RSS

HATI ASET BERHARGA




Secara umum, manusia memiliki tiga potensi penting. Potensi pertama adalah potensi fisik. Jika potensi ini mampu dikelola dengan baik, insya Allah, kita akan menjadi manusia yang kuat dan produktif. Bahkan, Islam sangat menganjurkan agar kita memiliki fisik yang hebat. Al-mu’minul qawiyu, mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.
Dalam catatan sejarah, sampai usia lanjut Nabi Muhammad saw. memiliki tubuh yang tetap prima. Beliau memulai peperangan pada usia 53 tahun. Tentu saja, perang zaman dulu bukan seperti perang zaman sekarang. Ketika itu Rasulullah saw. memakai baju besi hingga dua lapis dan mengarungi padang pasir sejauh ratusan kilometer. Itu artinya, fisik beliau benar-benar prima.
Akan tetapi, ternyata tidak selamanya orang berfisik baik itu mulia sebagaimana kemuliaan Rasulullah. Bahkan, tidak jarang manusia yang berbadan bagus malah menjadi hina akibat keindahan fisiknya. Wanita bertubuh bagus tidak identik sebagai wanita yang mulia, malah tidak sedikit wanita berbadan bagus menjadi turun derajatnya karena dia gemar memamerkan tubuhnya.
Di sisi lain, ada juga orang yang gara-gara badannya bagus menjadi stress karena takut jadi tidak bagus. Setiap hati waktunya habis untuk memikirkan badannya. Ikut senam, diet, dan membeli bermacam-macam obat supaya tubuhnya tetap bagus. Secara tisak langsung, orang seperti ini justru tersiksa dengan keindahan tubuhnya. Sekali lagi, kita memang harus meningkatkan potensi fisik, namun potensi ini tidak identik dengan kemuliaan seseorang jika tidak mampu menjaganya dengan hati-hati.
Potensi kedua adalah akal. Kita dikaruniai akal oleh Allah dan akal inilah yang memberdakan kita dan makhluk Allah lainnya. Dengan akal, kita dapat memikirkan ayat-ayat Allah di alam ini sehingga kita dapat mengelola serta mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Kendati demikian, potensi akal juga bukanlah potensi yang dapat menentukan mulia atau tidaknya seorang manusia. Di Indonesia ini begitu banyak orang yang pintar, tapi mengapa Indonesia masih juga terpuruk? Setiap tahun puluhan ribu sarjana dikeluarkan oleh kampus-kampus ternama. Tapi mengapa korupsi masih juga merajalela.
Rasanya, kecil kemungkinan kalau korupsi itu dilakukan oleh orang yang bodoh. Bagaimana tidak? Uang Negara, uang rakyat yang dikuras jumlahnya bukan hanya dalam bilangan jutaan atau milyaran, tapi juga triliunan rupiah. Kalau orang bodoh rasanya dia tidak akan kuat berpikir jauh-jauh seperti itu. Artinya pintar tidak identik dengan kemuliaan. Jika tidak hati-hati, mempunyai anak pintar juga tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ada yang anaknya pintar, sementara orang tuanya cuma lulusan SD atau SMP, malah jadi menghina orang tuanya.
Demikianlah memang, badan yang kuat tidak selalu menggambarkan kemuliaan, akal pikiran yang pintar juga tidak selalu membuat orang menjadi mulia. Jadi, apa sih yang bisa membuat orang mulia?
Inilah potensi ketiga yang ada pada diri manusia yang tidak setiap orang mampu menjaga serta mengembangkannya. Dialah yang dinamakan hati atau qolbu. Hati inilah potensi yang bisa melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia. Dengan hati yang hidup inilah orang lumpuh pun bisa menjadi mulia, orang yang tidak begitu cerdas pun dapat menjadi mulia.
Ada sebuah syair yang sangat brilian. Mungkin syair ini bisa menggambarkan betapa hati sangat memperngaruhi hidup seseorang.
“Bila hati kian bersih, pikiran pun selalu jernih, semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih, tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlak pun kian terpuruk, dia jadi makhluk terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang, tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit.”
