RSS

PAKSA DIRI BERBUAT TAAT

Mudah-mudahan Allah swt. Yang Maha Mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya, menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yang harus diperbaiki, memberi tahu jalan yang harus ditempuh, dan memberikan karunia berupa semangat yang tidak pernah pudar, sehingga kita tidak dikalahkan oleh kemalasan, tidak dikalahkan oleh kebosanan, dan tidak dikalahkan oleh hawa nafsu.
Mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yang dapat diwariskan kepada keluarga, keturunan, dan lingkungan adalah keindahan akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tidak diukur oleh luasnya ilmu. Keimanan seseorang tidak diukur oleh hebatnya pembicaraan.
Kedudukan di sisi Allah tidak juga diukur oleh kekuatan ibadahnya semata. Tapi semua kemuliaan seorang yang paling benar Islamnya, yang paling baik imannya, yang paling dicintai oleh Allah, yang paling tinggi kedudukannya dalam pandangan Allah dan yang akan menemani Rasulullah saw. ternyata sangat khas, yaitu orang yang paling bertakwa kepada-Nya. Orang yang mulia akhlaknya, taat beribadah, dan ikhlas.
Allah menciptakan jin dan manusia kemudian memerintahkan mereka untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu surga. Jadi kalau kita masuk neraka, naudzubillah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Allah, tapi karena saking gigihnya kita ingin jadi ahli neraka, yaitu dengan banyaknya melakukan perbuatan maksiat dan dosa.
Allah swt. Mahatahu bahwa kita memiliki kecenderungan untuk lebih ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat pada ketaatan. Oleh karena itu, jika kita mendapat perintah dari Allah, dalam bentuk apa pun, si nafsu ada kecenderungan berat untuk melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya.
Misalnya ibadah shalat, kita cenderung ingin melambatkan. Urusan shaf saja, tidak banyak orang yang mau berebutan menempati shaf pertama. Amati saja, justru shaf belakang cenderung lebih banyak diminati. Perintah shalat memang banyak yang melakukan, tetapi belum tentu semua melakukannya tepat waktu. Begitu juga dengan tepat waktu, belum tentu juga bersungguh-sungguh khusyu. Bahkan ada—mungkin salah satunya kita—yang justru melaksanakan shalat dengan pikiran yang melantur, melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan duniawi yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi, kita tidak merasa bersalah karenanya.
Saat menafkahkan rezeki untuk sedekah, si nafsu akan membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rezeki kita, bahkan pada lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tidak punya apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tidak akan mengurangi rezeki, bahkan akan menambah rezeki kita. Namun, karena nafsu tidak suka kepada sedekah, maka jajan justru lebih disukai.
Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk mencari dalih ataupun alasan yang dipandang logis dan rasional. Sehingga apa-apa yang kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana cara kita mengatasi semua kecenderungan negatif ini dari diri kita?
Cara yang paling baik yang harus kita lakukan adalah kegigihan kita melawan kemalasan diri. Kecenderungan malas itu kalau mau diikuti terus-menerus akan tidak ada ujungnya, bahkan akan terus membelit kita menjadi seorang pemalas kelas berat. Na’udzubillah. Berangkat ke masjid, maunya dilambat-lambat, maka harusnya dilawan! Berangkat saja. Ketika terlintas, nanti saja wudhunya di masjid, lawan! Di masjid banyak orang, segera lakukan wudhu di rumah saja! Itu sunnah. Sungguh, orang yang wudhu di rumah lalu bergegas melangkahkan kakinya ke masjid untuk shalat, maka setiap langkahnya adalah penggugur dosa dan pengangkat derajat.
Sampai di masjid, paling nikmat duduk di tempat yang memudahkan dia keluar masjid, bahkan kadangkala tak sungkan untuk menghalangi orang lewat. Terlebih lagi bila memakai sandal bagus, ia akan berusaha sedekat mungkin dengan sandalnya, dengan alasan takut dicuri orang. Begitulah nafsu. Bagi orang yang menginginkan kebaikan, dia akan berusaha agar duduknya tidak menjadi penghalang bagi orang lain. Maka akan dicarinyalah shaf yang paling depan, sebagai shaf yang paling utama.
