RSS

RAHASIA MENGATASI DENGKI

Terbebas dari penyakit dengki, pentingkah? D-E-N-G-K-I, penyakit enam huruf ini menyerang tubuh bagian dalam, tepatnya adalah hati. Penyakit ini mampu mengancurkan hidup seseorang. Bahkan, bangsa dan negara tak bisa berkutik jika para pemimpin digerogoti penyakit ini. Ia akan menyerang siapa pun tanpa pandang bulu.
Kedengkian ini biasanya timbul dalam kelompok-kelompok. Seorang pelajar dengki pada teman yang lebih mujur darinya. Seorang artis dengki terhadap teman seprofesi, sebab ia kalah terkenal. Dan, ibu rumah tangga seperti biasanya merasa dengki pada tetangga yang lebih kaya darinya.
Kedengkian adalah perasaan seseorang yang mengharapkan lenyapnya nikmat dari orang yang didengki. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (an-Nisaa’ : 32) Kedengkian seseorang akan memakan kebaikan yang telah ia kerjakan sebagaimana api membakar kayu sampai menjadi abu.
Dengki terhadap seseorang jika hanya selintas dan masih dalam batas-batas kewajaran, itu manusiawi. Jiwa manusia terdiri dari unsur positif dan negative. Unsur negatif jika dipelihara dan dimanjakan akan sangat potensial menimbulkan masalah serius. Lain halnya jika unsur positif yang lebih diutamakan, maka beragam penyakit hati tak akan mampu mengoyaknya.
Saat kita dengki terhadap seseorang, biasanya kita enggan melihat wajahnya, mendengar suaranya, menyebut namanya, berdekatan dengannya, bahkan kita akan memilih untuk segera menghancurkannya. Ekspresi muka seorang pendengki lebih banyak masam daripada manisnya. Tutur kata pendengki lebih banyak menghina, mencela, dan menjatuhkan. Ia tidak tahan melihat orang lain mendapat pujian. Ia akan berusaha mati-matian untuk mengaburkan pujian-pujian itu dengan sangkalan-sangkalan yang secara “kreatif” ia buat.
Ketika ada seorang ibu yang membeli satu kilo daging dan si pendengki hanya membeli tempe, maka ia akan mengeluarkan jurusnya untuk menjatuhkan saingan. Ia akan meyakinkan bahwa membeli daging itu berbahaya sebab daging banyak mengandung kolesterol. Sebaliknya, dia memuji-muji tempe sebagai makanan yang sehat dan kaya protein. Pendengki akan terus mengeluarkan alasannya sampai ia puas untuk menutupi ketidakmampuannya membeli barang yang harganya selangit. Ia akan selalu memberi komentar-komentar pedas terhadap perilaku orang lain. Mulutnya tak akan berhenti berbicara sebelum berhasil mencemarkan nama baik orang lain. Na’udzubillah.
Sebetulnya, penyakit dengki ini mudah dideteksi. Cirinya sederhana, yaitu adanya perasaan senang dalam diri kita melihat penderitaan orang lain dan perasaan sedih saat orang lain lebih sukses. Selain dapat dideteksi, dengki dapat juga diukur. Caranya adalah dengan merenungkan seberapa banyak kebahagiaan yang kita dapat saat melihat orang lain susah dan berapa banyak pula penderitaan kita rasakan saat melihat orang lain senang.
Otak pendengki akan terus berputar memikirkan cara-cara yang tepat untuk memperburuk citra orang lain. Ia berusaha memutarbalikkan fakta. Ia terus menggali keburukan-keburukan di balik kesuksesan orang lain. Ia merasa tersiksa saat melihat orang lain sukses. Ia tidak rela orang lain mendapat limpahan nikmat, sedang ia tidak. Sebaliknya, ia akan tertawa terbahak-bahak saat tahu bahwa orang lain mengalami penderitaan seperti yang dialaminya. Bahkan, ia akan bertepuk tangan jika seseorang lebih terpuruk darinya.