Masya Allah, andaikata hati kian bersih, tentu akan nikmat sekali menjalani hidup ini. Kalau hati kita kian bersih dan sehat, pikiran pun bisa menjadi cerdas. Mengapa? Karena tidak ada waktu untuk berpikir licik, dengki, atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Sebab, kalau tidak hati-hati benar maka hidup kita itu sangat melelahkan. Sekali saja kita tidak suka kepada seseorang, maka lambat laun kebencian itu akan memakan waktu, produktivitas, dan memakan kebahagiaan kita. Kita akan lelah memikirkan orang yang kita benci.
Karenanya bila hati kita bersih, pikiran bisa menjadi jernih. Tidak ada waktu buat iri, semua input akan masuk dengan mudah, karena tidak ada ruang untuk meremehkan siapa pun. Akibatnya kita akan memiliki akses data yang sangat tinggi, akses informasi yang benar-benar melimpah, akses ilmu yang benar-benar meluas, ujungnya akan mampu mengambil ide-ide yang cemerlang dan gagasan-gagasan yang jitu.
Berbeda dengan orang yang sombong, dia akan merasa bahwa dirinyalah yang paling tahu semua hal. Akibatnya, dia tidak pernah mau mendengar masukan dari orang lain. Padahal, setiap orang tentu memiliki kelemahan. Dan, untuk memperbaiki kelemahan itulah, kita membutuhkan koreksi dan masukan dari orang lain.
Dengan kebersihan hati, insya Allah, otak akan lebih cerdas, ide lebih brilian, gagasan lebih cemerlang. Orang yang bersih hati itu punya kemampuan berpikir lebih cepat daripada orang lain. Namun orang yang kotor hatinya, cuma akan berjalan di tempat. Dia akan sibuk memikirkan kekurangan orang lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah kejelekan orang. Hatinya akan menjadi sempit.
Coba perhatikan, jika ada anjing, kerbau, atau ada ular, di lapangan yang sangat luas, tentunya relative tidak akan menjadi masalah. Apalagi jika lapangannya teramat sangat luas, sebab ruang untuk bergerak jauh lebih leluasa. Tapi apabila kita sedang di kamar mandi, lalu muncul seekor tikus saja, pasti akan menjadi masalah. Kita tidak akan nyaman, jijik, atau malah ketakutan. Artinya, bagi orang-orang yang berhati sempit, perkara kecil saja bisa menjadi masalah besar, apalagi perkara yang benar-benar besar.
Jika hati bersih maka wajah pun akan memancarkan kecerahan dan penuh keramahan. Bukankah Nabi Muhammad saw. juga demikian? Beliau tidak pernah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan tersenyum cerah. Senyum yang penuh keikhlasan memang sangat bernilai besar, karena selain menjadi sedekah juga akan menyehatkan tubuh. Bahkan, menurut pendapat para ahli, senyum itu hanya menggunakan 17 otot, sedangkan cemberut 32 otot, makanya orang yang sering cemberut akan mengalami kelelahan otot.
Dalam berbicara pun kita harus sangat berhati-hati, sebab tak jarang melalui tutur kata, akan terlihat derajat seseorang. Sebab mulut ini ibarat teko yang mengeluarkan isinya. Jika di dalamnya berisi kopi, tentu yang keluar juga kopi, tapi jika isinya air yang bening pasti akan keluar air yang bening. Orang yang berkualitas itu, jika berbicara ada struktur dan cirinya. Kalau dia berbicara maka yang keluar adalah ide, gagasan, hikmah, solusi, ilmu, dan dzikir, sehingga pembicaraannya senantiasa bermanfaat. Kalau bunyi itu efektif. Semakin banyak omongan sia-sia, maka semakin turun kualitas orang itu. Padahal, cirri-ciri kualitas keislaman seseorang itu dilihat bagaimana kesanggupan menahan diri dari sesuatu yang sia-sia. Kalau kita senantiasa berusaha mengendalikan hati, detak jantung normal, wajah cerah, lisan enak, dan badan sehat.lebih dari itu, bergaul dengan siapa pun akan menyenangkan.
Semoga Allah swt. senantiasa membimbing kita untuk mengenal potensi yang termahal dari hidup kita, yaitu hati kita sendiri. Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan dzikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insya Allah hidup ini menjadi indah dan penuh makna.