Sesudah shalat, ketika mau dzikir, kadang terlintas urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka bagi yang tekadnya kurang kuat, ia akan segera ngeloyor pergi, padahal dzikir tidak lebih dari sepuluh menit, ngobrol saja lima belas menit masih dianggap ringan.
Atau ada juga yang sampai pada tahap dzikir, diucapnya berulang-ulang, subhanallah … subhanallah. Tapi, pikiran melayang, entah ke mana saja. Misalnya, dia mengucapkan subhanallah tiga puluh tiga kali, tapi yang mengucapkannya dengan sadar dan penuh konsentrasi hanya satu kali. Atau ingatlah saat kita berdoa. Walaupun dilakukan, namun seringkali doa yang kita lafalkan tidak kita hayati. Padahal, dzikir-dzikir dan doa yang kita ucapkan sebenarnya akan kembali kepada diri kita juga.
Oleh karena itu, bila muncul rasa malas untuk beribadah, itu berarti hawa nafsu berupa malas sedang merasuk menguasai hati. Segeralah lawan dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada, dengan cara segera melakukan ibadah yang dimalaskan tersebut. Sekali lagi, bengun dan lawan! InsyaAllah itu akan membuat kita lebih dekat kepada ketaatan. Janganlah karena kemalasan beribadah yang kita lakukan, menjadikan kita tergolong orang-orang munafik, na’udzubillah.
Firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.” (an-Nisaa’ : 142)
Ingatlah, kalau kita tergoda oleh bisikan hawa nafsu berupa kemalasan dalam beribadah, kita ini sebenarnya sedang menyusahkan diri sendiri, karena semua perintah itu adalah karunia Allah buat kemaslahatan diri kita juga.
Coba perhatikan, Allah menyuruh kita berdzikir, siapa yang mendapat pahala? Kita! Allah menyuruh kita berdoa, lalu doa itu dijabah. Buat siapa? Buat kita. Allah sedikit pun tidak ada kepentingan manfaat atau mudharat terhadap apa-apa yang kita lakukan.
Tepatlah ungkapan seorang ahli hikmah, “Allah mewajibkan kepadamu berbuat taat, padahal yang sebenarnya hanya mewajibkan kepadamu masuk ke dalam surga-Nya (dan tidak mewajibkan apa-apa kepadamu hanya semata-mata supaya masuk ke dalam surga-Nya).” Abul Hasan Ashadilly menasihatkan, “Hendaknya engkau mempunyai satu wirid, yang tidak engkau lupakan selamanya, yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan lebih mencintai Allah swt..”
Maka kalau kita sengsara, kita susah, kita menderita, itu bukan karena siapa-siapa, itu semua karena perbuatan kita sendiri. Padahal sungguh, setiap desah napas yang kita embuskan adalah amanah Allah swt. dan sebagai wadah titipan yang harus kita isi dengan amal-amal kebaikan. Sedangkan hak Ketuhanan tetap berlaku pada tiap detik yang dilalui oleh seorang hamba. Abul Hasan lebih lanjut mengatakan, “Pada tiap waktu ada bagian yang mewajibkan kepadamu terhadap Allah swt. (yaitu beribadah).”
Jadi, sungguh sangat aneh jika kita bercita-cita ingin bahagia, ingin dimudahkan urusan, ingin dimuliakan, tapi justru amal-amal yang kita lakukan ternyata menyiapkan diri kita untuk hidup susah.
Seperti orang bercita-cita masuk surga, tapi amalan-amalan yang dipilih adalah amalan-amalan ahli maksiat. Maka dari itu, “paksalah diri” untuk taat kepada perintah Allah. Mudah-mudahan Allah yang melihat kagigihan kita senantiasa menunjukkan jalan kepada kita yang lebih mudah, lebih ringan, dan lebih ikhlas dalam mengenal serta menunaikan segala perintah-Nya. Amin.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 50 - 54)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MENJAGA PANDANGAN

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al – Israa’ : 36)
Salah satu upaya agar hati kita “hidup” adalah dengan menjaga pandangan. Menjaga pandangan besar pengaruhnya. Ketika seseorang tidak sungguh-sungguh menjaga pandangan, dia akan merasakan pengaruh buruk ke ruhani-nya. Shalat tidak bisa khusyu, munajat tidak nikmat, hati gersang, sering resah-gelisah.
