atasannya daripada kepada Tuhannya. Ketika ia tahu bahwa apa yang dilakukan dan diperintahkan atasannya bertentangan dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, ia hanya bisa bungkam. Ia hanya bisa patuh. Karena risiko dipecat lebih ia takuti daripada risiko akhirat yang akan ia tanggung. Ketika ia tahu bahwa kebijakan perusahaannya akan merugikan banyak pihak, ia tak berani membantah. Ketika ia tahu tindakan yang dilakukan perusahaannya adalah bentuk kezaliman, ia tak berani berkutik. Ia hanya manggut-manggut atas segala yang diputuskan atasan. Ia hanya memilih menjalankan apa yang telah diperintahkan kepadanya, meskipun harus mendustai nuraninya, melanggar perintah Tuhannya, melawan aturan agamanya. Ia tak peduli apakah yang dilakukan oleh perusahaannya itu akan menjerumuskan hak orang lain. Ia acuh tak acuh apakah yang dilakukan perusahaannya itu menindas kaum lemah. Yang ia tahu, ia harus patuh pada atasannya. Syahadat yang terucap di lidahnya memang Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi persaksian yang muncul dari perilakunya adalah Asyhadu an laa ilaaha illa bos, illa atasan, illa kebijakan perusahaan. Lidahnya bisa saja mengucap tiada Tuhan yang layak disembah, diutamakan, dipentingkan, selain keuntungan perusahaan, selain perintah bos, perintah atasan.

Para abdi negara pun dengan mudah bersaksi Asyhadu an laa ilaaha illallah, tapi persaksian yang muncul dari perilakunya tak jarang Asyhadu an laa ilaaha illa jabatan, illa uang, illa selamet korupsinya. Ia rela mengorbankan hak rakyat demi menggendutkan perutnya. Ia rela mengorup uang rakyat yang memilihnya demi memenuhi mulut rakusnya. Ia rela mengambil kebijakan-kebijakan bejat yang bukannya menyejahterakan, malah menindas dan menyengsarakan rakyat. Ia tak segan-segan memperjualbelikan keadilan, memakelarkan kebijakan, melacurkan undang-undang. Bahkan tak jarang rasa malunya pun digadaikan demi melayani kepentingan koalisinya, kepentingan kelompoknya, kepentingan partainya. Tak usah bingung menyaksikan wakil rakyat adu jotos, saling lempar buku, palu, kursi, microfon. Tak peduli ratusan juta rakyat yang diwakilinya sedang bertepuk tangan dan menertawakannya di depan layar televisi. Mari kita maklumi sikap mereka. Karena mereka telah membarter rasa malunya dengan uang, jabatan, kepentingan, kekuasaan. Dan ketika manusia tak lagi punya rasa malu, sikapnya tak jauh dari kanak-kanak atau penghuni RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

Asyhadu an laa ilaaha illallah bukan hanya di lisan, tapi justru penjelmaan kalimat itu di perilaku keseharian, itu yang utama. Andaikan syahadat hanya untuk diucap lisan, cukuplah anak kita yang masih bermain di playgroup atau taman kanak-kanak bisa mengucapkannya dengan fasih. Andaikan ber-Islam hanya dibutuhkan persaksian lisan, burung beo pun bisa-bisa punya kesempatan jadi muslim. Ber-Islam-lah secara kaffah, menyeluruh. Jika syahadat telah kita ucap, perilaku sehari-hari layaklah untuk segera kita benahi.

(Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk || Ahmad Rifa’i Rif’an : 22-28)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

APA URUSANKU DENGAN DUNIA


“Kalau hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kera juga bekerja.” (Buya Hamka)

K
etidaktenangan jiwa sering kali karena kita tak pernah berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan penghasilan, jabatan, merek HP, kendaraan, rumah, merek tas, pakaian, bahkan popularitas dengan orang lain. Akhirnya, jutaan karunia yang Tuhan hadiahkan untuk kita hanya berlalu begitu saja tanpa rasa syukur.

Padahal, hitunglah anugerah Tuhan, kalkulasikan pemberian Allah setiap saat dalam diri kita, niscaya kita akan menjadi pribadi yang sangat berbahagia. Karena nikmat-Nya bagi kita ternyata tak terhingga.

Dunia yang terus-menerus direguk, bagaikan air laut yang senantiasa diteguk. Makin rakus meminumnya, makin hauslah kita dibuatnya. Makin terbuai kita dalam menikmati dunia, makin tamaklah kita dibuatnya. Ada suatu masa di mana kenikmatan dunia tak terasa. Akan datang hari di mana kesengsaraan dunia dirasakan.