Hati adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan. Kita tidak bisa mengatur dan menata hati, kecuali dengan memohon pertolongan Allah agar Dia selalu menjaga hati kita. Hati adalah pangkal kehidupan. Jika Allah memberi kita hati yang bening, kita akan mendapat banyak keuntungan dan bisa menjadi apa saja sesuai dengan keinginan. Bisnis menjadi lancar dan sukses, menjadi pemimpin yang dicintai, suami yang dihormati, ayah yang disegani, menjadi apa pun bisa terwujud jika akhlak kita mulia di sisi Allah. Dan kuncinya adalah qolbun salim, yaitu hati yang selamat; selamat dari kezaliman.
Bahwa kesuksesan dan kemuliaan hanyalah milik orang-orang yang berhati bersih. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 26 - 30)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

DZIKRUL MAUT




Betapa memang hidup di dunia ini hanya sekadar mampir. Tapi saying, banyak orang yang tidak menyadari bahwa kematian itu bisa dating setiap saat. Kematian bisa datang kapan pun tanpa pernah kita menyadarinya. Dia bisa datang saat yang jauh nanti, tapi bisa juga di saat yang dekat. Oleh karena itu, betapa pentingnya kita selalu sadar bahwa detik-detik kita bisa tiba menjadi momen kematian. Mudah-mudahan kita diberikan kemudahan untuk bisa menyikapi detik yang berlalu dengan niat yang benar dan perbuatan yang utama.
Allah swt. berfirman dalam surah al-A’raaf ayat 34, “Dan setiap umat mempunyai batas waktu (ajal), maka apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak akan dapat mengundurkannya sesaat pun dan mereka tidak dapat pula memajukannya”. Demikian pula Rasulullah saw. telah bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat mati, sebab seorang hamba yang banyak mengingat mati, maka Allah akan menghidupkan hatinya dan Allah akan meringankan baginya rasa sakit saat kematian.”
Ada perumpamaan yang baik. Ikan di laut, walaupun airnya asin, tapi tubuh ikan itu tetap tidak menjadi asin, karena ikan itu hidup. Tapi, kalau ikannya sudah mati dan sekujur tubuhnya dilumuri garam, maka daging ikan itu akan menjadi asin. Walaupun maksiat di sana sini, cobaan terus mendera, musibah begitu gencar, tapi kalau hatinya hidup maka dia tidak akan larut dalam maksiat. Tapi kalau hatinya mati, sedikit saja ada godaan, dia sudah terkontaminasi oleh godaan-godaan tersebut.
Rasulullah mengatakan bahwa dzikrul maut (ingat mati) itu adalah salah satu upaya untuk menghidupkan hati kita. Dengan kata lain, orang-orang yang sangat jarang ingat kematian, berpeluang hatinya mengeras, beku! Lalu mati akibat akrab dengan kemaksiatan. Saying, kita terkadangalergi ketika dengar kata kematian. Mengapa? Karena kita terlalu senang dengan perhiasan dunia ini. Lalu kita ketakutan ketika semua perhiasan itu berkurang, rusak atau lenyap dari sisi kita. Padahal kalau mau jujur, dunia ini tidak seberapa. Kita hanya mampir dan mau tidak mau kita pasti mati. Kematian adalah episode yang pasti akan menimpa.
Saya baca dalam majalah, bagaimana suasana para mujahidin berperang di Chechnya dan Afganistan. Ketika begitu gencarnya peluru berseliweran seperti nyamuk, mereka sambil bersembunyi ngobrol biasa saja, seolah-olah cuek dengan situasi bising di luar. Mengapa mereka tidak gentar? Mereka sedemikian berani sebab yakin bahwa setiap peluru itu ada alamatnya. “Peluru” kematian jika sudah datang waktunya, tidak ada yang bisa mengelak.
Banyak di antara kita melihat teman meninggal, sanak saudara wafat, namun hal itu tidak menggugah hati kita. Seharusnya kematian itu bisa menjadi pengingat. Maka ketika Rasulullah saw. ditanya tentang siapa yang paling cerdas? Menurut beliau orang yang paling cerdas itu adalah orang yang paling banyak ingat mati dan yang paling mempersiapkan diri untuk itu. Padahal biasanya istilah cerdas itu lebih dihubungkan denga IQ, gelar, studi, dan lain-lain. Jelas sekali, kita tidak tahu kapan kita akan mati. Orang yang cerdas selalu mempersiapkan diri untuk mati. Niat selalu dijaga agar lurus, ikhtiar selalu dipelihara di atas jalan yang baik. Akibatnya, kapan pun mati nggak ada masalah, yang penting semuanya berakhir dalam husnul khatimah.