Nabi Muhammad saw. adalah pribadi yang sangat menjaga pandangannya dari setiap sesuatu yang Allah haramkan melihatnya. Beliau menghormati kaum muslimah dengan menjaga pandangan dari melihat mereka secara tidak halal. Betapa pun, kecantikan dan keindahan ada yang lebih berhak untuk menikmatinya, yaitu melalui jalan pernikahan. Rasulullah tidak terbelenggu dengan kecintaan berlebihan pada keindahan dunia. Beliau menempatkan Allah Al-A’laa sebagai cinta tertinggi dan di sanalah ada samudra kenikmatan ruhiyah yang tak bertepi.
Dalam Al-Quran, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (an-Nuur : 30)
Laki-laki yang tidak bisa menahan pandangan, dia akan dibelenggu oleh gelora syahwat sebagai buah dari pandangannya yang tidak halal. Kita dengar sekarang, ada sebagian anak kecil yang sudah berani memperkosa teman-teman wanitanya. Kita berlindung pada Allah dari kekejian seperti ini bagi kita dan anak keturunan kita. Amin.
Mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Ini muncul karena pandangan tidak terjaga. Anak kecil saja, ketika membiarkan matanya liar, dia bisa berbuat tidak senonoh. Terlebih jika kita bicara tentang kelakuan orang-orang dewasa. Mereka bisa berbuat lebih buruk.
Menjaga pandangan, terutama bagi kaum laki-laki, memang sangat tidak mudah. Kita lihat saat ini tidak sedikit tayangan-tayangan atau sajian-sajian media massa yang mudah menggelorakan syahwat. Akibatnya, tidak sedikit laki-laki yang kemudian tegrak nafsunya. Masih mending kalau ia sudah mempunyai istri dan istrinya bisa memahami. Kalau tidak, boleh jadi dia akan mencari sumber yang tidak halal. Otomatis saat itu dia terjerumus ke dalam lembah perzinaan. Na’udzubillah!
Korban dari kejahatan iman seperti ini sudah begitu banyak. Zina itu awalnya dari mata, kemudian timbul keinginan, lalu tidak bisa menahan diri, akhirnya terjadilah apa yang terjadi. Seorang gadis menangis dan seorang pemuda muram durja wajahnya. Mereka tertunduk pahit menyesali diri, sudah melakukan perbuatan keji yang dibenci oleh Penguasa Jagad Raya yang selama ini penuh kasih member mereka rezeki. Namun apa daya, gerak waktu tidak bisa diputar ke belakang.
Dalam perkara menahan pandangan ini, Umar ibnul Khaththab r.a. pernah berkata, “Lebih baik aku berjalan di belakang seekor singa daripada berjalan di belakang wanita.” Wanita bukanlah makhluk yang harus dijauhi, sebab bagaimana mungkin kaum laki-laki hidup tanpa lawan jenisnya. Namun atas mereka, perlu sikap hati-hati.
Nabi Yusuf a.s. ketika melihat Zulaikha yang rupawan, beliau gadhal basher ‘menjaga pandangan’. Dari pandangan itu, beliau tidak terlalu terpengaruh. Tapi ketika sebaliknya, Zulaikha melihat Nabi Yusuf a.s., muncul keinginan syahwatnya yang meledak-ledak.
Menjaga pandangan harus dilakukan dari melihat lawan jenis secara tidak halal. Ini adalah prinsip dasar. Namun lebih dari itu, menjaga pandangan juga perlu dilakukan dari melihat kemilau keindahan barang-barang duniawi.
Terlalu banyak terpana pada barang-barang yang bersifat keduniaan, memang sangat mungkin membuat hati berkecamuk. Apalagi melihat sisi kelebihan milik orang lain : rumah lebih mewah, mobil lebih keren, atau uang yang lebih banyak. Hati bisa habis karena memikirkan hal-hal yang tidak dimiliki daripada menikmati apa-apa yang sudah dimiliki.
Sesuatu makin terlihat, makin bagus, akan makin muncul rasa ingin dalam hati. Keinginan itulah yang akhirnya bisa memperbudak. Tidak terlarang kita punya keinginan, tapi kalau disiksa oleh keinginan, betapa malangnya.