Akhlak pendengki itu buruk sekali. Ia tidak akan produktif, sebab sepanjang waktu disibukkan oleh pikiran-pikiran untuk menjatuhkan orang lain. Waktunya habis digunakan untuk menyikut teman-temannya. Jika hati sudah sebusuk itu, pikirannya akan kacau dan perilakunya nista.
Dengki bisa timbul karena ujub (bangga diri), merasa dirinya paling hebat dan tidak mau ada saingan. Ia ingin semua orang hanya menghormatinya. Saat ada orang baru yang lebih pintar dan muda darinya, ia akan merasa terancam dan tidak dapat menerima kehadirannya. Permusuhan, kebencian, kesombongan, kekikiran, dan cinta yang berlebihan pada posisi empuk akan menggiring seseorang pada kedengkian yang mendalam. Hatinya menjadi busuk sekali karena digerogoti penyakit ini.
Pendengki yang sudah sampai pada tahap kritis adalah pendengki yang takabur. Ia selalu merendahkan orang lain. Orang takabur tak akan rela jika ada orang tidak menuruti perintahnya, apalagi jika orang itu adalah bawahannya sendiri. Kepalanya akan semakin membesar dan panas, sedang hatinya menjadi keras dan menghitam.
Pendengki yang takabur ingin selalu terlihat paling hebat. Keinginan untuk selalu berada di posisi nomor satu dalam berprestasi, itu wajar saja. Akan tetapi, menjadi tidak wajar jika seseorang berambisi harus menjadi nomor satu dalam segala hal. Apalagi itu dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Orang ambisius seperti itu potensial sekali menjadi pendengki.
Dan ada pendengki sejati, yaitu si busuk hati. Pekerjaannya adalah dengki pada siapa saja dalam segala kondisi. Semua masalah yang ada di dunia ini akan disikapi dengann kedengkian yang mendalam walaupun itu tidak ada hubungan dengannya. Ia akan menggerutu terus saat melihat kondisi jalan berlobang-lobang di tengah kota. Tak ketinggalan, seribu sumpah serapah ia tumpahkan saat mengutuk pejabat setempat. Saat diberi makanan, ia akan mencelanya dengan alasan kurang asin atau kurang manis.
Kalau dalam dunia teknologi, orang seperti itu sedang mengalami error berat layaknya sebuah komputer, saat mengalami error, pemilik akan segera memasukkannya ke bengkel komputer untuk diperbaiki. Demikian juga, sudah saatnya bagi pendengki yang satu ini masuk “bengkel hati” untuk diterapi agar terbebas dari penyakit error hati yang sangat membahayakan dan menghalangi seseorang masuk surga itu.
Kedengkian mengakibatkan kerugian besar bagi seseorang. Hari-harinya akan diliputi kegelisahan. Tidur tak nyenyak dan makan pun tak enak, sebab otaknya dipenuhi pikiran-pikiran negatif. Penyakitnya tak akan hilang kecuali jika ia berusaha mencari obat untuk kesembuhan hatinya. Rahasia dari kesembuhan itu sebenarnya hanya dua, yaitu ilmu dan riyadhah ‘latihan’.
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentan keyakinan. Keyakinan yang kuat harus kita miliki untuk menghindari penyakit dengki. Kita harus yakin bahwa hanya Allah yang mampu mengatur pemberian rezeki pada hamba-Nya. Allah membagikan apa  pun sesuai keinginan-Nya, sebab Dialah yang telah menciptakan seluruh alam dan isinya. Kedengkian kita kepada seseorang tak akan mengubah ketentuan Allah pada hamba-hamba-Nya.
Terapi lainnya adalah latihan untuk mengatasi kedengkian. Kita belajar untuk mengakui bahwa orang lain sukses dan lebih baik dari kita. Sering-seringlah hati kita dilatih untuk meringankan kedengkian dengan memberi pujian pada orang lain didasari oleh niat ikhlas. Setelah itu, tempatkanlah diri kita untuk menjadi bagian dari kesuksesan orang lain dan iringilah hal itu dengan doa. Balaslah perbuatan orang lain dengan sikap kita yang lebih baik. Dengan demikian, hati kita akan terbebas dari segala kedengkian.