Maka, kalau kita mau berangkat ke mana pun harus dengan niat yang benar. Belum tentu kita kembali, nggak ada jaminan bahwa kita akan kembali lagi. Kalau sudah waktunya maut bisa terjadi di mana saja. Mau naik pesawat, kita harus siap bahwa pesawat sekarang banyak yang mendarat tidak pada tempatnya. Di kamar mandi kaki terpeleset geledug, meninggal bisa saja! Lagi nonton badminton, ketika ketawa … jantung berhenti dan mendadak meninggal. Lagi makan bakso kaget, mangkuk tertelan, lalu … mati.
Banyak cara “menjemput” maut. Kita tidak usah takut akan kematian, karena jatahnya tidak akan tertukar. Kalau belum waktunya meninggal, kita tidak akan meninggal. Pergi perang tidak menyebabkan umur kita pendek. Walau kita akan mendatangi ladang-ladang kematian, maka jangan risau tentang kematian. Tapi, risaulah jika bekal kita tidak cukup untuk mati.
Biasa-biasa sajalah menghadapi kematian. Mau tidur, kalau bisa wudhu dulu, tidak ada jaminan besok akan bangun lagi. Daripada ingat utang, ingat musuh, ingat lawan, ingat someone, lebih baik ingat Allah swt.. Tidur dalam keadaan dzikir, kalau pun wafat, insya Allah husnul khatimah. Mau masuk ke diskotik, mikir-mikir dulu, jangan-jangan pas lagi joged mati di diskotik.
Tidak sedikit kita mendengar orang mati di tempat zina. Pernah kita mendengar kakek-kakek berusia 70 tahun berzina dan mati di sana. Sungguh merupakan aib bagi dirinya dan keluarganya. Tidak sedikit kita juga dengar orang yang mati ketika sedang meraup harta haram.
Nabi Muhammad saw. menjelang wafatnya mempunyai uang tujuh dirham dan beliau segera sedekahkan. Kalau kita tidak bisa seperti Nabi, paling tidak ingatlah bahwa hidup itu cuma sekadar mampir. Demi Allah, cuma mampir! Siapa pun pasti mati. Di Afganistan dibom, yang dibom meninggal, pilotnya demi Allah pasti akan mati suatu saat nanti. Cuma masalah waktu saja.
Rasulullah saw. menganjurkan kita semua untuk beramal di dunia dan berdoa untuk akhirat. Kombinasi keduanya sangat tepat. Kita terus bekerja keras mencari dunia untuk bekal pulang. Makin banyak rumah kita dipakai membantu fakir miskin, anak yatim, orang jompo yang tidak punya sanak keluarga, dan lain-lain, insya Allah rumah itu akan berkah. Dan, tiap-tiap apa yang diwakafkan di dunia, maka di akhirat nanti kita akan mendapat balasan dari Allah. Kita perlu mencari dunia untuk bekal mendapat kemuliaan di akhirat.
Jika kita mempunyai rasa cinta kepada Allah, kematian itu mestinya sangat dirindukan. Para mujahidin merasa iri melihat rekan-rekan seperjuangan mereka yang wafat terlebih dahulu. Khalid bin Walid r.a. yang terus berperang merasa sedih karena tidak kunjung dipanggil syahid oleh-Nya. Jika kita merasa takut mati, bisa jadi akibat dosa yang kita punya itu sangat banyak. Bisa jadi dosa kita memang banyak, tapi yang paling memungkinkan kita belum menghayati indahnya momen ketika berjumpa dengan Allah kelak. Makin mantap ma’rifat kita tentang Allah, maka makin siap kita berjumpa dengan-Nya.
Kita berharap hidup ini penuh berkah dari Allah. Sebaliknya, kita selalu siap dengan maut yang akan menjemput. Kalau bisa, di rumah disediakan kain kafan, agar kita selalu ingat akan mati sehingga kita dapat mengisi hidup ini dengan kualitas ibadah yang tinggi. Makin banyak ingat mati, kita makin sadar bahwa dunia ini tidak ada apa-apanya. Kita bekerja keras, tapi itu semua hanya untuk bekal pulang. Jangan takut berpisah di dunia karena di akhirat nanti kita akan dipertemukan, insya Allah.