Makin sering jalan-jalan ke mall. Melihat barang-barangnya juga bikin diperbudak.  Tidak usah heran, jika jebolnya ekonomi dalam rumah tangga bukan semata-mata karena kebutuhan, tapi karena diperbudak oleh keinginan. Padahal, umumnya yang kita lihat itu sebetulnya barang-barang sekunder bahkan tersier. Tanpa ada barang itu pun kita tidak akan rugi. Tanpa pakaian yang bagus pun kita tidak akan mati. Hati kita disiksa oleh sesuatu yang sebetulnya tidak kita perlukan. Akhirnya hilang kekhusyuan ibadah, hati kian mengeras, resah, gelisah. Apa sebabnya? Mata.
Oleh karena itu, jika melihat perkara duniawi janganlah sekali-kali melihat ke atas. Kita akan letih. Padahal rezeki yang telah menjadi hak kita itu tidak akan ke mana-mana. Meski mati-matian kita menginginkan sesuatu, kalau Allah tidak member maka tidak akan pernah kita dapatkan.
Untuk menjaga pandangan dari hal-hal negatif, pertama kita harus sadar risiko. Maka kita akan terus terbuai membiarkan mata kita memandang hal-hal yang tidak semestinya. Dari sanalah nikmat iman akan terasa mulai berkurang.
Nah, kalau kita sudah sadar nikmatnya iman itu hilang gara-gara mata, kita harus disiplin untuk menahan segala macam pandangan yang membawa maksiat. Kedua, cobalah perbanyak baca Qur’an atau menafakuri alam ciptaan Allah. Misalnya, menikmati pemandangan di taman atau pegunungan sambil menanamkan kesadaran tentang berapa besarnya kuasa Allah.
Buya Hamka pernah mengatakan, “Tidakkah kamu lihat langit biru dengan awan berarak seputih kapas disulam oleh burung-burung amatlah indah. Atau engkau saksikan lereng bukit teramat indah, atau taman bunga yang aneka warna merekah dengan harum semerbak teramat indah. Atau kamu dengar suara jangkrik bersautan teramat indah. Mengapa hati yang satu-satunya ini harus kita isi dengan kebusukan?”
Mudah-mudahan, lambat laun akan terjadi kesadaran di seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga diri, tidak sampai gagal menjaga pandangan atau jangan sampai membuat orang lain tergelincir pandangannya.
Menjaga pandangan adalah sumber ketenangan batin. Pemuas batin kita adalah Allah dan Dia akan menilai sejauhmana ketaatan kita sehingga layak dianugerahi hati dan jiwa yang tenteram.
Wallahu a’lam.
(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 43 - 46)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MENJADI INSAN PENYABAR



“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang yang saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (al-Ashr : 1 – 3)
Allah swt. yang menguasai tubuh ini mengaruniakan kesehatan lahir batin agar manusia mensyukurinya. Ada kalanya kesehatan yang telah Allah karuniakan tidak disyukuri oleh manusia. Padahal, kesehatan yang tidak disyukuri merupakan kesehatan yang dapat membawa maksiat. Jika Allah memberikan ujian sakit, hadapilah dengan kesabaran. Sebab, ada kalanya orang sakit akan menjadi hina karena ketidaksabaran dan ketidaksyukurannya.
Kata-kata sabar ini adalah kunci dari kedekatan kita kepada Allah. “Dan jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu”. Dalam ayat tersebut, kata sabar ini mempunyai arti penting seperti halnya shalat yang diperintahkan oleh Allah. Malah dalam ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar”. Pahala sabar itu tidak ada batasnya. Perlu kita ketahui bahwa kesuksesan, kemenangan, dan pertolongan hanyalah dari Allah. Keakraban dengan Allah hanyalah milik orang yang sabar. Sudah sepatutnya kita mengevaluasi kualitas kesabaran dengan sangat serius agar kesabaran kita makin mantap.
Definisi sabar secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya manusia secara sungguh-sungguh untuk dapat terus berada di jalan Allah. Salah satu jenis kesabaran adalah sabar menghadapi rasa sakit.
Allah menimpakan berbagai bentuk ujian pada manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satunya adalah sakit. Dengan sabar, kita telah berprasangka baik pada Allah bahwa tubuh yang sedang sakit ini bukanlah milik kita, melainkan milik Allah. Dan, Allah kuasa untuk berbuat apa saja terhadap milik-Nya tanpa bisa dicegah.