Pentingnya artinya kita terbebas dari penyakit ini agar amalan kita di dunia menjadi ama saleh yang bisa dijadikan bekal pulang ke akhirat kelak. Ingatlah, kita hanya sekadar mampir sebentar di dunia ini. Oleh karena itu, janganlah kita terpesona dengan kenikmatan dunia yang hanya sesaat. Hidup kita hanya sekali, maka hiduplah secara berarti!
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 108 - 112)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MENGOPTIMALKAN DAYA UBAH

Mengubah perilaku ternyata tidak cukup hanya dengan contoh, akan tetapi kita juga harus mau mendidik, melatih, dan membina secara sistematis, berkesinambungan, dan terus-menerus. Seorang pemimpin haruslah memiliki kesabaran dalam mendidik, membimbing, melatih, dan membina yang dipimpinnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, dia harus memiliki kesabaran pangkat tiga. Sabar, sabar, dan sabar. Sungguh, proses itu adalah bagian dari perubahan, pepatah mengatakan “ala bisa karena biasa”. Karenanya, daripada memberli barang-barang di rumah yang mahal-mahal dan tidak terlalu diperlukan, lebih baik uangnya digunakan untuk mendidik anak, melatih anak kita supaya mampu hidup lebih baik.
Sebuah ilustrasi, suatu waktu ada sebuah keluarga sederhana yang sungguh sangat mengesankan. Di rumahnya tidak banyak barang berharga, tidak ada barang mewah, tapi semua anak-anaknya ternyata bisa menyelesaikan kuliah S-1, S-2, bahkan S-3 dengan baik. Akhlaknya juga bagus.
Ketika ditanya, “Saya lihat penghasilan Bapak lebih dari cukup, tapi mengapa keluarga Bapak tampak begitu sederhana?” Si bapak ini menjawab terus terang, “Penghasilan yang saya dapat selama ini saya kumpulkan supaya anak-anak saya bisa belajar terus-menerus, bisa berlatih terus-menerus, dan bisa terdidik terus-menerus. Prioritas keluarga kami bukan membeli barang-barang yang bagus. Yang terpenting adalah bagaimana agar anak-anak kami mempunyai kesempatan untuk terus melatih diri.”
Subhanallah, demikian indahnya kebersamaan sebuah keluarga yang memiliki komitmen yang luar biasa akan penambahan ilmu pengetahuan. Sambil mendidik dan melatih maka semestinya kita buat pula aturan atau sistem. Buatlah aturan di rumah kita, di kantor kita, di organisasi kita, atau di mana pun agar orang lain bisa terbantu untuk berubah sesuai yang diinginkan.
Suatu sistem akan segera hancur berantakan jika tidak memiliki aturan main. Jalan raya yang tanpa aturan, akan kacau balau, macet di mana-mana. Setiap orang berebutan, saling mendahului, dan berhenti di mana saja. Tanpa aturan, semua berantakan. Karenanya, semua harus ada aturannya.
Begitu juga rumah tangga yang tidak memiliki aturan main yang benar, yakin sekali rumah tangga yang semacam ini akan segera hancur. Anak  tidak terdidik agama secara serius, ibadah dibiarkan semaunya, dan tidak diberi contoh yang benar oleh orang tuanya. Saat-saat bersama di rumah tidak ada aturannya. Tidak mempunyai aturan yang riil bagaimana mendidik anak menjadi lebih baik. Karenanya, rumah tangga yang tidak mempunyai komitmen untuk sebuah aturan bahkan lagi tidak tahu aturan, akan cenderung saling menyakiti, saling melukai, dan saling menghancurkan.