Kematian di dunia adalah perpisahan sementara, sedangkan kehidupan di akhirat adalah hakikat yang kekal. Oleh karena itu, kita sempurnakan amalan kita agar bisa mendapat keselamatan kapan pun ajal menjemput kita.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 22 - 25)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

RASULULLAH SEBAGAI PANUTAN




“Sungguh pada diri Rasulullah saw. itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu, (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.” (Al – Ahzab : 21)
Sebenarnya, setiap orang dapat menemukan pada diri Nabi Muhammad saw. suatu keteladanan luhur yang akan mengantar mereka memperoleh rahmat Ilahi serta kebahagiaan ukhrawi. Siapa pun dia, baik seorang ayah, suami, anak, negarawan, pemimpin masyarakat maupun militer, semuanya dapat menimba kereladanan dari sumber yang tidak pernah kering ini.
Dalam Al-Quran dijelaskan betapa mulia pribadi Rasulullah. Bahkan perihidup Rasulullah adalah praktek hidup dari nilai-nilai Al-Quran. Keseluruhan perkataan dan perbuatannya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sebagaimana A-Quran akan lestari sepanjang zaman. Tutur kata Rasul serta perbuatannya member ilham bagi perubahan sikap hidup berjuta manusia di dunia.
Kemurahan dan kerendahan hati Nabi saw. sangat menonjol. Keramahan dan kasih saying beliau mencakup semua orang. Rasulullah saw. sangat menyayangi anak-anak. Saat bertemu anak-anak, beliau mengucapkan salam kepada mereka sambil menyapa bahkan menggendongnya. Ketika seorang anak pipis di pangkuan beliau, pengasuhnya merebut sang anak dengan kasar. Maka beliau menegurnya, “Biarkan dia pipis. Ini (sambil menunjuk pakaian beliau yang basah) dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa yang dapat menjernihkan kekeruhan hati anak ini akibat renggutan yang keras?”
Semoga Allah Yang Mahaagung mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk meniru dan mengikuti jejak langkah Rasulullah sebagai insan yang benar-benar telah dipilih oleh Allah menjadi cahaya rahmat bagi alam semesta. Alangkah beruntung jika sosok yang kita idolakan itu adalah puncak kesuksesan dari segala sisi.
Ketika kita berusaha meniti jejak Rasul, maka hal itu adalah kebaikan yang melimpah. Tidak sulit bagi kita mencari tokoh panutan paling brilian. Rasulullah saw. adalah uswatun hasanah, suri teladan yang luhur. Michael H. Hart, dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, menempatkan Nabi Muhammad saw. pada urutan teratas, jauh melampaui tokoh-tokoh dunia lainnya.
Rasulullah saw. juga dianugerahi kesempurnaan lahiriah. Diantaranya seperti penuturuan Hindun binti Abi Halah r.a., sebagai berikut.
“Nabi Muhammad saw. adalah seorang manusia yang sangat anggun, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama di saat sempurnanya. Badannya tinggi sedang. Postur tubuhnya tegap. Rambutnya ikal dan panjang yang tidak melebihi daun telinganya. Warna kulitnya terang. Dahinya luas. Alisnya memanjang halus, bersambung dan indah. Sepotong urat halus membelah kedua alisnya yang akan tampak timbul di saat marahnya. Hidungnya mancung sedikit membengkok, yang di bagian atasnya berkilau cahaya. Janggutnya lebat. Pipinya halus. Matanya hitam. Mulutnya sedang. Giginya putih tersusun rapi. Dadanya bidang dan berbulu ringan. Lehernya putih, bersih, dan kemerah-merahan. Perutnya rata dengan dadanya. Bila berjalan, jalannya cepat laksana orang yang turun dari atas. Bila menoleh, seluruh tubuhnya menoleh. Pandangannya lebih banyak ke arah bumi ketimbang langit yang kebanyakannya merenung. Beliau mengiringi sahabat-sahabatnya di saat berjalan, dan beliau jugalah yang memulai salam.”
Dalam kehidupannya, Rasulullah saw. senantiasa beramal sebelum bicara (bukan sebaliknya). Oleh karena itu, dakwah beliau mempunyai kekuatan ruhiyah yang kuat karena beliau sudah lebih dulu mengamalkan apa yang beliau dakwahkan. Al-Quran mengatakan, “Kabura maqtan indallahi an taqulluna ma laa taf’alun,” ‘Amat besar kebencian di sisi Allah karena kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan’ (ash-Shaff : 2).