Para dokter ahli di bidang kesehatan akan mengalami sakit jika Allah menghendakinya. Tidak peduli mereka gagah, ketahanan tubuh mereka kuat karena sering mengkonsumsi vitamin dan makanan bergizi. Jika Allah berkehendak, maka sakitlah mereka. Oleh karena itu, jika kita mengalami sakit, maka ber-husnuzhan-lah (berbaik sangka) pada Allah.
Kita harus sabar untuk tetap berprasangka baik bahwa Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Sakit yang menimpa tubuh kita sudah pasti diukur oleh Allah dan ukurannya itu tidak akan pernah melampaui kemampuan hamba-Nya. Tidak mungkin Allah memberi kepada kita suatu penyakit yang tidak sanggup kita pikul, karena yang menciptakan saraf sakit adalah Allah.
Jika dalam keadaan sakit, jangan pernah kita mengeluh apalagi kalau mendramatisasi keadaan untuk mendapatkan simpati orang lain. Tidak termasuk sabar orang yang menceritakan rasa sakitnya pada orang lain, apalagi melebih-lebihkannya. Sakitnya adalah panu di kaki, tapi ia mengaduh kesakitan setengah mati dan tak akan berhenti sampai orang lain merasa kasihan padanya. Dengan begitu, ia akan merasa puas karena orang lain ikut merasakan penderitaannya. Demikianlah gambaran orang sakit  yang tidak mempunyai kesabaran.
Cobalah berlatih sabar untuk tidak mendramatisasi keadaan. Boleh saja kita menringis kesakitan, tapi harus proporsional. Jika bisa, tahan sekuat mungkin dan tentu saja diiringi doa agar terhindar dari kufur nikmat. Sudah menjadi sifat manusia, kalau ia mendapatkan kesenangan, biasanya akan jauh dari Allah. Sedikit saja Allah memberikan peringatan melalui sakit, ia baru akan ingat Allah. Padahal, kesenangan dan rasa sakit adalah ujian dari Allah. Keduanya patut disyukuri.
Jadi, syukurilah apa pun yang Allah timpakan pada kita. Jadikan kondisi yang seperti itu ladang amal bagi kita. Dengan berkeluh-kesah, rasa sakit tidak akan hilang. Tapi, jika manusia berusaha untuk mengobati penyakitnya melalui jalan pemeriksaan dokter dan terus berdoa kepada Allah, niscaya sakitnya akan membuatnya menjadi orang sabar di sisi Allah. Dengan kuasa Allah, dzikir bisa dijadikan obat untuk mengubah sakit menjadi suatu kenikmatan.
Rasa sakit yang kita alami jangan dijadikan kesempatan untuk bermanja-manja untuk mendapatkan perhatian lebih dan membebani orang lain. Membebani orang lain bukan merupakan sebuah kebaikan. Sekiranya masih bisa memberikan manfaat bagi orang lain, jangan pernah mengorbankan harga diri dengan membebani orang lain. Lain halnya jika orang lain ingin membantu kita secara sukarela, tidak ada salahnya kita menerima kebaikannya.
Selain sabar menyikapi sakit, kita juga harus sabar dalam menafakuri hikmah. Pikirkanlah, apa hikmah di balik takdir Allah yang kita alami ini. Sesakit apa pun lidah kita karena sariawan, terimalah rasa sakit itu. Siapa tahu itu adalah bentuk peringatan karena kita jarang berdzikir kepada Allah. Sedalam apa pun luka kaki kita akibat paku yang terinjak, anggap saja itu sebagai sentilan Allah karena kaki ini jarang digunakan untuk melangkah ke masjid. Memang yang sedikit apes adalah orang yang sakit gigi, rasa nyerinya sangat terasa, tapi orang jarang mau menengok.