Tegakkanlah aturan yang adil, yang dibuat atas kesepakatan bersama. Lingkungan kerja kita harus merupakan sistem yang kondusif yang dapat membantu orang berubah menjadi lebih baik. Haruslah terjadwal pukul berapa membaca Al-Quran, pukul berapa bersama memecahkan masalah, pukul berapa bertukar pikiran, pukul berapa harus bersilaturahmi, pukul berapa harus bercengkerama, dan sebagainya. Kita harus membuat aturan yang jelas. Yakinlah bahwa rumah tangga yang tidak punya aturan, tidak punya sistem yang bagus, lambat laun akan berantakan dan menderita.
Semua perubahan ini akan berarti lagi jika didukung oleh kekuatan ruhiyah, yaitu doa. Dan ternyata, orang bisa berubah dengan kekuatann doa. Ingatlah bahwa doa adalah pengubah takdir. Banyak hal yang tidak bisa dilakukan dengan kekuatan fisik, tapi yakinlah bahwa Allah swt. Maha Menguasai, Maha membolak-balik hati setiap hamba-Nya.
Karenanya, luar biasa sekali kekuatan doa ini. Betapa tidak? Rumah tangga yang tidak tegak ibadahnya, rumah tangga yang jauh dari agama, rumah tangga yang tidak menambah ilmu dengan baik, akan segera dipusingkan oleh bergelombangnya masalah yang datang.
Sama saja dengan perusahaan yang karyawannya jarang shalat, aturan tidak ditaati, pimpinan tidak memberi contoh yang baik, bersiap-siaplah untuk segera bangkrut. Kondisi negara kita saat ini pun demikian, kehilangan contoh suri teladan, pendidikan SDM-nya tidak jelas mau dibawa ke mana, sistemnya juga berantakan, dan sebagian lagi, ibadahnya juga semrawut. Jangan heran jika yang kita dapati adalah derita demi derita, kehinaan demi kehinaan. Na’udzubillah.
Karena itu, kekuatan ibadah, kekuatan doa, kekuatan munajat harus menjadi tulang punggung, menjadi senjata untuk mengubah anak-anak juga teman-teman kita menuju arah kebaikan. Tegakkanlah di rumah tangga kita aturan dengan baik, panjatkan pula doa secara terus-menerus, melimpah dari lisan kita. Bantu agar orang lain menjadi lebih baik. Buat aturan yang benar, kondusif, dan pastikan diri kita menjadi contoh. Mudah-mudahan hidup yang cuma sekali-kalinya ini bisa bermanfaat dengan mengubah orang lain menuju kebaikan.
Rasulullah saw. itu meskipun sedikit bicaranya, tapi jadi menumental sampai sekarang dalam bentuk hadits. Hal ini terjadi karena pribadinya sungguh luar biasa. Bermiliar kata terungkap dari pribadinya. Ketulusan beliau dalam mengajak orang lain berbuat lebih baik, membuat pribadi dan kata-katanya tersimpan di hati orang lain. Ingat baik-baik, hati hanya bisa disentuh oleh hati juga, emosional dalam member contoh, emosional dalam mendidik, emosional dalam membuat aturan, emosional dalam bersikap, tidak akan masuk ke hati orang lain, bahkan justru akan membuat hati mereka terluka.
Seharusnya, pribadi kita ini terus-menerus melimpahkan pancaran bagai mata air, menggelegak kasih sayang kita kepada orang lain. Setiap melihat orang yang berlumuran dosa, ada keinginan di hati kita agar orang tersebut bisa bertobat. Melihat orang yang tersesat di jalan Allah, ada keinginan hati ini agar orang tersebut dapat tuntunan supaya selamat dunia dan akhiratnya. Melihat orang yang nakal, ingin hati ini agar dia menjadi saleh. Jangan pernah hidup dalam kebencian dan kedendaman.