Mungkin inilah yang harus kita evaluasi. Kita sering menyebut Islam, sering menyebut keterangan-keterangan Islam, tapi pertanyaannya : apakah sudah dilakukan atau belum? Jika perkataan tidak selaras dengan perbuatan, itu seperti emas imitasi. Tampak mengkilat, tapi sebenarnya murah harganya.
Rasulullah diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak. “Innama buitstu liutammima makaarimal akhlaq,” ‘Bahwasanya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak’. Islam diturunkan oleh Allah bukan hanya untuk satu zaman. Sekarang dianggap zaman modern, tapi kita tidak tahu beberapa puluh tahun kemudian, akan seperti apakah yang disebut modern itu?
Hanya satu hal yang harus diyakini bahwa kebenaran itu selalu aktual. Maka, upaya membangun peradaban ini wajib didahului dengan membangun manusianya. Manusia sampai kiamat tetap manusia. Manusia mempunyai potensi yang tidak dimiliki oleh hewan, yaitu akal pikiran dan hati nurani. Apalah artinya teknologi yang serba modern kalau tingkah manusianya primitif?
Jadi, di zaman apa pun, Islam tetap bisa menjadi solusi. Indonesia terpuruk, bukan karena Islamnya yang salah, tapi karena umat Islamnya belum memahami bagaimana indahnya Islam, bagaimana profesionalnya Islam, bagaimana produktifnya Islam.
Maka jika ingin meniru orang yang sukses, contohlah diri Rasulullah. Jangan sampai kita keliru dalam menetapkan standar kesuksesan, sebab standar itu ternyata tidak selalu identik dengan kemuliaan.
Apabila kita perhatikan, anak-anak kita sering meniru figur-figur tertentu, namun sayangnya figur yang ditiru sering tak mampu memberikan tata-nilai yang baik bagi mereka. Para remaja juga meniru tokoh-tokoh idola tertentu. Padahal figur yang ditirunya malah ada yang mati bunuh diri atau over dosis. Di sisi lain, banyak pula wanita yang meniru mode busana yang serba terbuka, namun akhirnya malah menjatuhkan kehormatan wanita itu sendiri.
Bagi orang-orang yang senantiasa berusaha mencontoh Rasulullah saw. maka di hatinya bergetar, berguncang mengenang keindahan akhlak beliau. Mengenang pada perjuangan beliau, saat berjuang di medan tempur, beliau tidak pernah gentar terhadap lawan. Beliau selalu berdiri di barisan paling depan dan terdekat kepada musuh-musuhnya.
Mengenang kecintaannya kepada kita semua. Mengenang bagaimana kesabarannya. Mengenang bagaimana kegigihannya dalam memperjuangkan dan membela agama. Mengenang bagaimana indahnya ketika beliau bersimpuh sujud kepada Allah, ketika air matanya berderai, di saat kakinya bengkak karena selalu bangun di malam hari. Mengenang bagaimana kerendahan hati beliau, begitu lembut perangainya, begitu ramah, dan tawadhu kepada siapa pun. Begitu terasa jernih wajahnya, begitu menawan dan mempesona senyuman tulusnya, mengenang begitu jernih tutur katanya yang  bersih dari kesia-siaan, tak tersentuh oleh kesombongan, padat dan sarat makna, melimpah dengan hikmah.
Mengenang bahwa beliau seorang yang penyayang kepada istri-istrinya dan belas kasih kepada anak-anaknya. Mengenang betapa harum tubuhnya yang selalu bersih, yang tidak pernah lalai membersihkan dirinya, memotong kuku, juga sampai ke hal-hal yang terkecil. Dialah baginda Rasulullah saw. yang kemuliaannya dipuji para penduduk bumi dan langit.