Coba kita renungkan kondisi dunia sekarang. Banyak orang yang menderita akibat kezaliman sebagian orang yang tega berbuat semena-mena terhadap sesama. Akan timbul kesedihan saat melihat para Taliban yang dibius, kepalanya dibungkus, dan mereka ditahan dalam kerangkeng berukuran 2 X 2,5 m. Mereka diestrum dan disiksa habis-habisan jika tidak memberikan keterangan yang diinginkan para eksekutor. Tapi mereka tetap sabar dan tetap memegang keimanannya walaupun penderitaannya melebihi sakit apa pun di dunia ini. Jika kita menafakuri penderitaan mereka dan mengambil hikmah di balik itu, kita juga termasuk orang yang sabar.
Banyak orang lain yang lebih menderita dari kita. Jadi, janganlah kita berkeluh kesah atas takdir yang telah kita terima. Jika jempol kita terkilir, masih ada orang lain yang lebih menderita disebabkan oleh ledakan bom hingga terpisah tangan dari badannya. Jika kita merasa tua, lihatlah orang yang lebih tua dari kita yang membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa berjalan dan disuapi saat makan. Jika kita merasa tubuh ini pendek, lihatlah orang yang memiliki tubuh lebih pendek dari kita. Jadikanlah penderitaan orang lain itu sebagai ladang sabar bagi kita bahwa segala yang telah Allah takdirkan bukan untuk disesali dan tidak layak bagi kita berkeluh-kesah. Tapi bukan berarti, kita merasa puas dengan penderitaan orang lain dan menjadikannya olok-olok. Menafakuri hikmah dari penderitaan orang lain adalah merenungkan penderitaan dengan mencurahkan rasa simpati kita dan memotivasi diri untuk bersabar atas segala penderitaan.
Setelah menafakuri hikmah, kita juga harus bersabar dalam menyempurnakan ikhtiar. Setelah berusaha mencari obat untuk mengurangi rasa sakit, kita harus menyempurnakan dengan cara meminumnya. Tidak peduli pahitnya sepahit brotowali atau buah mengkudu. Banyak orang yang tidak sabar memeriksakan sakitnya ke dokter karena harus mengeluarkan biaya banyak. Padahal, yang memberikan rezeki itu adalah Allah. Berapa pun yang harus keluar dari kantong kita untuk mengobati sakit, jika kita ridha, maka akan menjadi pahala bagi kita. Selain kita mendapat pahala, dosa-dosa yang lainnya juga akan gugur disebabkan oleh kesabaran kita dalam menyikapi rasa sakit dan menyempurnakannya dengan ikhtiar.
Gugurnya dosa kita bagaikan gugurnya daun-daun. Tidak ada yang salah dari suatu penyakit, yang bermasalah itu adalah salah menyikapi penyakit. Kalau seseorang itu ridha pada ketentuan Allah, maka Allah pun akan ridha kepadanya. Sakit itu dapat menggugurkan dosa kita, bagai gugurnya daun-daun, jika kita sabar menerimanya.
Sabar yang terakhir adalah sabar untuk berazam. Jika kita sembuh dari sakit, kita harus mempunyai keinginan kuat untuk memanfaatkan kesembuhan dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai rasa sakit kita jadikan sebagai sarana untuk menyepelekan ibadah. Sebetulnya kita mampu untuk shalat, karena alasan sakit yang dibuat-buat, kita tidak melakukannya. Walaupun dalam keadaan sakit, kita harus mempunyai niat dan keinginan kuat untuk dapat istiqamah menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Dan untuk senantiasa berdoa memohon kebaikan kepada Allah.
Dikatakan dalam sebuah sumber bahwa doa orang sakit itu seperti doa para malaikat. Doakanlah kebaikan bagi diri kita dan orang lain, terutama orang-orang yang telah menyakiti kita agar Allah mengubahnya menjadi orang baik. Berlatihlah menjadi orang sabar dari sekarang. Karena jika malaikat maut sudah menjemput kita, maka tidak ada kesempatan lagi bagi kita untuk beramal baik dan bertobat. Jadi, marilah kita mulai berlatih sabar dari sekarang!
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 38 – 42)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

HIDUP BAHAGIA DENGAN BERSYUKUR




Betapa indahnya karunia Allah berupa lidah dan tenggorokan. Namun saat kita minum sesuatu, terkadang menyebut Alhamdulillah pun sangat kurang mutunya. Nasi yang masuk ke dalam mulut kita, jika tidak kita syukuri maka akan menjadi amal dan akan hilang rasa nikmatnya. Dengan nikmat yang kita terima, sudah selayaknya kita berterima kasih sebagai wujud rasa syukur kepada Allah swt..