Kebencian dan kedendaman dalam membuat contoh, aturan, nasihat, dan pelatihan yang dilakukan, tidak akan berarti apa pun. Sistem pelatihan yang penuh kemarahan semacam ospek, tidak akan berhasil dengan baik kalau para mentornya, para panitianya melakukan segala bentuk kegiatannya dengan penuh kemarahan, angkara murka, tidak jadi suri teladan yang baik. Apa yang diharapkan oleh mahasiswa baru dari para kakak kelasnya kalau mereka berperilaku semacam itu? Tidak ada perubahan kecuali dengan hati yang tulus, suri teladan yang nyata.
Mudah-mudahan kita semua dapat mengevaluasi diri masing-masing. Hidup cuma sekali, kenangan terindah bagi anak-anak kita adalah kepribadian ayah ibunya yang benar-benar mulia. Kenangan terindah bagi masyarakat di sekitar kita adalah kearifan diri kita. Jangan sampai orang sibuk membicarakan contoh keburukan pribadi kita. Na’udzubillah!.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 103 - 107)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MULAI DENGAN MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI

Selama ini bisa jadi kita terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian orang lain. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap sebagai kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki apa yang kita anggap salah.
Banyak yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, ternyata keluarganya “babak belur”, di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.
Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi mengapa mengubah sikap istri saja tidak sanggup? Mungkin salah satu jawabannya adalah karena kita tidak pernah mempunyai waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar, namun kiranya patut direnungkan baik-baik.
Oleh karenanya, cobalah untuk berpikir tentang diri sendiri. Tapi bukankah orang yang memikirkan diri sendiri itu orang yang egois? Memang, pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.
Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun fondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau  fondasinya tidak pernah kita bangun.
Mengubah diri dengan sadar, sebenarnya sama dengan mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.
Di lain pihak, jika seseorang tidak pernah berusaha mengubah dirinya, dia pasti akan sulit dengan perubahan yang secara alamiah terus terjadi setiap hari dalam hidupnya. Sesungguhnya, sebesar apa pun dosa kita, pengampunan Allah lebih besar lagi, selama kita mau bertobat. Dan, salah satu wujud bukti tobat adalah kegigihan untuk memperbaiki diri.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya jika kita menanamkan keyakinan dalam diri kita bahwa “jika saya tidak berubah, saya akan celaka”, “jika saya tidak mengubah diri, saya tidak akan bisa mengubah apa pun atau siapa pun”, dan “jika saya tidak mengubah diri, berarti saya akan menghancurkan hidup saya”.
Selanjutnya, kalau kita mau terjadi perubahan dalam diri sendiri, kita tentunya harus mengetahui apa yang harus diubah. Kuncinya yang pertama adalah kita harus mempunyai keberanian untuk mengetahui kekurangan diri kita sendiri. Dengan keberanian inilah kita akan lebihi mudah dalam mengubah diri. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Keberanian seperti inilah sebenarnya yang menjadi milik orang-orang yang akan sukses sejati.
Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab, itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekalipun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya. Itulah yang luar biasa. Dengan demikian, sejak sekarang milikilah kawan yang bisa menjadi kontributor dalam memberitahukan kekurangan kita, bacalah buku-buku mengenai penyakit hati, dan luangkan waktu untuk mencatat kekurangan diri.
Tahapan selanjutnya adalah riyadhah atau latihan. Dalam latihan harus ada program yang harus kita jalankan, contohnya membuat program harian melenyapkan penyakit hati. Misalnya, sehari shaum ‘puasa’ bicara. Saya hanya mau menyatakan hal yang baik, bermanfaat, dan kata-kata yang terpilih hari ini, besok boleh jadi terserah. Setiap selesai shalat, kembali evaluasi, lalu bertobat, jadi kita bertemu dengan perbaikan setiap waktu. Contoh lainnya adalah kita latihan agar setiap uang yang kita dapat, kita sisihkan untuk amal.