Dia panutan kita, suri teladan bagi kita. Siapa pun yang mencintainya maka akan dibuktikan dengan kesungguhannya untuk memahami dan mensuriteladani beliau. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada baginda tercinta Rasulullah yang mulia, keluarganya, keturunannya, dan umatnya yang menetapi jejak mereka yang ihsan. Alangkah rugi jika hidup yang sekali-kalinya ini harus diisi dengan kecintaan pada figur-fihur lain yang jauh dari keteladanan akhlak Rasul. Orang-orang yang mencintai Rasul, dia akan meniti jejaknya, serta hidup berjuang membela risalahnya.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 5 – 9)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MERAIH HIDAYAH ALLAH




Pernah ada seseorang yang matanya tertutup, disuruh berjalan, akhirnya menangis. Mengapa? Karena setiap langkahnya penuh dengan keraguan. Ia merasa setiap langkahnya selalu berisiko. Mungkin terpeleset, jatuh dari tangga, kepala terantuk, atau tubuhnya memberntur dinding.
Begitulah kira-kira, kalau kita tidak mendapatkan cahaya dalam hidup ini. Lalu bagaimana hati kita tidak mendapatkan cahaya kebenaran?
Berada di lorong gua yang gelap memang sangat merepotkan. Setiap langkah tidak pernah tentram dan selalu dicekam kecemasan. Begitupun orang yang tidak mendapatkan tuntunan dari Allah. Hidupnya akrab dengan kecemasan. Perasaan yang ada hanya takut. Takut tidak kebagian dunia, takut oleh manusia, takut mati, dan lain-lain. Persis seperti orang yang masuk ke dalam rimba belantara. Walaupun membawa bekal, tapi tidak membawa peta. Bekalnya banyak tapi takut habis, akhirnya dia pun panik.
Orang yang tidak mendapat hidayah dari Allah, hidup di dunia ini terasa lelah, takut, tegang, waswas, cemas, gelisah, dan bingung. Tidak sedikit orang kaya malah menderita dengan kekayaannya. Kekayaan yang melimpah ruah justru semakin membuatnya sengsara, semakin kaya semakin banyak barang yang harus dijaganya. Sementara semakin mahal barang, boleh jadi semakin menyiksa. Takut hilang, biaya perawatan tinggi, mengundang minat pencuri, memunculkan sifat ingin dipuji orang lain, dan sebagainya.
Di sisi lain, ada pula yang menyangka bahwa dengan kedudukan, penampilan, dan gelar maka seseorang akan memperoleh kemuliaan. Dia menganggap kemuliaan itu datang dari gelar.  Akibatnya, dia kasak-kusuk ke sana kemari memburu kedudukan dan gelar. Kuliah tidak, sekolah tidak, tiba-tiba bertitel Mastr, Ph. D, SH. Mati-matian ikut BL (body language), tapi makin lama makin tua, tidak bisa tidak. Meskipun memakai masker mentimun, tomat, dan semacamnya, tetap saja akan menjadi tua, kulit keriput, dan mulai bersisik.
Lalu mengapa orang sampai mau membeli gelar. Membohongi dirinya sendiri? Padahal, semua itu tidak ada artinya kalau dia tidak mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah untuk menjadi orang yang kenal kepada agama. Setinggi apapum gelar atau kedudukannya, setiap manusia pasti akan mati. Pejabat tinggi sekalipun ujung-ujungnya pension lalu mati. Yang jadi masalah adalah akhir pensiunnya, apakah namanya akan harum atau malah menjadi hina gara-gara kedudukannya?
Sinetron baru bagus, kalau para pemainnya membaca, mempelajari, dan menghafal skenarionya dengan baik. Bagaimana akting orang akan sesuai skenarionya, kalau dia tidak pernah mempelajari skenario? Begitupun kita, keluarga pasti berantakan, di sekolah pasti berantakan, di kantor pasti berantakan, bernegara pun berantakan, kalau kita tidak mengenal skenario dari Allah SWT. Dan, skenario tersebut adalah al-Islam, tuntunan agama ini.
Orang yang jauh dari agama, jauh dari Al-Quran, apa pun yang diberikan Allah kepadanya pasti hanya akan membuat dirinya hina. Harta, gelar, pangkat, jabatan, atau penampilan yang diberikan Allah, kalau tidak diiringi dengan ketaatan kepada Allah, pasti akan menyiksa. Hidupnya hiruk-pikuk, rebutan, sikut sana, sikut sini. Tidak peduli aturan, tidak peduli etika.