Firman Allah dalam surah an-Nisaa’ ayat 147, “Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” Begitupun dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak bersyukur pada Allah siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada sesame manusia.” (al-Hadits)
Banyak hal yang membuat kita tenggelam dalam penderitaan disebabkan karena kita kurang terampil mensyukuri nikmat Allah. Ada sebuah kisah menarik tentang tiga orang yang masuk ke hutan belantara dengan menunggangi kuda yang lengkap dengan perbekalannya. Sementara mereka tertidur lelap, ketiga kudanya kabur. Hal itu diketahui oleh seorang raja yang bijaksana yang sedang berburu di hutan. Lalu sang raja memerintahkan untuk mengirim tiga ekor kuda yang lengkap dengan perbekalannya. Saat mereka tahu kuda mereka hilang dan telah ada gantinya, respons mereka pun berbeda-beda.
Orang pertama merasa senang dan bangga sekali karena kuda yang ada di hadapannya lebih berotot, lebih tinggi, dan lebih banyak bekalnya disbanding kuda sebelumnya. Saking senangnya, sampai-sampai ia lupa bertanya kuda ini milik siapa dan untuk siapa? Lain lagi dengan orang kedua, dia juga merasa senang karena kuda yang ada di hadapannya lebih bagus, tapi ia bertanya tentang pemilik kuda itu dan untuk siapa dia diberikan. Kemudian oran itu pun tahu bahwa kuda tersebut milik raja yang diberikan padanya. Ia merasa senang dan berterima kasih kepada sang raja.
Sedangkan orang ketiga lain lagi, ia tahan perasaan senangnya karena merasa kuda itu bukan miliknya. Ia pun bertanya-tanya tentang ihwal kuda tersebut. Akhirnya, dia tahu bahwa kuda tersebut diberikan sebagai sarana transportasi yang dapat memudahkannya dekat dengan raja. Dia senang bukan semata karena kudanya bagus. Tapi dia senang karena kuda itu, dia juga memiliki sarana yang bisa membuatnya dekat dengan raja. Dan tak ketinggalan, ia pun mengucap syukur.
Manakah di antara ketiga orang tersebut yang paling bagus sikap responsnya? Tentu saja orang yang ketiga, karena nikmat yang telah dia dapatkan membuatnya sanggup mensyukuri karunia nikmat tersebut.
Pada umumnya, ketika manusia mendapatkan kenikmatan berupa kedudukan ataupun harta, ia akan merasa bangga dan pamer sana-sini. Ia tidak memahami bahwa semua itu hanya titipan Allah, bukan miliknya. Tiap hari ia mencuci mobil, tapi untuk berwudhu saja ia tidak sempat. Orang seperti itu masuk ke dalam golongan yang paling rendah. Sepanjang hari dinaungi nikmat yang tiada terputus, tapi nilai kesyukurannya nol!
Ahli syukur yang sejati adalah ketika ia mendapat harta, pangkat, kedudukan, ataupun gelar, ia hanya berpikir bahwa semuanya adalah karunia Allah yang diberikan agar ia lebih dekat kepada-Nya. Dan ia akan menggunakan karunia itu dengan benar agar berbuah berkah di jalan Allah. Inilah tipe ahli syukur.
Selain syukur pada Allah, kita juga harus syukur pada manusia. Tidak disebut seseorang itu sebagai ahli syukur kecuali ia juga syukur kepada manusia. Hati kita yakin bahwa semua yang kita dapatkan merupakan pemberian Allah melalui prosedur tertentu. Anak yang tahu balas budi kepada orang tuanya, maka dia bisa disebut ahli syukur. Barangsiapa yang sangat serius bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Berarti anak yang paling tahu balas budi pada orang tua adalah anak yang paling nikmat hidupnya, karena sikapnya itu Allah akan selalu menambah nikmat-Nya.
Sampai sejauhmana kita bersyukur. Kita seringkali tidak mengenang kebaikan seseorang, apalagi menyebut-nyebut jasa baiknya. Padahal, syukur itu adalah menyebut jasa baik orang lain. Contoh yang konkret ada di rumah dan keluarga kita. Tidak sedikit istri yang melupakan kebaikan suami dan suami yang juga melupakan kebaikan istri. Kadang-kadang yang dilihat hanya kekurangannya saja. Sebenarnya dengan mengenang kebaikan orang, hal ini merupakan salah satu cara kita untuk mensyukuri nikmat Allah.