Pilihlah latihan yang isinya bersifat realistis dan lakukan secara bertahap. Terus saja lakukan setiap hari memperbaiki diri, di kantor, dalam mendidik anak, atau di mana pun. Sabarlah dalam memperbaiki diri dan melihat bahwa setiap hari orang dilahirkan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Sangat mungkin memakan waktu bisa satu bulan, dua bulan bahkan bertahun-tahun. Hal yang terpenting adalah kita tetap istiqamah dalam memperbaiki diri. Bukanlah hasil yang terpenting, setiap hasil kita serahkan saja kepada Allah untuk menilai. Yakinlah, apabila orang bersungguh-sungguh  menuju Allah, maka Allah akan lebih bersungguh-sungguh lagi menunjukkan jalan kepada-Nya.
Marilah kita bangkit membangun bangsa ini dimulai dari kita-kita saja dahulu. Benahi diri kita dengan baik sampai kita benar-benar dapat mengontrol diri kita sendiri. Mulai dari mencoba menahan pandangan dengan menundukkan pandangan. Kemudian latih diri kita dalam menahan pendengaran yang menjadikan jauh dari Allah. Menahan mulut jangan mencela, jangan komentar, dan jangan mengeluh. Teruslah kendalikan pendengaran, mulut, dan pandangan.
Kalau kita sudah dapat mengendalikan diri dengan baik, maka ketika berbicara akan terdengar enak, bergaul akan enak. Kita dapat lebih banyak menyelesaikan masalah di mana pun kita berada. Karena sebenarnya, ketika kita menjadi orang tua yang bermasalah, kita akan menghancurkan anak-anak kita, kita jadi bos yang bermasalah, kita akan menghancurkan kantor kita
Jadi walaupun negara benar, kalau kita tidak benar, kita sendirilah yang justru merusaknya. Solusi yang tepat untuk menyehatkan bangsa ini adalah teruslah memperbaiki diri, jangan lewatkan hari tanpa perbaikan, tiada hari tanpa tambah ilmu, tiada hari tanpa riyadhah.
Sebenarnya, sejak saat ini pula kita harus mulai membangun kembali jati diri kita. Apabila selama ini kita mungkin sibuk bersembunyi di balik topeng. Baik itu topeng berupa sorban, jas, gelar, pangkat, make up, kedudukan, jabatan, dan sebagainya. Bukan tidak boleh kita pakai topeng, melainkan kita harus hidup lebih baik daripada topeng yang menempel pada tubuh kita.
Marilah kita belajar berhenti melihat akhlak orang lain, sebelum kita mengawali melihat akhlak diri kita sendiri. Karena kesibukan kita melihat akhlak orang lain tanpa didasari kesanggupan menilai akhlak kita sendiri, bisa jadi itulah yang memperburuk akhlak kita. Marilah kita belajar menahan diri memperbaiki orang lain, sebelum kita gigih sekali memperbaiki diri sendiri. Mengapa? Karena kesibukan kita memperbaiki orang lain tanpa kita memperbaiki diri sendiri sebetulnya tidak akan mengubah orang lain, karena pribadi kita pun tentunya menjadi contoh yang buruk.
Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang lain. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas dan akhirnya seperti bola salju. Sehingga perubahan bergulir semakin besar.
Jadi, kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, sulitnya mengubah istri, jawabannya sebenarnya ada di dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kiai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri kita sendiri seperti apa.
Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara ini gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan yang cepat terasa. Marilah, mulai saat ini kita jadikan perkataan kita semakin halus, sikap kita semakin mulia, etos kerja kita semakin sungguh-sungguh, dan ibadah kita kian tangguh. Semoga dengan begitu kita menjadi contoh perubahan bagi orang-orang dan juga lingkungan sekitar kita.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 99 - 103)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MENGGALI MAKNA KESUKSESAN

Semoga Allah Yang Mahaagung, mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas kesuksesan, karena orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah berhasil dibandingkan mereka yang diuji dengan kesuksesan. Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang tahan ketika menghadapi kemudahan dan kelapangan. Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang hilang kesabaran ketika hartanya melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan gelar yang seringkali dijadikan sebagai alat ukur kesuksesan, dalam prakteknya malah sering membuat orang tergelincir dalam kesesatan dan kekeliruan.