Kalau kita mendapat hidayah dari Allah, seperti berjalan di terang-benderang. Mantap! Sekalipun barang-barang harganya naik, kita tidak akan takut, karena yakin bahwa Allah Mahatahu apa yang kita butuhkan lebih dari pengetahuan kita sendiri. La khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun, ‘tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati’. Itulah orang yang mendapat hidayah dari Allah, dia tidak pernah panik dengan dunia ini. Tapi, dia akan merasa galau kalau tidak mampu menyempurnakan apa yang bisa dia lakukan.
Jika orang lain takut tidak punya uang, maka orang yang memperoleh hidayah takut kalau tidak punya jujur, takut jika tidak punya syukur, takut tidak punya sabar. Orang bisa takut karena tidak memiliki gelar, padahal yang seharusnya ditakuti adalah ketidakmampuan mempertanggungjawabkan gelar tersebut. Orang takut tidak mempunyai penampilan bagus, justru seharusnya takut jika penampilannya akan membawa fitnah (cobaan). Beda takutnya para pecinta dunia dengan orang yang mendapat hidayah dari Allah SWT..
Dalam Al-Quran surah asy-Syams ayat 8, Allah SWT. Berfirman. “Dan Allah telah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan”. Dengan kata lain, setiap orang sebetulnya sudah diberi fasilitas oleh Allah. Dia mau baik atau buruk bergantung pada kesungguhan dan ketaatannya dalam mengikuti petunjuk Allah.
Lebih lanjut, dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 73, Allah SWT. Berfirman, “Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk yang harus diikuti ialah petunjuk Allah”.
Dari ayat di atas tersirat bahwa kita harus senantiasa mengikuti petunjuk yang Allah gariskan, yakni dengan bersungguh-sungguh mencari hidayah Allah, sebab hanya dengan begitu seseorang akan memperoleh kebaikan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululllah SAW., “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang, maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama”. (HR Bukhari)
Buya Hamka, semoga Allah memuliakan dan merahmati beliau, pernaha menyatakan bahwa hidayah itu seperti pesawat terbang. Kalau landasannya sederhana, yang mendarat adalah helikopter. Jika landasan agak bagus maka bisa didarati pesawat jenis capung. Jika lebih baik lagi mungkin bisa twin otter, lebih mantap lagi oleh cassa, lebih bagus lagi mungkin jumbo jet. Allah telah menyiapkan segalanya untuk kita. Tiap-tiap sesuatu sepadan dengan ketahanan kita. Pertanyaannya adalah kita bersungguh-sungguh merindukan hidayah itu atau tidak?
Sebagai contoh, Cat Steven, seorang penyanyi ternama yang sangat merindukan siapa Tuhan. Dia menjelajah ke sana sini dan mencari terus. Sampai kakaknya memberinya the Holy Quran, Kitab Al-Quran. Di abaca dan pelajari Al-Quran dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya dia tertarik, lalu masuk Islam. Begitulah, setiap orang yang bersungguh-sungguh mencari hidayah Allah, pasti Allah akan memberikan jalan. Sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang berjihad (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat ihsan (baik).” (al-‘Ankabuut : 69) Oleh karena itu, yang menjadi masalah adalah bukan soal hidayahnya, tetapi apakah kita telah bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
Akhirnya, di samping tetap istiqamah dalam meraih hidayah Allah kita pun harus terus memanjatkan doa, “Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika. Rabbanaa laa tuzzigh quluubana ba’da idz hadaitana wahablanaa min ladunka rahmah innaka antal wahhaan,” ‘Wahai Allah yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu. Yaa Rabb, jangan palingkan hati kami sesudah Engkau beri kami petunjuk. Dan karuniakan untuk kami dari sisi-Mu kasih saying. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi’. Semoga Allah yang membolak-balikkan hati menetapkan hati kita pada dinul Islam. Semoga hati kita tidak dipalingkan, dicabut nikmat iman ini, setelah kita memperoleh hidayah Allah.
Langkah paling awal untuk meraih hidayah ini adalah dengan terus mencari ilmu sekuatnya. Tiada hari tanpa mencari ilmu, tiada hari kecuali bertambah amal dan tiada hari kecuali menambah bersih hati kita. Makin banyak ilmu kita, makin produktif dalam beramal, dan makin bening hati kita. Mudah-mudahan dengan ilmu yang diamalkan dan keikhlasan beramal, maka akan menjaga kita dari dicabutnya nikmat Allah yang termahal, yakni hidayah. Amin.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 9 - 13)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0