Orang yang bersyukur karena memiliki keturunan, maka ia mempunyai kewajiban untuk mendidik anak keturunannya itu agar dekat dengan Allah. Sebab, tidak sedikit orang tua yang tercoreng aib gara-gara anaknya sendiri. Sesungguhnya itu bukan salah siapa-siapa, tapi kita harus sering melakukan instrospeksi diri. Bisa jadi coreng aib itu muncul karena di masa-masa sebelumnya, orang tua tidak hati-hati dalam mendidik anak. Instrospeksi diri tidak pernah ada ruginya.
Bagi mereka yang memiliki profesi sebagai guru atau pendidik juga merupakan suatu keberuntungan. Karena hidupnya telah menjadi jalan ilmu bagi orang lain. Bukankah salah satu yang akan jadi cahaya di kubur adalah ilmu yang bermanfaat, selain amal jariah dan anak-anak saleh? Kalau kita jadi guru, jadilah guru yang ikhlas, jangan sampai kita mengharapkan sesuatu dari anak-anak. Sebaliknya, kita harus mampu membekali mereka dengan ilmu untuk masa depannya. Itulah investasi kita di alam kubur. Perkara rezeki itu masalah Allah. Inti menjadi seorang guru adalah mampu menjadi contoh bukan sekadar bekerja mengajar saja. Jangan sampai pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” melekat pada diri kita. Itulah yang paling penting dalam mensyukuri profesi ini, yaitu menjadi suri tauladan dan selalu berjuang mendidik anak-anak agar lebih baik dari diri kita sendiri.
Memperlihatkan nikmat merupakan bagian dari syukur. Misalnya acara syukuran, acara tersebut merupakan salah satu cara kita untuk tahadduts binni’mah ‘menyebut-nyebut nikmat Allah’. Tapi tetap saja kita harus hati-hati agar terhindar dari niat untuk dapat pujian dari orang lain. Luruskan niat karena kita yakin semua nikmat yang kita terima adalah dari Allah dan hanya Allahlah yang patut mendapat pujian. Kalaupun kita mampu mengadakan acara syukuran maka jangan sampai pilih-pilih tamu undangan. Menurut Rasulullah saw., undangan yang tidak berkah adalah undangan yang hanya memilih orang kaya saja dan mengabaikan fakir miskin. Alangkah baiknya kita membagi kenikmatan dengan orang-orang yang berhak menerima dan membutuhkannya agar nikmat itu berkah.
Kita ini seringkali terbalik. Kita buat pesta-pesta syukuran berbiaya tinggi. Orang kaya tertentu, sekali buat acara syukuran, bisa menelan biaya puluhan juta, ratusan juta, bahkan ada yang dalam hitungan miliaran. Masih untung jika pesta itu dihadiri oleh ratusan atau ribuan fakir miskin, anak yatim, kakek nenek jompo, dan lain-lain. Tapi kebanyakan yang dating adalah koleganya sendiri yang sudah pada makmur. Datang dengan mobil-mobil mewah, dengan pakaian dan perhiasan paling eksklusif. Kalau ada satu dua orang fakir hadir di tempat itu, kelihatan seperti orang asing yang penuh derita. Orang-orang makmur itu dalam pesta hanya makan sedikit. Banyak makanan di piring yang dibuang-buang. Padahal di mata fakir miskin, makanan itu sangat dirindukan. Inilah tanda ketika syukuran kita hilang berkahnya.
Bagi orang yang tidak bisa dan tidak mau bersyukur, Allah menjanjikan akan mengubah nikmat yang mereka terima menjadi azab yang pedih. Orang yang tidak pernah bersyukur termasuk pada golongan orang-orang yang kufur nikmat. Sudah jelas bahwa Allah akan menutup pintu rezeki bagi orang-orang yang kufur nikmat. Jika pintu rezeki sudah ditutup, mereka tidak akan pernah merasakan ketentraman dan kenikmatan hidup di dunia ini maupun kelak di akhirat.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 34 – 38)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0