Lantas, apakah sebenarnya makna dari sebuah kesuksesan? Setiap orang bisa jadi memiliki paradigma yang berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai sebuah keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Pada dasarnya, dalam dimensi yang lebih luas, sukses adalah milik semua orang. Akan tetapi, persoalan yang sering terjadi bahwa tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu. Dalam paradigma Islam, kesuksesan memang tidak hanya dilihat dari aspek duniawi, namun juga ukhrawai. Untuk itu, kita butuh suatu sistem atau pola hidup yang memungkinkan kita untuk dapat meraih sukses di dunia sekaligus di akhirat.
Satu hal yang sejak awal harus direnungi bahwa sukses dunia jangan sampai menutup peluang kita untuk meraih sukses akhirat. Justru sukses hakiki adalah saat kita berjumpa dengan Allah nanti. Apalah artinya di dunia dipuji habis-habisan, segala kedudukan digenggam, harta bertumpuk-tumpuk, namun ternyata semua itu tidak ada harganya secuil pun di sisi Allah. Orang yang sukses sebenarnya adalah orang yang berhasil mengenal Allah, berani taat kepada Allah, dan berhasil menjauhi segala larangan-Nya.
Orang yang sukses sejati adalah orang yang terus-menerus berusaha membersihkan hati. Di sisi lain dia terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan pengabdian terbaik, di mana hal itu akan terlihat dari keikhlasan dan kemuliaan akhlaknya. Sukses akhirat akan kita raih ketika sukses dunia yang didapatkan tidak berbenturan dengan rambu-rambu larangan Allah. Betapa bernilai ketika sukses duniawi diperoleh seiring ketaatan kita kepada Allah swt..
Oleh karena itu, jangan pernah merasa sukses saat mendapatkan sesuatu. Kesuksesan kita adalah ketika kita mampu mempersembahkan yang terbaik dari hidup ini untuk kemaslahatan manusia. Itulah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Itulah Islam. Begitu pula bila kita menyangka bahwa sukses itu jika kita telah memiliki rumah yang megah dan harta yang banyak. Sementara itu, melihat orang yang tinggal di rumah kontrakan kita anggap sebagai tanda kegagalan. Walhasil, kita justru pontang-panting sekadar untuk memenuhi itu semua. Bahkan, bisa jadi untuk mendapatkan itu akhlak sama sekali tidak kita perhatikan. Na’udzubillahi  min dzalik.
Sebenarnya, siapa pun bisa menjadi orang mulia dan sukses, tak peduli ia seorang pembantu rumah tangga, guru, tukang sayur, atau pejabat pemerintah. Selama orang itu bekerja dengan baik dan benar, taat beribadah, dan akhirnya mulia, dia bisa menjadi orang sukses. Bisa jadi orang yang sukses itu hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Saat bekerja ia melakukannya sepenuh hati. Ia bekerja dengan baik. Dalam pekerjaannya itu ia jaga shalatnya, tidak berkata dusta, dan ia benar-benar menjaga kelakuannya terhadap majikan. Sebaliknya, ada juga majikan yang kasar, ketus, dan juga kaya, namun kekayaannya itu sendiri didapatkan dengan cara yang tidak halal. Bukanlah lebih mulia pembantu daripada majikan yang seperti itu.
Begitupun yang sukses bisa jadi hanya berprofesi sebagai guru SD. Ia tak begitu dikenal. Ke sekolah pun terkadang dengan berjalan kaki. Akan tetapi, dengan tulus ia tetap menjalani profesinya. Bisa jadi ia lebih mulia daripada rektor yang jarang mengenal sujud di hadapan Allah.  Sebab, apalah arti jabatan rektor  tersebut atau gelar profesornya bila tidak memiliki kemampuan mengenal Tuhannya sendiri.