Kelak, pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling senang hidupnya di dunia dari kalangan penghuni neraka. Kemudian ia dicelupkan ke neraka sekali celup, lalu dikatakan padanya, “Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesenangan ketika di dunia dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rabb-ku.” Lalu didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia dari kalangan penghuni surga. Kemudian ia dicelupkan ke surga sekali celup, lalu dikatakan padanya, “Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesusahan atau penderitaan ketika di dunia dahulu?” Ia menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan kesusahan atau penderitaan sedikit pun.” (HR. Muslim)

“Sungguh aku benar-benar dapat mengenali kecintaan seseorang terhadap dunia dari cara penghormatannya kepada ahli dunia.” (Sufyan ats-Tsauri)

Tiga Hal yang Boleh Dibandingkan
Kalau kita masih suka membandingkan diri dengan orang lain terkait harta, gelar, gaji, kedudukan, maka jangan pernah bermimpi untuk bahagia. Sebab, kebahagiaan hanya hadir saat kita mensyukuri karunia Tuhan, menikmati hidup, tanpa mengukurnya dari persepsi orang lain.

Hanya tiga hal yang boleh dibandingkan dengan orang lain:
  • Tekunnya ibadah
  • Besarnya manfaat
  • Dalamnya ilmu.

Jika ada yang lebih tekun ibadahnya, lebih luas manfaatnya, dan lebih dalam ilmunya, maka berlombalah dengannya. Jika ada orang yang lebih ikhlas pengabdiannya pada Tuhan, lebih hebat kontribusinya pada sesama, dan lebih semangat dalam menimba bermacam pengetahuan, maka putuskan untuk berkompetisi dengannya. Jangan mau ketinggalan dengan orang itu. Saingi mereka. Irilah pada mereka. Karena rasa iri kepada orang baik, adalah sebuah keutamaan.

Selain tihal hal itu, syukuri yang telah kita peroleh. Nikmatilah hidup. Semoga dengan cara ini Allah membahagiakan jiwa kita. Terlalu berambisi mengumpulkan dunia dan terus-menerus membandingkan dengan perolehan orang lain hanyalah akan memperbudak diri dalam keserakahan. Tidak mau kalah dengan orang yang lebih banyak hartanya, lebih tinggi pangkatnya, lebih cemerlang kariernya, lebih tinggi popularitasnya, lebih hebat kekuasaannya, hanyalah akan menyita usia kita dalam ketamakan yang tak berujung. Jangan pernah bercita meraih ketenangan dan kebahagiaan hidup ketika kita masih suka menempatkan kebahagiaan kita di bawah bayang-bayang keberhasilan orang lain.

Yang kita butuhkan bukan harta, bukan jabatan, bukan popularitas. Untuk tetap merasakan kebahagiaan d dunia yang sudah carut marut ini, yang lebih kita butuhkan adalah kedekatan dengan Tuhan. Segala kekurangan yang justru membuatmu lebih dekat dengan Tuhan, hakikatnya adalah anugerah. Segala keberlimpahan yang justru membuatmu jauh dari Tuhan, hakikatnya adalah musibah. Masalah terbesar dalam hidup bukanlah kekurangan harta atau kehilangan kehormatan di hadapan sesama. Masalah terbesar adalah di saat cinta Tuhan tak lagi singgah pada diri kita.

Dengan sindiran yang cukup telak, Buya Hamka pernah menasehatkan, “Kalau hidup sekadar hidup, babi hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.” Dengan perumpaan babi hutan dan kera, Buya Hamka seolah menuturkan, bahwa jika kualitas hidup kita hanya sekadar menjalani hidup mangalir tanpa punya makna, maka apalah beda kita dengan babi hutan yang selama ini kita rendahkan. Jika tiap hari kita bekerja dan bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa ada tujuan yang lebih tinggi, apalah beda kita dengan kera yang tiap hari juga bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Hidup bukan sekadar untuk makan, dan makan bukan hanya sekadar untuk hidup. Kita tercipta sebagai makhluk sempurna, yang oleh Allah diamanahi tugas mulia sebagai khalifah di muka bumi. Ini adalah tugas besar yang hanya mampu diemban oleh manusia. Jadikan hidup ini sebagai perjalanan panjang untuk menjadi pemakmur bumi. Kita hidup untuk mempersembahkan pangabdian terbaik kita pada-Nya, kita menebar seluas mungkin manfaat bagi sesama, dan menjadikannya sebagai bekal untuk menempuh perjalanan yang lebih hakiki. Yakni perjalanan menuju kehidupan yang abadi.

(Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk || Ahmad Rifa’i Rif’an : 17-21)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0