Atau mungkin seorang pedagang sayur. Dia jujur dan tidak pernah mengurangi timbangan. Untungnya juga tidak terlalu banyak. Akan tetapi, ia tetap mulia dalam pandangan Allah. Dibanding pengusaha besar yang sudah licik, suka menyuap, juga serakah. Maka, demi Allah! Kedua-duanya akan sampai kepada kematian. Adapun yang mulia dihadapan-Nya tetap orang yang jujur.
Maka berhati-hatilah, bukan gelar yang membuat baik seseorang. Bukan jabatan yang membuat seseorang terlihat baik. Itu semua hanyalah “topeng”. Semuanya tak ada apa-apanya kalau pribadinya sendiri tidak berkualitas. Oleh karena itu, pantang kita hormat kepada orang yang tidak menjadikan kemuliaannya untuk taat kepada Allah. Entah itu jabatannya sebagai direktur utama sebuah perusahaan, entah ia berpangkat sebagai jenderal, menteri, wakil rakyat, bahkan presiden sekalipun, kalau ia menjadikan pengaruhnya untuk berbuat tidak adil dan berakhlak buruk.
Dalam Al-Quran surah al-Hujuraat ayat 13 dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” Jadi, yang paling mulia bukanlah orang yang paling banyak gelarnya atau orang yang paling kaya dan dianggap paling sukses. Orang mulia dan sukses adalah orang yang berhasil mengenal Allah. Lalu, dia taat pada-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Tegaknya Islam di zaman Rasul saw. juga bukan karena pangkat, kedudukan, dan gelar. Islam tegak karena kemuliaan akhlak kaum muslimin saat itu. Ekonomi Indonesia hancur tidak disebabkan oleh kurangnya orang pintar di negara ini, tapi lebih dominan disebabkan oleh kurangnya orang yang berakhlak mulia. Dunia perpolitikan hancur bukan disebabkan oleh kita yang tidak mengerti politik, tapi lebih disebabkan oleh orang-orang zalim, licik, serakah, dan tidak bermoral.
Kita kembali kepada Al-Quran bahwa orang yang sukses adalah orang yang paling berhasil menata dirinya, menata pikirannya, menata matanya, menata mulutnya sehingga hidup ini ada dijalan yang tepat, yang disukai Allah. Posisi apa saja tidak apa-apa, tidak harus menjadi orang top dalam pandangan manusia, yang penting top dalam pandangan Allah karena tidak mungkin semuanya jadi presiden. Toh tidak mungkin satu negara presiden semuanya. Kalau di sebuah negara presiden semua, ini negara bingung, malah negara yang berpenyakit jiwa. Tidak mungkin kita jenderal semua. Kalau kesuksesan dianggap jenderal maka cuma sedikit orang yang sukses.
Sukses dalam pandangan Allah tidak diukur dalam keadaan gelar, tidak diukur dari penampilan, tidak diukur dari banyaknya jamaah, tidak diukur oleh harta, tetapi adalah berhasil tidak dia taat kepada Allah. Sukses adalah ketika dia mempunyai kedudukan, dia tetap taat, tetap tawadhu, dan berakhlak mulia. Dia popular tapi popularitasnya bisa menjadi figure yang mengajak orang lain taat.
Maka orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah tidak merasa dirinya sukses, kecuali semua ini adalah amanah Allah.
Orang yang sukses adalah orang yang tidak merasa suci dan ingin dipuji. Orang yang sukses adalah orang yang selalu bisa memuji Allah, dan tobat memohon ampun. Dia sadar bahwa apa pun yang diperolehnya adalah amanah. Insya Allah kita songsong saat kematian kita besok lusa dengan mempersembahkan karya terbaik kita dalam kehidupan. Ikhlas karena Allah. Itulah misi kehidupan kita, bukan pengumpul-pengumpul dunia yang akan kita tinggalkan. Dan itulah makna sukses yang sejati.
Wallahu a’lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar || Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qolbu : 95 - 99)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0